Sabtu, 17 November 2018 02:58 WIB
pmk

Nusantara

Dinas Kesehatan Minta Daerah Siap dan Waspada Rubella

Redaktur:

SENYUM-Dari kiri, Natasya, Siti Julaiha, dan Erysa di depan kantor guru Pondok Pesantren Al Falah Putri Banjarbaru. Ketiganya sempat dicurigai mengidap MR hingga diambil sampel darahnya untuk diperiksa oleh Dinas Kesehatan Banjarbaru. Muhammadad Rifaniani /RADAR BANJARM ASIN/jpg

INDOPOS.CO.ID - DALAM beberapa hari terakhir beredar kabar, bahwa hasil sampel darah yang diambil dari para terduga penderita rubella di Banjarbaru dinyatakan positif oleh laboratorium di Surabaya. Radar Banjarmasin menelusuri kebenaran informasi ini.

Informasi itu, dikuatkan dengan keluarnya surat edaran kewaspadaan dan kesiapsiagaan penyakit campak dan rubella dari Dinas Kesehatan Kalsel. Di dalam surat itu dijelaskan bahwa saat ini rubella dan campak berstatus KLB (kejadian luar biasa), karena munculnya sejumlah kasus di empat lokasi di Banjarbaru. Yaitu, di Ponpes Al Falah Putri 19 kasus, Ponpes Darul Ilmi 33 kasus, SMAN 2 Banjarbaru 9 kasus dan Poltekes Banjarbaru 10 kasus.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Agus Widjaja membenarkan jika hasil laboratorium positif rubella. Di mana sebelumnya mereka menduganya hanya campak klinis. "Iya informasi itu benar. Tapi, untuk lebih lanjutnya silakan hubungi pihak Dinkes Kalsel karena mereka yang menyerahkan sampel ke laboratorium," singkatnya.

Yang janggalnya, Kepala Dinas Kalsel M Muslim malah tak bisa memastikan jika sampel yang diuji benar-benar positif rubella. Sedangkan, untuk surat edaran sendiri, sebutnya hanya tentang kesiapsiagaan dan kewaspadaan. "Surat bukan mengenai hasil lab positif rubella, tapi kami meminta supaya daerah siap dan waspada kasus campak maupun rubella," jelasnya.

Saat didesak apa hasil laboratorium yang sebenarnya, dia enggan membeberkannya. Entah karena takut salah, atau memang ingin menyembunyikan faktanya. Meski hasil laboratorium terlanjur tersebar, namun pihak ponpes maupun sekolah; tempat puluhan sampel diambil masih meragukannya. Sebab, hingga Rabu (12/9) kemarin mereka belum menerima laporan resmi dari Dinkes Kalsel maupun Kota Banjarbaru.

Seperti halnya, Ponpes Al Falah Putri, mereka beranggapan bahwa kabar positif rubella hanya kebohongan belaka. Lantaran, pihaknya belum menerima bukti laboratorium. "Kalau memang benar, kenapa tidak menyerahkan hasilnya ke kami? Selama hasil tak kami terima, maka kami menganggap informasi itu bohong," kata Guru Sepuh Ponpes Al Falah Putri, Abdussamad Sulaiman.

Dia menduga, pemerintah sengaja menyebar informasi ditemukannya banyak kasus rubella agar orang tua percaya bahwa penyakit tersebut sudah marak dan harus segera melakukan vaksin MR. Sehingga, bisa mengejar progres vaksinasi yang saat ini masih sangat rendah. "Apalagi di sini 95 persen orangtua santri menolak anaknya divaksin. Lantaran mengandung babi dan organ manusia. Jadi, diisukanlah ada ditemukan kasus rubella supaya bisa menggelar vaksin di sini," ucapnya.

Padahal, menurutnya penyakit disertai ruam merah sudah biasa di ponpes. Hampir setiap tahun ada. "Itu hanya kerumut. Dua sampai tiga hari juga sembuh. Santriwati yang kena juga masih bisa beraktivitas biasa. Saya tegaskan, kabar jika para penderita dikarantina itu juga bohong," ujarnya.

Pria yang juga anggota Komisi Fatwa MUI Kalsel ini menyampaikan bahwa, kini 19 santriwati yang diduga terjangkit virus rubella semuanya telah sehat. "Bintik merahnya juga hilang. Jadi, kami yakin itu hanya kerumut dan menular karena di ponpes 'kan tempat mandi digunakan bersama-sama," jelasnya.

Para santriwati sendiri diketahui oleh pihak Dinkes Banjarbaru mengalami ruam merah, lantaran ada yang berobat ke Puskesmas. Kemudian, mereka langsung datang ke ponpes untuk mengambil sampel. "Sampai-sampai, santriwati yang berjerawat saja sampelnya juga diambil," kata Abdussamad.

Dia mengimbau supaya para orang tua tidak langsung percaya dengan berita yang beredar, kecuali ada penjelasan langsung dari pihak ponpes. "Kabar ini cukup meresahkan para orang tua santriwati. Jadi, saya minta agar jangan langsung percaya," imbaunya.

Hal senada diungkapkan Natasya, 16, salah satu santriwati yang diduga menderita rubella karena tubuhnya muncul bintik merah. "Itu hanya kerumut. Hanya dua hari langsung sembuh. Sekarang tidak ada lagi ruam merahnya," ungkapnya.

Selain pihak Ponpes Al Falah Putri, Amrullah Abdan selaku Wakil Kepala Sekolah Mualimin Ponpes Darul Ilmi juga tidak percaya sepenuhnya dengan hasil laboratorium yang menyatakan 33 santrinya positif terinfeksi rubella. "Mungkin itu cuma kerumut, karena hanya beberapa hari sembuh," ujarnya.

Dia menjelaskan, saat para santrinya mengalami ruam merah pada pertengahan Agustus tadi pihak ponpes menganggapnya hal biasa. Lalu, diperiksa ke Puskesmas Liang Anggang. "Ternyata didiagnosa campak oleh pihak Puskesmas, lalu sampel darah mereka diambil," jelasnya.

Lanjutnya, sampai saat ini mereka belum menerima hasil pemeriksaan sampel itu. Meski, sudah tersebar di sejumlah media sosial. "Iya katanya positif. Tapi, kenapa kami tidak diberitahu," pungkasnya. Selain dua pesantren itu, sekolah yang juga disebut dalam surat itu adalah  SMAN 2 Banjarbaru. Saat ditemui Radar Banjarmasin, Kepala Sekolah Smada -sebutan SMAN 2 Banjarbaru-, Ehsan Wasesa menyatakan hingga sekarang dirinya juga belum menerima informasi terkait hal tersebut. Baik dari Dinkes Banjarbaru maupun Provinsi.

"Seharusnya ada surat resmi tertulis kepada kita soal kabar tersebut, ini belum ada informasinya, kita juga cukup kaget dengan kabar ini," ungkapnya. Dalam surat edaran jelas tertulis, di Smada Banjarbaru dinyatakan ada 9 kasus campak dan rubella. Ehsan pun membenarkan bahwa ada sembilan muridnya yang sempat sakit namun menurutnya bukan rubella, hanya terindikasi campak biasa. "Saat sekolah sudah masuk ketahuan ada sembilan orang yang badannya ruam-ruam merah, kita menduga mereka terkenanya saat di rumah karena saat itu liburan," ceritanya.

Usai itu, Ehsan menceritakan bahwa pihaknya mengumpulkan anak-anak ini di UKS. "Barulah diperiksa ke Puskesmas terdekat, akhirnya diambil sampelnya," tambahnya seraya mengatakan  Puskesmas hanya mengambil empat sampel dari sembilan anak tersebut. "Bingung juga kenapa di surat edaran malah jadi sembilan orang."

Berbicara kondisi kesembilan anak tersebut, Ehsan menyatakan jika semuanya sudah kembali sehat. Artinya tidak ada panas ataupun ruam-rumah merah seperti terkena Kerumut pada sebelumnya. "Sudah turun sekolah semua,"katanya yang menginformasikan bahwa anak-anak tersebut berasal dari kelas XI dengan rentang usia 16-17 tahun.

Di Politeknik Kesehatan Banjarmasin yang berada di Banjarbaru, juga tidak ada pemberitahuan.  Saat dikonfirmasi Radar Banjarmasin, Pembantu Direktur III Bidang Kemahasiswaan Poltekkes Banjarmasin, Tut Bartinah yang berada di kampus menegaskan kalau pihaknya hingga saat ini juga belum ada menerima surat resmi tertulis.

"Soal informasi surat edaran itu memang sudah tahu, karena kan menyebar, namun untuk surat resmi tertulisnya baik edaran atau hasil laboratorium yang menyatakan positif Rubella kita belum menerima," katanya ketika diwawancarai pada Rabu (12/9).

Bartinah bercerita kalau beberapa hari sebelumnya memang ada satu mahasiswanya yang sakit. " Hanya demam, dia ini memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat, kemudian dia mengirim surat ke jurusannya bahwa izin tidak masuk untuk istirahat," ucapnya. Soal kenapa bisa berkaitan dengan rubella,  Bartinah berujar kalau tidak lama setelah mahasiswa tersebut berobat ke Puskesmas. Pihak Poltekkes mendapat pemberitahuan dari Dinas Kota Banjarbaru untuk dilakukan pengambilan sampel di kampusnya. Disinyalir kalau puskesmas tempat mahasiswa tersebut memeriksakan diri memberikan laporan dan data kepada Dinkes Banjarbaru untuk dilakukan tindakan.

" Dinkes Banjarbaru kemudian melakukan pengambilan sampel kepada teman-teman satu kelas dari mahasiswa yang sakit tadi,  jumlahnya 30 sampel," bebernya. Perihal diagnosa, Bartinah mengatakan kalau pihaknya hingga sekarang belum menerima hasil diagnosa dari mahasiswa yang sakit tadi. "Belum ada diagnosanya atau hasil laboratoriumnya, apakah positif (Rubella, red) atau tidak," imbuhnya.

Sebelumnya dalam surat edaran tersebur, di Poltekkes Banjarmasin di Banjarbaru tertulis bahwa ada 10 kasus mahasiswa yang terkena campak dan rubella.  Menanggapi angka tersebut, Bartinah mengaku heran. "Kenapa bisa dinyatakan positif sepuluh mahasiswa, kita saja tidak tahu hasilnya, dan yang sakit cuman satu orang."  (ay/ran/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #vaksin-mr #dinkes-kalsel 

Berita Terkait

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Kisah Ubai, Balita Pengidap Rubella

News in Depth

MUI Bolehkan Vaksin MR

News in Depth

Belum Terapkan Vaksin MR, Kemendagri Belum Terapkan Sanksi

News in Depth

Vaksinasi Berpacu Melawan Waktu

News in Depth

Gubernur ‘Bandel’ Akan Diperingatkan

Headline

IKLAN