X CLOSE Laporan Kinerja DKPP
Rabu, 19 Desember 2018 12:52 WIB

Opini

Ratna Sarumpaet, Rekayasa Siapa?

Redaktur: Redjo Prahananda

Tony Rosyid

Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Jagat Indonesia heboh. Gara-gara Ratna Sarumpaet (RS). Seorang pemain drama. Actingnya menarik perhatian publik. Pembuat hoax terbaik abad ini, akunya.

Kasus RS jadi konsumsi politik. Otomatis. Itu hukum politik. Digoreng sampai mateng. Coba kasih nasihat: jangan dibawa ke politik. Gak mempan!  Malah tak sedikit yang berasumsi: kasus RS sengaja didesign untuk konsumsi politik. Nah...

Setelah RS buat pengakuan, dua kelompok saling tuding. Pro Jokowi (Projo) dan pendukung Prabowo. Hingga hari ini, publik terus bertanya: siapa di belakang RS? Projo, atau pendukung Prabowo? Kok curiga? Sebab, publik melihat banyak kejanggalan dalam kasus RS. Mari kita coba telusuri koronologinya. Supaya sedikit ada gambaran buat publik. Tetap pakai nalar sehat dan waras untuk membaca dan menganalisisnya. Tidak mudah curiga, apalagi asal curiga.

Bermula RS telphon Said Iqbal, Presiden KSPI. Salah seorang pendukung Prabowo. RS nangis, menurut pengakuan Said Iqbal. RS cerita jika ia dianiaya. Minta segera Said Iqbal datang ke rumahnya.

Said Iqbal meluncur ke rumah RS. Dengerin cerita RS. RS antusias. Bahwa ia diseret, dipukulin dan dilempar di Cimahi. Begitulah menurut ceritanya. RS minta ditemukan dengan Prabowo.

Tanggal 2 Oktober, RS pun diberi kesempatan ketemu Sang Jenderal. Said Iqbal jadi mediatornya. RS cerita. Persis sama dengan yang RS ceritakan ke Said Iqbal. Bahwa RS dianiaya oleh tiga lelaki. Prabowo minta RS lapor polisi. Nolak. Gak mau. Kenapa? Kata RS: gak yakin akan diproses. Percuma. RS pesimis. Kok pesimis?

Prabowo bilang: minta bantuan hukum ke ACTA. Prabowo pun akan datangi Kapolri, minta kepada Kapolri agar kasus RS diproses dan dituntaskan. Sampai disini, apa yang salah dengan Prabowo?

Setelah Prabowo konferensi pers, tudingan mulai muncul. Prabowo dianggap memanfaatkan RS untuk kampanye! Prabowo membranding dirinya! Ada yang curiga, jangan-jangan pihak Prabowo yang merekayasa? Prabowo mulai dipojokkan. Jadi bulan-bulanan media dan meme. Cepat sekali prosesnya. Hanya butuh satu hari, Prabowo dihajar. Pihak lawan bersemangat. Sejumlah peluru seolah sudah disiapkan. Tinggal dimuntahkan. Prabowo kejebak konferensi pers, peluru langsung ditembakkan. Sebagai rakyat kita patut bertanya: moralitas politik macam apa ini? Terlepas kita pendukung siapa. Tapi, ini menyangkut moralitas anak bangsa. Bicara moral itu lintas dukungan.

RS yang telphon Said Iqbal. Mengiba untuk dipertemukan dengan Prabowo. Prabowo terima RS dan menyarankan lapor polisi. Prabowo juga mau datang ke Kapolri agar kasus RS ditangani serius.

Kalau Prabowo pemainnya, ngapain nyuruh lapor polisi? Ngapain mau datang ke Kapolri?  Ngapain juga temui RS? Cukup anak buahnya yang ngegoreng. Apalagi kasus RS terjadi tanggal 21 September. Prabowo dilaporin RS tanggal 2 Oktober. Jauh sekali waktunya. Janggal sekali jika pihak Prabowo yang main-main. Ah, Jaka Sembung, gak nyambung.

Kenapa Prabowo konferensi pers? Mudah dibaca: karena empati dan keprihatinan sebagai manusia. Apalagi RS adalah satu dari anggota timsesnya. Siapapun yang denger seorang nenek digebukin, pasti empati. Kasihan dan cenderung marah. Itu natural. Manusia waras namanya. Yang gak sedih dan tersakiti hatinya, patut dipertanyakan. Orang waras malah dicurigai, bahkan dilaporkan ke polisi.

Bagaimana nurani pelapor? Tuduhan dan laporan itu hanya bisa dipahami secara politis. Tak nyambung jika menggunakan pendekatan nurani dan perspektif moral. Kalau pendekatannya politis, muncul pertanyaan: adakah agenda politik di balik kasus RS?

Lihat kronologinya, publik tidak terlalu salah jika kemudian mencurigai kaitan kasus RS itu dengan rencana dan agenda politik pihak tertentu. Apalagi RS juga datang ke rumah Jend (Purn) Joko Santoso. Ketua Timses Prabowo-Sandi. Ditemani Ustaz Sambo, orang dekat Prabowo, Joko Santoso mendengarkan cerita yang sama dari RS. Kenapa Jenderal (purn) Joko Santoso gak ikut dilaporkan ya? Atau setidaknya dihadirkan untuk jadi saksi.

Sehari setelah Prabowo konferensi pers, viral temuan polisi. Lengkap data-datanya. Mulai CCTV, 23 rumah sakit, keterangan sejumlah orang, sampai transfer rekening. Sebelum RS dimintai keterangan. Sampai disini, kerja polisi sangat bagus. Super cepat. Kita perlu apresiasi. Dan hari itu juga, Prabowo mendapatkan serangan dari buzzer yang masif. Bahkan teramat masif.

Coba renungkan dengan obyektif, mungkinkah apa yang dilakukan RS spontan? RS pemain tunggal? Solo drama? Berakting tanpa sutradara? Itulah kira-kira pertanyaan publik

Ada tiga kejadian penting sebelum drama RS itu terjadi. Pertama, RS pernah ribut dan adu mulut dengan salah seorang menteri. Kasus pengangkatan janazah perahu tenggelam di  danau Toba. Kedua, RS kehilangan Hp-nya. Rumornya, Hp itu dicuri. Oleh siapa? Jangan tanya! Pamali. Ketiga, dalam tiga bulan sebelum drama kebohongan ini terjadi, kabarnya RS bertemu secara intens dengan dua lelaki. Bahkan sangat intens. Mereka mengaku utusan dari pihak tertentu.

Apakah tiga peristiwa itu ada hubungannya? Belum tentu. Tapi, jika dikatakan sama sekali tidak ada hubungannya, juga kesimpulan yang terlalu buru-buru. Serahkan ke aparat kepolisian. Itu tugas mereka. Rakyat boleh berasumsi dan curiga, tapi gak boleh menuduh. Apalagi kalau tuduhan itu salah, bahaya!

RS saat ini sudah jadi tersangka. Ditangkap di pesawat Turkish Airlines, saat hendak ke Chile. Cepat sekali prosesnya. Polisi perlu diapresiasi. Gesit dan gerak cepat.

Mungkin nasib RS tidak seperti ini jika saran Prabowo agar ia lapor polisi dijalankan. Sayangnya, RS tak ada niat, bahkan enggan lapor ke polisi. Inilah yang membuat eskalasi kecurigaan publik makin tinggi. Kasus kekerasan, hanya polisilah yang diberikan wewenang untuk menangani. Bukan datang ke Prabowo dan Joko Santoso. Bukan pula curhat di depan Muhammad Amien Rais.

Kasihan Muhammad Amien Rais (MAR). Harus pakai kata "Muhammad", supaya tidak salah. Menurut pengakuannya, MAR mendapat panggilan polisi tanggal 2 Oktober. Sehari sebelum RS mengaku berbohong (3/10). Dua hari sebelum RS ditangkap polisi dan dimintai keterangan. Kok bisa?  Begitulah kira-kira pertanyaan MAR dalam konferensi persnya. Allahu A'lam katanya.

Kita tunggu, bagaimana nasib RS kedepan. Dilepas? SP3? Atau menyasar tersangka lainnya? Dari kubu Prabowo, atau dari kubu Projo? Rakyat berharap kejujuran, kesungguhan dan profesionalitas penegak hukum. Dalam hal ini adalah polisi. Usut kasus RS setuntas-tuntasnya, dan sampai akar-akarnya. Hanya itu harapan rakyat. Sehingga kasus RS tidak bias hukum maupun politik.

Jakarta, 11/10/2018


TOPIK BERITA TERKAIT: #tony-rosyid #ratna-sarumpaet 

Berita Terkait

Ada Tuhan di Antara Anies dan Marbot Masjid

Opini

"Jurus Mabuk" Yusril

Opini

Jangan Kaitkan dengan Politik?

Opini

Bendera, Ormas dan Pilpres 2019

Opini

IKLAN