Senin, 20 Agustus 2018 02:30 WIB
pmk

Headline

Silaturahmi Politik Prabowo, Semakin Kuat Sinyal Prabowo Hanya King Maker

Redaktur:

Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto

INDOPOS.CO.ID - Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto yang makin gencar bertemu tokoh-tokoh politik jelang pendaftaran calon di Pilpres 2019, semakin menguatkan isyarat bahwa Prabowo hanya akan menjadi king maker, bukan calon presiden. Jika ia menjadi capres, untuk menentukan cawapres, tentu tak perlu melakukan safari politik tersebut.

“Silatuhami politik ini bisa jadi menunjukkan bahwa Prabowo akan menjadi king maker. Karena kalau sudah niat ingin nyapres, seharusnya Prabowo tidak perlu lagi bertemu dengan kubu ini itu. Langsung saja fight, biar para pendukungnya tidak menganggap Prabowo sedang galau,” kata peneliti Indonesia Public Institute (IPI) Jerry Massie kepada INDOPOS di Jakarta, Jumat (20/7).

Dikatakan,  sikap Prabowo ini berbeda dengan capres petahana Joko Widodo yang konsisten menjalin pertemuan dengan hanya partai pendukungnya saja.  “Hal tersebut berbeda dengan koalisi  Nasdem, PPP, Golkar, PDIP dan Hanura yang sudah paten dan tinggal mengumumkan siapa pendamping Jokowi. Karena Jokowi sudah mengantongi lima nama cawapresnya,” jelas Jerry.

Tercatat ada empat tokoh yang ditemui oleh Prabowo dalam tiga hari.  Pertemuan pertama adalah dengan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj di kantornya, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Senin (16/7). Kemudian pada Selasa (17/7), Prabowo bertemu dengan dua tokoh sekaligus. Tokoh tersebut adalah Ketua DPP PDIP nonaktif Puan Maharani dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

Dari tiga pertemuan itu,  Prabowo menyatakan hal yang sama, bahwa pertemuan tersebut hanya bentuk silaturahmi yang masih berkaitaan dengan suasana Idul Fitri.

Sementara pertemuan terakhir adalah menjenguk Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terbaring sakit di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto pada Rabu (18/7) malam.

Menurut Jerry Massie,  meski menolak menyatakan pertemuan itu terkait pilpres, namun publik tidak bisa dibohongi bahwa Prabowo berupaya menjalin dukungan agar langkahnya menuju kursi RI 1 mendapat dukungan banyak partai.

“Publik sudah pintar dan melek politik. Masak di tahun politik ini masih bicara silaturahmi. Itu hanya bumbu saja. Intinya bagaimana mencari win-win solution yang bisa ditawarkan oleh Prabowo maupun pihak yang dikunjunginya,” tegas  Jerry Massie.

Untuk kunjungan ke SBY dan Zulkifli Hasan, kata Jerry, tentunya Prabowo mencoba mencari dukungan untuk menampung aspirasi elit PAN dan Demokrat yang sejak awal memiliki kadernya yang siap dijadikan sebagai Cawapres.

“Sama sebelumnya, kunjungan ke PKS, kunjungan Prabowo ke ketum PAN dan Ketum Demokrat. Itu tidak lebih hanya untuk terus membicarakan perkembangan politik terkini. Apakah ingin menggandeng kader PKS, yakni Ahmad Heryawan, AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) Demokrat dan Zulkifli dari PAN,” jelas Jerry Massie.

Tetapi karena terlalu banyak manuver, menurut Jerry Massie , justru menjadi tidak optimal.

“Bisa jadi karena terlalu banyak permintaan dari ketiga parpol ini, akan terjadi kebuntuan politik,” terangnya.

Kegelisahan Prabowo dalam menentukan calon wakilnya menurut Jerry Massie, juga terlihat saat mengunjungi Ketum PBNU Said Aqil Siradj dan politisi PDIP Puan Maharani yang notabene ada di barisan pendukung pemerintahan Jokowi.

Atas dasar alasan tersebut, jebolan doctor American Global University ini mengimbau agar Prabowo segera saja mengumumkan calon wakil presidennya agar kekuatan partai koalisi segera terbangun.

“Perlu politik on time bukan in time. Tepat guna, tepat waktu dan sasaran. Jika konsisten bukan tidak mungkin Prabowo menang. Partai internal dan koalisi solid. Baik orang-orang, method (metode) jalan dengan baik, bukan jalan di tempat, money (atau dana pilpres), market share atau tahu pangsa pasar politik serta branding politik jelas maka Prabowo bisa leading,” jelasnya.

Namun dari tiga calon wakil presiden yang mungkin saat ini sedang terbangun, Jerry menduga Prabowo akan memilih wakilnya di antara Demokrat atau PKS.

“Kalau Prabowo - Zulkifli agak berat. Pasalnya periode lalu Prabowo -Hatta atau Gerindra – PAN. Jadi tinggal Gerindra - Demokrat atau Gerindra – PKS,” tambahnya.

Sementara, Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago meyakini Prabowo tidak akan maju dalam Pilpres 2019. Melainkan hanya akan menjadi seorang king maker yang bertarung di balik layar.

Pangi menakar, Prabowo memiliki banyak pertimbangan. Soal logistik, soal beban mental Prabowo yang pernah kalah dua kali dalam Pilpres, hingga soal sisi humanis dan keluarga yang bisa digembosi atau terus diserang lawan politik demi menurunkan elektabilitasnya.

Makanya, kata Pangi, Prabowo jauh lebih terhormat dan disegani apabila mengatur dari belakang layar capres dan cawapres yang kelak diusung. Prabowo pun akan jadi seorang negarawan.

"Tidak perlu Prabowo berdarah-darah dan jadi bemper," ujarnya.

Menurut Pangi, Prabowo ditakdirkan Tuhan menjadi seorang king maker. Ia dianugerahi tangan dingin dan talenta dalam mengatur dan menyiapkan pemimpin.

Prabowo adalah orang yang membawa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Joko Widodo dan Sandiaga Uno memimpin Jakarta. Menurut Pangi, Prabowo akan seperti Megawati Soekarnoputri, SBY dan Jusuf Kalla yang memainkan peran mengatur strategi di belakang layar.

"Tinggal menunggu apakah Prabowo akan memberi kejutan. Apakah beliau pada saat injure time atau last minute akan mengajukan paket capres dan cawapres yang sudah digodok dan disepakati di partai koalisi," tutur Pangi.

Terpisah, pengamat politik Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma) Said Salahudin justru mengingatkan agar Prabowo harus berhati-hati menetapkan cawapresnya.

Saran Said, Prabowo jangan hanya karena berharap PKS, PAN atau Partai Demokrat menjadi teman koalisi, lalu terjebak pada opsi cawapresnya harus dari salah satu partai politik (parpol) itu.

Saat ini, kata Said, keinginan parpol calon koalisi Gerindra untuk menempatkan kadernya sebagai pendamping Prabowo memang sangat beralasan karena adanya faktor presidential effect.

Apalagi dalam pemilu yang menyatukan pemilihan anggota legislatif (pileg) dan pilpres, pemilih cenderung memberikan perhatian lebih pada pertarungan pilpres yang menentukan pucuk pimpinan eksekutif nasional, ketimbang pileg.

"Dalam praktik memilih, masyarakat sebagai pemilik suara memiliki kecenderungan untuk mencoblos partai politik yang mengusung capres-cawapres pilihan mereka," tegas Said kepada INDOPOS.

Jadi, parpol yang kadernya menjadi capres atau cawapres lah yang akan cenderung dicoblos oleh pemilih. Makanya, tidak heran jika dalam pembentukan koalisi parpol sekarang ini, setiap partai politik berusaha keras memasukkan kadernya sebagai capres atau cawapres.

Meski begitu, kata Said, parpol juga perlu melihat target yang lebih besar dari pembentukan koalisi. Yakni mengenyampingkan kader dan lebih mengutamakan peluang menang.

“Target koalisi pastinya ingin menang. Maka masing-masing parpol perlu jujur dalam menakar kans dari masing-masing jagoannya. Atau kalau sekadar mau ikut pilpres, maka nama Ahmad Heryawan, Zulkifli Hasan, dan AHY sebetulnya bisa dengan mudah diputuskan lewat cara undian. Cukup 'gambreng' bertiga antara ketua parpol koalisi, selesai urusan," imbuh Said menambahkan.

Tetapi, bagi pengamat politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Nyarwi Ahmad, roadshow politik Prabowo ke empat tokoh nasional itu telah menempatkan dirinya sebagai posisi yang strategis.

“Yakni bisa jadi play maker atau king maker. Tergantung dari hasil perbincaraan tertutup di antara mereka,” ujarnya.

Sebagai play maker, Prabowo dipastikan menjadi capres dari partai koalisi dengan Gerindra. Sedangkan sebagai king maker, ucap Nyarwi, bisa jadi koalisi Prabowo memilih calon yang paling berpotensial menang.

“Baik play maker maupun king maker itu bisa dilakukan oleh Prabowo jika nanti hanya ada dua poros. Yang terpenting koalisinya bisa menang di Pilpres 2019,” tambahnya. (dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #prabowo-subianto #partai-gerindra #pemilu-2019 #pilpres-2019 

Berita Terkait

IKLAN