Senin, 20 Agustus 2018 02:29 WIB
pmk

Nasional

Kembangkan Inovasi Pertanian, Royalti Tembus Rp 14,7 Miliar

Redaktur:

Muhammad Syakir. Dok INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Pembangunan pertanian berbasis inovasi pembangunan pertanian dewasa ini dihadapkan kepada kendala yang semakin kompleks, baik dari segi teknis di lapangan maupun sosial dan ekonomi. Hal ini tentu perlu segera dipecahkan untuk dapat mewujudkan pembangunan pertanian yang lebih berdampak luas tidak saja pada dukungan produksi tetapi juga untuk kesejahteraan  masyarakat.

Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Kementan Muhammad Syakir mengatakan, pembangunan pertanian memerlukan kebijakan yang mampu menggerakkan sumberdaya untuk mengatasi permasalahan yang sedang dan akan dihadapi. Pembangunan berbasis hasil riset yang aplikatif tentunya akan lebih memudahkan tercapainya cita-cita pembangunan pertanian. Kajian sosial ekonomi dan budaya juga diperlukan untuk implementasi. ”Balitbangtan saat ini telah memasuki usia 44 tahun sejak didirikan. Di sisi lain juga terdapat lembaga penelitian pemerintah lainnya yang melakukan kegiatan riset pertanian seperti LIPI, BPPT, bahkan juga Perguruan Tinggi. Kerja bersama dalam mendukung pembangunan pertanian, hingga mendapatkan hasil-hasil penelitian sampai hilir hingga pada tujuan mensejahterakan petani agar terus diupayakan melalui sinergi yang kuat,” ujarnya.

M Syakir mengatakan, dalam empat tahun Kementerian Pertanian (Kementan) dibawah komando Menteri Pertanian (Mentan) Dr Andi Amran Sulaiman untuk mendukung program kedaulatan pangan yang dicanangkan Presiden Joko Widodo telah terjadi pergeseran yang kuat paradigma pertanian tradisional ke pertanian modern. Dalam periode ini alat mesin pertanian yang digelontorkan kepada petani telah menggeser pola tanam manual ke pola tanam modern. ”Bukti dari derasnya upaya modernisasi yang sudah dilaksanakan adalah dengan menggelontorkan bantuan alat mesin pertanian sebanyak 284.436 unit (naik 2.175 persen). Sejumlah inovasi yang diterapkan berasal dari Balitbangtan, mulai dari teknologi penentuan waktu tanam KATAM, pengelolaan lahan marginal, budidaya/usaha tani yang efektif dan efisien dengan pengolahan lahan, persemaian, penanaman (seperti Tabela, Jajar Legowo/JARWO, Larikan Padi Gogo/LARGO SUPER), pemupukan, pengendalian organisme penggangu tanaman (OPT), serta sistem pengelolaan sumberdaya pertanian terpadu dan terintegrasi (seperti SUP, PTT, SIPT, LEISA, Pertanian-Bioindustri),” jelasnya.

M Syakir menambahkan, untuk teknologi paskapanen telah diterapkan secara masif di lapangan alat grading, berbagai mesin pengolahan, penunda kematangan buah/sayur, dan pengemasan, bahkan dalam 3 tahun terakhir telah dihasilkan 40 prototipe alat mesin pertanian (alsintan). Rekayasa alsintan seperti mesin pengolah lahan, alat tanam (Jarwo Transplanter), alsin panen (Combine harvester), dan alsin pengolahan pascapanen. Hingga Maret 2018 tercatat 319 invensi sudah diajukan paten, dan 148 invensi memperoleh paten granted. Capaian paten granted ini tertinggi dibanding lembaga Litbang Kementerian dan Lembaga lain di Indonesia. ”Selain itu, 500 varietas sudah terdaftar dan 102 diantaranya telah diajukan untuk dilindungi dengan sertifikat Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dan baru 59 sertifikat terbit,” jelasnya.

Untuk komersialisasi, lanjut M. Syakir, sebanyak 103 invensi Balitbang sudah dilisensi oleh 93 mitra swasta maupun BUMN. Selama 3 tahun, royalti yang dihasilkan untuk negara mencapai Rp 14,7 miliar. Royalti tersebut diperoleh dari lisensi alsintan, varietas (padi dan jagung), dan pupuk hayati.

M Syakir mengatakan, arah kebijakan penelitian lembaga ini disusun sejalan kebijakan penelitian dan pembangunan nasional. Artinya arah kebijakan top down diperoleh dari Kementan dengan fokus pada output yang mendukung sasaran strategis Kementan. ”Pada saat yang sama juga diintegrasikan dengan pendekatan bottom-up yang melibatkan Ditjen teknis di lingkup Kementan K/L lain serta pemda/swasta/stakeholder,” ujarnya. (aro)


TOPIK BERITA TERKAIT: #pertanian 

Berita Terkait

Petani Sawit Lampung Surati Jokowi

Nasional

Importir Belum Taati Permentan

Nasional

IKLAN