Sabtu, 20 Oktober 2018 06:43 WIB
pmk

Opini

Teladan Pertarungan Khabib

Redaktur: Dani Tri Wahyudi

DOK PRIBADI

Oleh: Agastya Harjunadhi, Mpd

Master Pendidikan Agama Islam UIKA Bogor, Former Sekjen Young Islamic Leaders

Masih hangat, peristiwa kemenangan seorang atlet tarung Mix Martial Arts (MMA) kategori UFC229, Khabib Nurmagomedov. Kemenangan pemuda asal Rusia ini menjadi kabar gembira bagi muslim seluruh dunia. Karena dalam pertandingan tersebut, tak hanya sekadar kompetisi olahraga tetapi juga pertarungan kehormatan. Dan kehormatan itu tak sekadar gelar olah raga, tapi lebih jauh lagi adalah tentang kehormatan dalam membela agama, sportifitas, dan integritas.

Dari peristiwa ini pun kita bisa mengambil hikmah. Beberapa teladan sekaligus analisis yang bisa kita ambil dari Khabib dan pertarungannya dengan McGregor adalah sebagai berikut:

1. Jadilah Pemuda yang kuat dan amanah

Salah satu ciri ideal sosok pemuda yang didambakan oleh Islam adalah ia kuat dan amanah. Dijelaskan dalam firman Allah, QS. Al Qashshash:26, ciri tersebut diungkap oleh Allah dalam firmannya ketika menceritakan tentang kisah Musa as berjumpa dengan orang shalih (dalam beberapa riwayat disebutkan adalah Nabi Syuaib as) dengan kedua putrinya. Rasulullaah shalallahu alayhi wasallam juga menegaskan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah.

Ciri-ciri ini seolah tampak pada diri Khabib. Terbukti dengan gelar UFC yang unbeatable (tak pernah kalah) selama 27 kali juga disertai kuatnya pemikiran Khabib mempertahankan identitas muslimnya di tengah lautan pemikiran hegemoni barat yang melalaikan. Ia teguh memegang amanah prinsip-prinsip agamanya bahkan lebih jauh lagi, ia mensyiarkannya di pusat pertandingan MMA yang disaksikan ribuan penonton secara langsung yang notabene adalah pendukung Gregor, dan jutaan penonton lainnya melalui televisi.

Ia dengan tegas berkata “Alhamdulillaah3x Allah give me everything… Insya Allah I will smash your boy”. Ucapan syukur sekaligus kepercayaan diri yang sangat tinggi melawan sorakan seluruh penonton stadium. Tak ketinggalan, gestur keimanan (menunjuk tangan ke langit yang menandakan Allah lah pemilik segala kekuatan) pun ia peragakan. Khabib pun tak segan menyebut olahraga (sport MMA) baginya bukan yang utama. Bagi Khabib, nomor 1 adalah agamanya, keimanannya. “When Allah no body can broke you, Alhamdulillaah”.

2. Berakhlak Mulia

Meski menyandang gelar tak terkalahkan, Khabib jelas terlihat humble. Dalam beberapa kesempatan bertanding, Khabib memeluk dan memperlihatkan wajah empati terhadap lawannya yang terluka atau terkapar usai pertandingan. Ia membantu dan menolong. Sungguh sejatinya, puncak dari akhlak mulia adalah respect, sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lain dengan penuh kasih sayang. Sikap ini lahir dari pribadi yang jujur dan jiwa petarung yang ksatria.

Sudah menjadi rahasia umum, dalam arena pertandingan olahraga MMA dan sejenisnya, intimidasi kata-kata pasti terjadi. Ini dikenal dengan psy war, metode untuk menyerang psikologi lawan tandingnya agar down, sehingga mudah dikalahkan. Bagi mereka yang paham konsep kekuatan dan kehidupan apalagi jika berlandaskan Islam, hal-hal seperti ini tak akan berpengaruh sama sekali. Namun bagi petarung yang jiwanya kerdil, psywar bisa membuat KO sebelum bertanding.

Yang dilakukan Gregor mungkin sah-sah saja bagi alam pertandingan MMA dunia barat, tapi menjadi luka apabila menyinggung kehormatan ayah/orangtua, ras, negara asal, atau bahkan mengolok-olok agama.

3. Integritas dan Sportifitas

Integritas pribadi Khabib teruji. Ini merupakan akumulasi akhlak yang baik, hasil dari pendidikan Islam yang matang dari keluarga maupun lingkungannya. Khabib tegas menolak alkohol yang ditawarkan kepadanya oleh Gregor dengan mengatakan “saya tak meminum alkohol, saya tak pernah meminumnya”. Narasi ini adalah satu bentuk dakwah yang menunjukkan integritas dirinya sangat kuat dan terjaga.

Khabib pun menjaga pertandingan tetap fair, sportif. Ia tak pernah melakukan provokasi sebagaimana lawannya lakukan. Bagi Khabib, olahraga adalah ajang terhormat, bukan olahraga adu mulut. “Ini olahraga terhormat. Ini bukan olahraga mulut. Saya ingin mengubah citra olahraga ini. Anda tidak bisa berbicara mengenai agama dan negara (orang lain seenaknya)," tegas Khabib.

4. Meminta Maaf

Setelah kerusuhan yang terjadi pasca pertandingan, tak segan Khabib meminta maaf. Meskipun sesungguhnya pemicu kerusuhan adalah tim Gregor yang kerap rasis dan “menghina” agama serta ayahnya, Khabib tetap memohon maaf kepada panitia UFC. Ini adalah sifat mulia para ksatria. Di dalam QS Ali Imran:134, ALlah menyebutkan salah satu ciri pribadi muttaqin adalah mudah memberi maaf kepada manusia yang lain.

Namun berkaitan dengan kericuhan tersebut, rumornya gelar juara UFC229 Khabib akan dicabut oleh presiden UFC, Dana White. Sebaiknya UFC juga memberi sanksi kepada Gregor dan timnya atas tindakan rasialis, menebar kebencian dan mengolok-olok agama orang lain.

5. Berani

Salah satu sifat terbaik yang muncul dalam peristiwa ini adalah keberanian. Khabib dengan gagah dan kokoh menyebarkan narasi syiar integritas dirinya dan agamanya dengan tanpa sedikitpun mengolok/mencela agama lawannya.

Kini, ia muncul dan telah menjadi idola baru anak muda. Ghirahnya dalam membela agama dan ayahnya yang dihina menjadi inspirasi bagi kita semua generasi milenial bahwa dalam berprestasi menuju tangga kesukseskan itu, tak perlu malu-malu untuk tetap teguh beragama. Dan lebih jauh lagi, ketika di puncak karir, justru seyogyanya lebih berani memperjuangkan kebenaran, membela kehormatan agama. Wallahualam bswb.


TOPIK BERITA TERKAIT: #mix-martial-arts-mma #khabib-nurmagomedov 

Berita Terkait

IKLAN