Minggu, 16 Desember 2018 10:19 WIB

Nusantara

Ditinggal Warga yang Mengungsi, di Lombok Banyak Desa dan Kota "Hantu"

Redaktur: Ali Rahman

bangunan yang runtuh akibat gempa (jpg)

INDOPOS.CO.ID - Saat ini sebagian besar penduduk di Pulau Lombok tak berani menempati rumahnya, meski sebenarnya masih ditinggali. Mereka khawatir melihat fakta gempa susulan masih terus terjadi. Bahkan Kamis siang (9/8/2018) gempa berkekuatan 6,2 Skala Richter yang terjadi membuat warga kembali kocar kacir menyelamatkan diri.

Dilansir dari situs resmi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), yakni www.news.un.org, juru bicara Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah Internasional (The International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies / IFRC) Matthew Cochrane menjelaskan sekitar 80 persen dari bangunan di Pulau Lombok telah rusak atau roboh.

"Sehingga menimbulkan kerusakan parah yang dialami di Lombok Utara dengan jumlah penduduk sebanyak 200.000 orang sejak gempa pertama mengguncang pada 29 Juli. Penyaluran bantuan dasar dan pembangunan tempat pengungsian menjadi kebutuhan utama ribuan orang yang terpaksa mengungsi," kata Matthew..

Ia menambahkan, tim IFRC tidak dapat mencapai desa-desa terpencil. "Kami belum bisa perkirakan seberapa besar dampak kerusakan di sana."

Disampaikannya pula, akibat gempa ini, aliran listrik terputus di beberapa wilayah dan sebagian komunikasi mati. Bahkan tim penyelamat masih berjuang menembus ke daerah-daerah terpencil.

Melihat dampak psikologis yang timbul akibat bencana, menurut Cochrane saat ini di Lombok sejumlah desa dan kota seperti menjadi "desa dan kota hantu" akibat ditinggalkan warganya yang mengungsi.

"Para warga berbondong-bondong meninggalkan rumahnya. Mereka takut tinggal di rumah karena adanya gempa susulan dan prediksi tsunami. Ada ratusan gempa susulan yang terjadi dan kemungkinan korban akan terus bertambah," kata Cochrane.

Ia juga menjelaskan setelah terjadinya gempa bumi, korban-korban mengalami traumatis, dan berusaha keras untuk membedakan antara terjadinya guncangan dari gempa susulan atau kembalinya gempa bumi besar. Contohnya gempa Kamis siang (9/8/2018) berkekuatan 6,2 SR.

"Dukungan psikologis pascabencana sangat diperlukan selain bantuan fisik seperti tempat pengungsian dan bantuan dasar, untuk mengurangi tingkat trauma terhadap masyarakat yang terdampak bencana, khususnya untuk komunitas terpencil," ujarnya.

matthew juga menegaskan bahwa Palang Merah Indonesia (PMI) beroperasi secara cepat tanggap sejak awal.

"Relawan juga memberikan bantuan yang cepat bagi korban detik-detik pertama setelah gempa terjadi (Minggu malam 5/8/2018). Mereka melakukan pencarian, melakukan evakuasi, dan penyelamatan terhadap korban-korban, dan membawa korban terluka ke rumah sakit. Mereka juga melakukan pertolongan pertama untuk warga dan banyak wisatawan asing," pungkasnya. (ind/jpg)

foto bangunan yang runtuh akibat gempa (jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #gempa-lombok #federasi-internasional-perhimpunan-palang-merah-internasional #the-international-federation-of-red-cross-and-red-crescent-societiesifrc #matthew-cochrane 

Berita Terkait

Pascagempa, BFI Bangun Sekolah di Lombok

Indobisnis

Lombok Diguncang Gempa 5,3 SR

Nusantara

Gempa Kembali Guncang Lombok

Nusantara

CBA Minta Pemerintah Tidak PHP Korban Gempa Lombok

Nasional

Gelar Acara Mewah, PHP Korban Gempa

Nasional

IKLAN