Sabtu, 17 November 2018 02:59 WIB
pmk

Nasional

Sosok Ulama Langka, GNPF Ulama Berduka atas Wafatnya Kiai Makshum Bondowoso

Redaktur: Ali Rahman

KH Muhammad Makshum Bondowoso

INDOPOS.CO.ID - Ketua Umum Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) Ulama Muhammad Yusuf Martak menyatakan berbela sungkawa atas wafatnya KH Muhammad Makshum Bondowoso pada Kamis (13/9/18) siang.

Menurut Yusuf Martak, almarhum yang merupakan pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso, Jawa Timur adalah sosok ulama langka.

"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Kami GNPF Ulama Sangat berduka. Bagi saya dan GNPF, beliau ulama yang langka. Tidak hanya kharismatik serta menguasai ilmu agama, beliau juga menguasai ilmu kebangsaan dan kenegaraan termasuk politik," kata Yusuf kepada INDOPOS di Jakarta, Kamis (13/9/2018).

Yusuf Martak juga mengaku tidak pernah lupa dengan semangat juang dari almarhum yang kerap hadir dalam berbagai aksi damai Bela Islam untuk memenjarakan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam kasus penistaan agama Surat Al-Maidah 51

"Dari aksi 411, aksi 212 dan aksi Bela Islam lainnya meski beliau sedang sakit dan hadir mengenakan kurai roda serta infus di tangan, semangat beliau tidak kalah dengan pemuda," kenangnya.

Bahkan saat Intima Ulama jilid I pada 27-29 Juli 2018, ucap Yusuf Martak, almarhum juga ikut hadir meski dokter melarangnya. "Perjuangan beliau dalam membela agama sangat luar biasa. Ini yang harus patut dicontoh oleh para generasi penerusnya," tukasnya.

Lebih lanjut, terkait rencana adanya penyelenggaraan Ijtima Ulama Jilid II yang akan berlangsung pada 16 September nanti, Kiai Makshum juga sudah menyatakan kesiapannya untuk hadir.

"Namun takdir Allah berkata lain. Beliau mendadak kembali harus masuk rumah sakit hingga akhirnya meninggalkan kita semua tadi sore. Semoga Allah SWT memasuki almarhum ke dalam surga. Aamiinn," imbuh Yusuf Martak menambahkan.

Diketahui, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso, Jawa Timur, KH Muhammad Makshum Bondowoso meninggal dunia di RS Siloam, Jakarta pada Kamis 13 September 2018 sekitar pukul 14.30 WIB. Rencananya jenazah dikebumikan di daerah kelahirannya di Bondowoso.

Sebelumnya almarhum sempat hadir dalam Ijtima’ Ulama I di Hotel Menara Peninsula pada Jumat (27/7) dengan menggunakan kursi roda, infus dan tabung oksigen.

“Ada yang bilang saya sakit hadir di tempat ini, ‘saya tidak sakit’, yang bilang sakit itu hanya dokter, saya waras,” ujarnya ketika menghadiri Ijtima Ulama I.

Setelah itu, seperti biasa Kiai Makshum memberikan pantun semangat juangnya. “Kata orang Bondowoso, kereta api dinamakan sepur, diatas sepur ada kondektur, daripada mati sakit diatas kasur mending mati diatas medan tempur,” ungkapnya yang langsung disambut pekikan takbir seluruh peserta Ijtima Ulama I.

Kiai Makshum sebelumnya divonis sakit kanker stadium IV, namun itu tak menyurutkan semangatnya dalam setiap momen perjuangan. (dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kh-muhammad-makshum-bondowoso-meninggal #gnpf-ulama #muhammad-yusuf-martak 

Berita Terkait

IKLAN