Selasa, 20 November 2018 03:29 WIB
pmk

Nusantara

Hanya dengan Pejamkan Mata Lahir Karya

Redaktur:

GUNTING PITA-Pembukaan pameran dua seniman Bali, I Ketut Budiana dan Ida Bagus Putu Sena di Museum Puri Lukisan, Ubud, Bali, Kamis (6/9) lalu. Foto: BRIGITA SICILLIA/INDOPOS

PULAU Dewata memiliki segudang objek wisata. Hampir tidak terbatas. Unik dan mengagumkan. Wisata di Bali juga tidak hanya sebatas pantai. Bukan hanya atraksi budaya. Museum seni juga bisa jadi tujuan alternatif wisata di sana.

BRIGITA SICILLIA, Bali

INDOPOS.CO.ID - Salah satu museum seni yang sayang dilewatkan saat ke Bali adalah Museum Puri Lukisan Ubud. Terletak di keramaian kafe dan resto, museum ini tidak kehilangan rohnya. Hadir dengan kemegahan dan arsitekturnya yang khas.

Tak ubahnya seperti istana. Berada dalam naungan Yayasan Ratna Wartha Ubud, merupakan museum seni tertua di Bali.

Khusus memamerkan lukisan tradisional dan seni ukir Bali. Kawasan Ubud di Bali memang dikenal sebagai daerah penghasil seniman lukis dan ukir yang melegenda. Sebut saja, I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gde Sobrat, dan I Gusti Made Deblog pernah memamerkan karya masterpiece mereka di sana.

Karena sejarah panjangnya itulah, museum ini selalu masuk dalam agenda wisata Ubud. Wisatawan, baik dalam maupun luar negeri selalu menyempatkan diri datang.

Ada yang masuk dan melihat-lihat koleksi sejumlah seniman. Atau hanya sekedar berfoto di depan gerbang museum yang megah.

Teristimewa pada Kamis (6/9) lalu.

Hamparan papan berhias bunga dan penjor, memenuhi halaman depan museum. Bunga melati berpadu jepun (bunga kamboja) menghiasi gerbang museum.

Deretan papan bunga berisi ucapan selamat mengular menutupi sisi kanan dan kiri pintu masuk museum. Meriah. Rupanya, sedang ada pameran dua pelukis Bali. Satu bernama I Ketut Budiana. Lainnya, bernama Ida Bagus Putu Sena.

Keduanya mengambil tema lukisan yang mirip-mirip. Budiana dengan tema "Whirling". Sedangkan Sena mengambil tema "Muter Tattwa".

Penyelenggara sekaligus sahabat dua seniman ini, Daniel Jusuf mengaku bangga melihat animo masyarakat. Mereka datang berbondong-bondong ke museum untuk melihat karya langka kedua sahabatnya itu.

"Mereka ini beda. Lukisan mereka tidak biasa. Menggunakan teknik lukis yang juga masih tradisional. Isi lukisannya sarat makna. Karena digali dengan menggabungkan unsur pengalaman hidup, pemahaman budaya, dan kekayaan ilmu agama Hindu," paparnya kepada INDOPOS, di sela-sela pembukaan.

"Kedua seniman kali ini memilih secara kebetulan tema yang serupa. Whirling memiliki arti berputar. Sedangkan muter tattwa merupakan konsep perputaran bumi yang berakar dari agama Hindu," imbuh Kurator Seni Jean Couteau, ditempat yang sama.

Kedua seniman ini, kata dia, sama-sama bertanya tentang posisi manusia di alam semesta ini. "Bagaimana pada akhirnya di ujung kehidupan bisa menyatu dengan sang pencipta. Mereka mampu merumuskan teknik lukis dan bahasa baru dalam seni lukis tradisional Bali. Ini luar biasa," pujinya.

Dirinya sangat optimistis, kedua seniman ini bisa mengembangkan jati diri seni lukis Bali di Indonesia dan dunia. Maestro Lukis Tanah Air Sidik W. Martawidjojo yang juga hadir dalam pembukaan pameran tersebut memuji habis-habisan kedua seniman itu.

Menurutnya, inilah yang dia sebut sebagai the real art. Sebuah karya seni yang lahir dari sebuah renungan, perjalanan hidup. Sehingga terkandung filosofi kehidupan yang sangat mendalam.

"Di tengah hiruk pikuk dunia. Ambisi. Harta dan kekuasaan. Pada akhirnya yang manusia tuju adalah mencari kedamaian batin. Manusia berharap kelak sesudah kematian bisa mencapai surga atau nirwana," urainya.

Budiana, kata dia, merupakan seniman yang memiliki visi kebenaran. "Bahwa dalam pandangan Budiana kebenaran itu baik. Kebenaran itu selamanya adalah kebenaran," urainya.

Maka itu, dia menyarankan seniman baru agar belajar mendalami filsafat. "Karya lukis yang hanya sekadar menggores mungkin bagus. Tapi kosong tidak memiliki roh," ungkapnya.

Dia menilai, sosok Sena sedang menuju ke sana. Karya-karyanya juga brilian dan sarat filosofi. Dia berharap, akan lebih banyak lagi seniman yang punya arah. Sehingga diharapkan bisa menyatukan dunia seni Barat dan Timur.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengaku salut setelah melihat karya kedua seniman itu. "Mereka bisa melukis tanpa melihat objek. Apa yang ada di dalam hati dan pikiran mereka dituangkan menjadi sebuah karya seni. Hanya dengan memejamkan mata lahir sebuah karya," pujinya.

Sementara itu, Budiana yang ditemui di sela-sela pameran mengungkapkan, bahwa tiga lukisan yang dipamerkan hingga 1 Oktober mendatang itu membawa konsep dasar manusia. Yaitu, lahir, hidup, dan kembali (ke sang pencipta). (bersambung)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #feature 

Berita Terkait

IKLAN