Senin, 20 Agustus 2018 02:26 WIB
pmk

Lifestyle

Bicara Kopi dalam Bahasa Isyarat

Redaktur:

CEKATAN-Barista dari Kedai Kopi Tuli sedang meracik si hitam untuk pelanggan disela pembukaan Toffin Coffee Showroom di Pluit, Jakarta Utara, Minggu (15/7) lalu. Foto: DEWI MARYANI/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Memiliki keterbatasan fisik membuat tiga sahabat ini kesulitan mendapat pekerjaan. Ya, Andhika Prakoso, Putri, dan  Trierwinsyah adalah tuna rungu. Ketiganya tuli sejak kecil.

Tapi menjadi difabel tidak menyurutkan semangat mereka untuk semangat menata masa depan. Tidak diterima di pekerjaan, mereka memilih membuka bisnis sendiri.

Melihat kedai kopi terus menjamur di Jakarta, mereka pun memilih membuka kedai kopi bernama Koptul alias Kopi Tuli yang berlokasi di Jalan Krukut Raya no 70 Cinere, Depok. Adhika berharap, melalui kedai kopinya dia bisa memberdayakan para difabel, khususnya tuna rungu agar bisa mandiri.

''Kedai kopi kami ini baru dibuka pada 12 Mei 2018 lalu. Saya berharap, melalui kedai ini, teman-teman tuli bisa memperoleh pekerjaan yang layak,'' ujar Andhika disela pembukaan Toffin Coffee Showroom di Pluit, Jakarta Utara, Minggu (15/7) lalu.

Pemilihan bisnis kopi ini memang bermula dari kecintaan Adhika terhadap kopi. Dia bahkan sempat mengambil kursus singkat untuk belajar meramu dan mengelola bisnis kopi di Toffin.

”Belajar dan dapat mesinnya di Toffin. Satu minggu belajar. Jadi saya belajar mengoperasikan mesin pembuat kopi dan juga bisnisnya. Semua lebih mudah karena saya memang pecinta kopi dan sudah punya basic meramu kopi,'' kata pria berkacamata itu.

Jebolan Universitas Bina Nusantara ini pun mengangkat kopi lokal untuk kedai kopinya.

”Kopinya dari kebun saudara saya sendiri di Papua dan Ciwidey,'' terangnya.

Lelaki berusia 27 tahun ini mengaku, bahwa tak sedikit pelanggan yang bingung saat pertama kali datang. Dia kemudian mensiasatinya dengan menyediakan menu minuman dengan simbol A, B, C, D, E, F, G, H, I untuk mempermudah pengunjung ketika akan memesannya.

Misalnya, ketika Anda ingin memesan Kosu Koso alias Es Kopi Susu, cukup menyebutkan abjad A pada Adhika. ''Kami juga bisa menggunakan kemampuan verbal atau dengan bantuan gestur tangan ketika pengunjung tidak bisa bahasa isyarat,'' imbuhnya.

Makanya, di Kedai Koptul ini pengunjung tak hanya bisa menyeruput kopi yang mereka seduh namun juga mempelajari bahasa isyarat yang digunakannya untuk berkomunikasi sehari-hari. Bahkan di kemasan gelas kopi di gerai ini, bisa mendapati simbol Bisindo beserta abjad yang mewakilinya.

''Salah satu tujuan saya membuat simbol Bisindo itu agar pengunjung ketika minum kopi tuli bisa belajar bahasa isyarat dan bertukar informasi dengan teman-teman tuli lebih mudah,'' katanya. Itu sebabnya desain simbol Bisindo hingga penamaan di Kopi Tuli pun dibuatnya sendiri.

Menurut dia, dunia tuli dan dunia dengar sangat berbeda, sehingga dia berharap simbol Bisindo yang dibubuhkannya di kemasan gelas kopinya bisa membuat dirinya dan pengunjung bertukar banyak informasi. ''Saya melihat pengunjung senang berkumpul dengan teman tuli karena dunia kami sangat berbeda. Ketika mereka menguasai Bisindo kami lebih mudah berbagi informasi,'' bebernya.

Nah, untuk membuat pengunjungnya tidak terpaku dengan layar gawai selama berada di kedai kopi miliknya ini, Adhika sengaja tidak menyediakan wifi. Menurutnya, kedai ini sengaja dibuat agar para pengunjung bisa menciptakan obrolan menarik dengan teman-temannya.

''Jadi di kopi tuli tidak ada wifi agar oran bisa berkomunikasi. Biar bisa ngobrol dan bisa belajar Bisindo,'' tukasnya.

Adhika berharap, bisa melebarkan sayap Koptul di industri kopi. Sehingga bisa membantu lebih banyak lagi teman tuli agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kedai-kopi-tuli 

Berita Terkait

IKLAN