Selasa, 25 September 2018 03:52 WIB
pmk

News in Depth

Kemarau Datang, Senyum Warga Menghilang

Redaktur:

KEMARAU -Seorang bocah mengendarai sepeda melintasi tanah kering di tengah cuaca panas kota Jakarta, beberapa waktu lalu. Ismail Pohan/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Kekeringan dan krisis air bersih melanda sejumlah wilayah di Jabodetabek. Dampaknya sangat serius karena mengancam hasil panen ribuan hektare lahan pertanian di kawasan tersebut.

Salah satunya di Kabupaten Lebak, Banten, sebanyak 16 kecamatan mengalami kekeringan akibat kemarau panjang  yang terjadi sejak bulan Juli lalu. Akibatnya menimbulkan kesulitan pasokan air bersih bagi masyarakat, serta tertundanya gerakan percepatan tanam padi dan pengembangan budi daya ikan tawar.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Kaprawi, mengatakan, ada 16 kecamatan yang dilanda kekeringan dan tersebar di Kecamatan Maja, Curugbitung, Kalanganyar, Cipanas, Bayah dan Cibadak. Kemudian, Kecamatan Cimarga, Leuwidamar, Cirinten, Banjarsari, Warunggunung, Bojongmanik, Malingping, Wanasalam, Cihara dan Cilograng.

Kaprawi menambahkan, kekeringan yang terjadi saat ini dikhawatirkan akan membuat masyarakat yang tinggal di 16 kecamatan mengalami kesulitan pasokan air bersih.

"Selain dapat mengakibatkan krisis air bersih, kami memperkirakan kekeringan itu akan berdampak pada pendapatan ekonomi masyarakat, karena akan memengaruhi gerakan percepatan tanam, dan pengembangan budi daya ikan air tawar, atau kegiatan ekonomi lainnya yang sangat bergantung pada pasokan atau ketersediaan air yang cukup banyak," kata Kaprawi kepada INDOPOS , Selasa (14/8).

Dijelaskan Kaprawi, ancaman kekeringan yang mengancam 16 wilayah kecamatan itu, akibat musim kemarau yang cukup panjang yang mengakibatkan sumber air andalan warga berkurang  atau bahkan hingga mengering “Selama ini, masyarakat di daerah itu masih memanfaatkan pasokan air bersih dari pompa bawah tanah, sumber mata air, sumur juga aliran sungai. Namun, sejak sepekan terakhir ini mengalami kekeringan akibat kemarau,” ujarnya.

Untuk menanggulangi kesulitan pasokan air bersih, BPBD Lebak telah mendistribusikan air bersih kepada 1.100 kepala keluaga (KK) di sejumlah desa di Kecamatan Sajira. "Kami siap menyalurkan pasokan air bersih untuk masyarakat setelah adanya pengajuan dari kecamatan. Kami minta masyarakat untuk segera melapor pada BPBD setempat  jika terjadi kesulitan pasokan air bersih. Kami telah berkoordinasi dengan Perusahaan daerah Air Minum (PDAM), dan siap mendistribusikan pasokan air bersih ke lokasi yang dilanda kekeringan itu," jelasnya.

Sementara di  Kabupaten Pandeglang dilaporkan, bencana kekeringan yang terjadi akibat kemarau panjang terus meluas melanda 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Patia, Sukaresmi, Munjul, Picung, Sindangresmi, dan Kecamatan Angsana.

Kepala Seksi (Kasi) Pemadaman Kebakaran (Damkar) dan Kedaruratan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Darah (BPBD) Kabupaten Pandeglang,  Endan Permana membenarkan adanya bencana kekeringan akibat kemarau panjang tersebut.

Pihaknya mengaku kewalahan mengatasi hal itu, karena instansinya mengalami keterbatasan armada jika setiap hari harus terus menyalurkan air bersih ke sejumlah titik.“Kita hanya punya dua unit armada dengan kapasitas masing-masing 6.000 liter. Makanya dua unit mobil ini setiap harinya tidak berhenti untuk memberikan bantuan air yang perlu didahulukan,” kata Endan.

Ia mengungkapkan, kondisi terparah kekeringan terjadi di Kecamatan Patia. Di daerah ini ada 10 desa yang dilanda kekeringan, dan sudah ditetapkan siaga kekeringan. “Sementara untuk kecamatan lain hanya beberapa desa saja. Seperti di Kecamatan Munjul, hanya terdampak dua desa, Picung dua desa, Sindangresmi satu desa, Angsana satu desa, dan Kecamatan Sukaresmi terdampak kekeringan satu desa,” tuturnya.

Terpisah, Bupati Pandeglang Irna Narulita kepada INDOPOS mengatakan, pihaknya sudah menginstruksikan kepada BPBD untuk menyuplai air ke sejumlah  titik yang mengalami kekeringan, agar masyarakat tidak mengalami krisis air bersih.

“Dua hari belakanagan kan sudah mulai turun hujan di Pandeglang, semoga saja tidak terjadi kisis air bersih. Namun, saya sudah perintahkan BPBD untuk menyuplai air bersih ke daerah daerah yang mengalami kekeringan dan rawan terjadinya krisis air bersih.” kata Irna.

Sementara Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Perumahan dan Pemukiman (Perkim), terus memberikan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah Pantura (Pantai Utara) Provinsi Banten, mulai dari Kecamatan Pontang, Tirtayasa, Kabupaten Serang, hingga Kecamatan Mauk dan Kronjo Kabupaten Tangerang yang dilanda kekeringan akibat kemarau panjang.

Kepala Seksi ( Kasi) Air Minum dan Sanitasi, Bidang Infrastrukturdan Pemukiman, Dinas Perkim Banten, Adib Solihin mengatakan, pemberian bantuan air bersih pada daerah daearh yang dilanda kekeringan ini adalah atas instruksi langsung dari Gubernur Wahidin Halim, agar Dinas Perkim dan BPBD secara bersinergi menyuplai kebutuhan air bersih warga, terutama yang bermukim di kawasan Pantura, dari mulai Kabupaten Serang hingga Kabupaten Tangerang yang paling parah dilanda kekeringan.

“Kami terus menyuplai air bersih ke daerah daerah yang mengalami kekeringan, terutama di daerah Pantura Banten, dari mulai Pamarayan, Pontang, Tanara, Kabuaoten Serang, hingga Kecamatan Mauk dan Kronjo Kabupaten Tangerang,” terang Adib.  

Selain itu, pihaknya juga setiap hari mengerahkan 4 truk tangki berkapasitas 5.000 liter air bersih berkeliling ke daerah daerah yang rawan mengalami krisis air bersih. “Pemberian bantuan air bersih, selain berdasarkan permitaan langsung dari warga dan aparat desa ke Dinas Perkim, kami juga melakukan sistem jemput bola guna memastikan tidak ada warga yang mengalami krisis air bersih,” terang Adib.

Dikatakan Adib, pihaknya memberikan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari, seperti untuk minum, masak, mencuci pakaian, dan mandi. "Musim kemarau menyebabkan kekeringan telah terjadi di beberapa daerah di Banten,sehingga banyak masyarakat mengalami kekurangan air bersih," ujar Adib.

Dijelaskan, kekurangan air bersih banyak dialami oleh warga yang tinggal di dataran lebih tinggi, seperti halnya kawasan Pantura di Kabupaten Serang, dan Kabupaten Tangerang, termasuk di Kabupaten Lebak dan Pandeglang.

Ia berharap, dengan adanya bantuan air bersih ini dapat meringankan beban masyarakat yang terkena dampak kekeringan akibat kemarau panjang, karena hampir semua sumur sumur dangkal milik warga kini mengalami kekeringan, termasuk sumber mata air di berbaga daerah juga mulai mengering, seperti di Kabupaten  Lebak dan Pandeglang.

Sementara itu di Bekasi, musim kemarau mulai dirasakan sejumlah petani setempat. Sebab, musim panas yang terjadi sejak Juli 2018 lalu, sudah ada ratusan hektar sawah yang gagal panen. Tumbuhan padi itu tak bisa berbuah lantaran kekurangan air.

"Ada sekitar 200 hektar sawah di Kecamatan Cibarusah yang gagal panen, akibat musim kemarau yang terjadi sekarang. Penyebabnya, tanaman sudah tidak pernah diberikan air," kata Ketua Petani dan Nelayan Andalan, Kabupaten Bekasi Usman Supratman, kepada INDOPOS, Rabu (15/8).

Usman menambahkan,  gagal panen itu juga disebabkan karena usia padi yang baru 1 bulan sudah tidak diberikan air. Sehingga, proses pertumbuhannya menjadi tersendat. Padi itu lama kelamaan akan mati dan tidak bisa berbuah seperti yang diharapkan petani. "Gagal panen itu karena kemarau, bukan masalah yang lain. Karena pasokan air tidak ada di areal persawahan," paparnya.

Bahkan, petani kata dia, sudah tidak bisa berbuat banyak ketika musim kemarau tiba. Sejumlah petani palawija pun enggan menanam bibit. Penyebabnya, mereka khawatir seluruh upaya yang dilakukan sia-sia karena pasokan air sama sekali tidak ada. "Seperti tanaman cabai dan kacang panjang pun sekarang sudah tidak ditanam petani," katanya.

Sejauh ini, sumber air di Kecamatan Cibarusah, kata dia, sudah mengalami kekeringan juga. Seperti Kali Cipamingkis, dan Kali Cihoe sudah mengalami kekeringan sejak satu bulan ini. Sehingga, bukan hanya gagal panen yang ditakutkan warga, tapi dikhawatirkan krisis air bersih. "Warga sudah kesulitan air, jangankan mikirin sawah, untuk kebutuhan sendiri saja susah," ujarnya.

Meski begitu, kata Usman, sejumlah petani mendapatkan asuransi. Sebab, selama mengurus lahan tani, mereka mengasuransikan seluruh tanamannya. Dan kelak gagal panen, maka seluruh padi itu mendapat gantinya dari hasil asuransi tersebut.

Usman menjelaskan, musim kekeringan ini sudah setiap tahun terjadi di Kecamatan Cibarusah. Dan baru akan selesai, pada bulan September dan seterusnya. Saat ini, untuk mengisi kekosongan para petani, mereka banyak beralih menjadi buruh kasar, dan kuli di pasar. "Mereka lebih memilih tidak bertani dulu, dan mencari pekerjaan baru," paparnya.

Meski begitu, Usman sangat berharap, pemerintah daerah bisa membuat jaringan air ke pemukiman warga. Menurut dia, saat ini yang dipikirkan adalah bantuan air bersih untuk penduduk setempat. Tapi kalau dibarengi dengan pembangunan saluran air untuk sawah itu lebih baik. "Kalau sekarang yang lebih mendesak adalah air bersih untuk warga di sini," tuturnya.

Perlu diketahui, akibat gagal panen yang terjadi di areal persawahan Cibarusah maka ada 1000 ton beras yang tidak diproduksi. Wilayah yang terjadi kekeringan di Kecamatan Cibarusah meliputi tiga desa yakni Desa Sirnajati yang dihuni 638 kepala keluarga, Desa Ridhogalih dihuni 1.216 kepala keluarga dan Desa Ridomanah dihuni 805 kepala keluarga.

Sementara itu, anggota Petani dan Nelayan Andalan, Kabupaten Bekasi, Kusnaedi mengatakan, ada wilayah yang mengalami panen di bagian utara. Hanya saja, dia tidak bisa memprediksi berapa besar panen tersebut. "Kalau di bagian selatan seperti Cibarusan sudah tidak ada tanam padi sejak bulan Juli," katanya.

Kusnaedi berharap, pemerintah daerah bisa segera mengambil langkah untuk menekan kekeringan di Kecamatan Cibarusah. Sebab, warga sudah sangat resah atas kondisi tersebut. "Mereka sudah kehilangan sumber air, karena dua sungainya juga sudah kering," tandasnya. (yas/dny)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kemarau-datang-senyum-warga-menghilang 

Berita Terkait

IKLAN