Senin, 22 Oktober 2018 02:33 WIB
pmk

Kemarau Panjang, Air Sungai Pun Laku Dijual

Redaktur: Dani Tri Wahyudi

DEMI DAPUR-Budi Raharjo harus rela mengambil air di pelosok untuk dijual lagi kepada warga. Radar Madiun/JPG JPG

INDOPOS.CO.ID - Di tengah kemarau panjang yang mendera Pacitan, rezeki Budi Raharjo justru mengalir deras. Menggunakan pikap miliknya, warga Desa Sidomulyo, Kebonagung, itu berjualan air menyasar kantong-kantong kekeringan di wilayah Pacitan yang tak terjangkau armada BPBD.

‘’Biasanya (pikap) untuk mengangkut pasir,’’ katanya kemarin (4/10).

Dalam sehari, Budi bisa dua hingga tiga kali bolak-balik mengambil air di sungai Desa Kebonagung. Satu galon air isi 1.050 liter dijual Rp 70 ribu. ‘’Kalau beli dua galon saya diskon Rp 10 ribu, jadi tinggal Rp 130 ribu,’’ sebutnya.

Bukan perkara mudah menjadi penjual air. Tak jarang Budi harus berjibaku menaklukkan medan sulit menuju tempat tinggal pelanggan. ‘’Kadang rumahnya di gang sempit, jadi mobil tak bisa masuk dan harus pakai slang,’’ beber pria 62 tahun ini.

Bagaimana jika lokasi konsumen jauh? Budi mengaku tidak mematok harga lebih tinggi meski harus mengeluarkan biaya transportasi lebih banyak. ‘’Kalau jarak dari sumber ke tujuan dekat, untungnya lumayan. Tapi, kalau jauh kadang cuma cukup untuk makan siang,’’ ujar bapak dua anak itu.

Dia menyebut, sejumlah pelanggan mulai rutin memesan air saat pertengahan musim kemarau. Umumnya digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci. Namun, tak sedikit yang memanfaatkannya untuk memasak dan minum. ‘’Namanya juga air sungai, mungkin beberapa orang masih ragu dengan kebersihannya,’’ ungkapnya.

Sepengetahuan Budi, saat ini sudah lebih dari 10 orang yang menggeluti usaha seperti yang dilakoninya. Pun mereka harus secara bergantian mengambil di sungai agar air tak cepat habis. ‘’Kadang memberi sumbangan seikhlasnya untuk pihak dusun yang air sungainya kami ambil,’’ ujarnya.

Pairah, warga Dusun Klepu, Sidomulyo, mengaku terpaksa menggunakan air sungai yang dijual pedagang keliling untuk berbagai keperluan. Pasalnya, sumur pompa di rumahnya sudah tidak mengeluarkan air. ‘’Mau bagaimana lagi, sulit cari air bersih. Kalau ada droping juga nggak pernah kebagian,’’ katanya.

Dia menyebut, satu galon air seharga Rp 70 ribu hanya bertahan satu minggu untuk kebutuhan minum, memasak, mandi, dan mencuci. Karena itu, dia berharap musim kemarau segera berlalu. ‘’Sudah dua bulan lebih begini (beli air, Red). Bisa dihitung sudah berapa uang yang kami keluarkan,’’ keluh Pairah.

Pairah mengatakan, sejatinya di dusun tetangga terdapat sumber air. Namun, selalu dipadati warga. Pun debit airnya semakin mengecil. ‘’Dulu waktu airnya masih agak besar sering nyuci di sana,’’ tuturnya. (mg6/c1/isd)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kemarau 

Berita Terkait

Kemarau, Ratusan Hektare Lahan Pertanian Menganggur

Banten Raya

Dampak Kekeringan, Minum Air Sungai

Nusantara

Penggarap Lahan Kering Lebak Butuh Alsintan

Banten Raya

IKLAN