Sabtu, 17 November 2018 03:55 WIB
pmk

News in Depth

Perlu Didukung Fasilitas Ramah Disabilitas

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - KEHADIRAN kereta ringan atau light rail transit (LRT) diharapkan mampu mengatasi masalah kemacetan. Peneliti Institut Studi Transportasi Deddy Herlambang, memastikan harapan LRT bisa mengurai kemacetan di Jakarta bisa terpenuhi.

”Sangat mampu mengurai kemacetan. Pemecahan kemacetan lalin hanya dengan angkutan massal by rail base,” kata Deddy Herlambang, kepada INDOPOS, di Jakarta, Rabu (13/9).

Hasil uji coba, menurutnya telah berhasil dilakukan meski LRT Jakarta masih 5.8 kilometer dari Kelapa Gading ke Velodrome Rawamangun. Bila sesuai skema pembangunan LRT ini akan dibangun hingga Sudirman-Tanah Abang bakal tentu ada tarikan baru dan bangkitan baru.

Untuk itu, operasional LRT akan mampu terintegrasi dengan angkutan umum. ”Belum terintegrasi, tapi rencana ada. Kalau share angkutan umum 50 persen lebih menggunakan angkutan umum termasuk KRL, MRT, LRT jalan akan normal kecepatan bisa 40 kmh up,” jelas Deddy.

Deddy mengharapkan fasilitas LRT harus ramah terhadap penyandang disabilitas. Di sisi lain kesiapan operasi dan pemeliharaan hingga saat ini hampir ramping. Termasuk untuk penyediaan masinis untuk memenuhi target operasional.

Sementara, menurut pengamat transportasi Joko Setijowarno menuturkan, bahwa pengoperasian LRT Kelapa Gading-Velodrome akan sulit menyelesaikan masalah kemacetan ibu kota. Pasalnya jarak tempuhnya hanya mencapai 5,8 kilometer. ”Tidak bisa karena hanya pendek, cuma 5,8 kilometer. Harus segera diperpanjang lagi setidaknya hingga Dukuh Atas sesuai rencana,” tutur Joko Setijowarno.

Akan tetapi, keberadaan LRT ini tentu bisa mendorong masyarakat khususnya warga Jakarta Utara untuk menggunakan moda transportasi umum yang nyaman. ”Bisa membantu bagi yang ke pusat kota dari Kelapa gading tidak harus pakai kendaraan pribadi. Selama ini kan belum ada angkutan umum yang nyaman dari Kelapa Gading ke pusat kota,” ungkap Joko Setijowarno.

Pengoperasional LRT ini, sambung Joko tentu harus menunjang disabilitas. Hal ini karena sesuai dengan Standar Pelayanan Minimum (SPM) kereta api. Seperti contohnya, penyediaan kursi roda. ”Tentu kan itu ada dalam SPM KA harus ramah disabilitas ya,” tukas  Joko Setijowarno.

Perlu diketahui, untuk semua step operasi line up sudah disipakan. Seperti persiapan operation, maintenance, software-software, control, system Software pemeliharaan kereta dan sparepart sudah, software terkait keuangan sudah disiapkan, dokumen safety juga sudah dimiliki. (cr-2)


TOPIK BERITA TERKAIT: #news-in-depth 

Berita Terkait

IKLAN