X CLOSE Laporan Kinerja DKPP
Rabu, 19 Desember 2018 12:51 WIB

Headline

Basir Minta Jatahnya Dibagi Tiga

Redaktur: eko satiya hushada

INDOPOS.CO.ID - Tersangka penerima uang suap proyek pembangunan PLTU Riau-1, Eni Maulani Saragih menyebut Direktur Utama PT PLN, Sofyan Basir mendapat jatah paling 'the best' dari proyek PLTU Riau -1.

"Saya sampaikan juga. Ada sesuatu. Karena pekerjaan ini (PLTU Riau-1) sudah selesai, dari terdakwa (Kotjo), Pak Sofyan yang paling the bestlah, paling banyak," kata Eni saat bersaksi untuk terdakwa Johannes Kotjo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Meski begitu, kata Eni, Sofyan sendiri menolak jatah tersebut. Sofyan menjanjikan jatah itu akan dibagi menjadi tiga dengan porsi yang sama.

Eni mengatakan, pertemuan dengan Sofyan itu dilakukan di Hotel Fairmount tanggal 3 Juli 2018. Sehari kemudian Eni menyampaikan kepada Plt Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham melalui saluran telepon.

"Paginya saya telepon (Idrus). Saya ungkapkan apa adanya, saya ketemu Pak SB. Saya ceritakan finasilasi proyek itu," tutur Eni.

"Saya juga bilang ke Pak Idrus, sudah saya minta supaya Pak Sofyan Basir bilang ke Pak Kotjo supaya memperhatikan Pak Idrus," imbuhnya.

Eni sendiri diduga berperan membantu Bos Blackgold Natural Resources Limited, Johanes B. Kotjo untuk meloloskan proyek PLTU Riau. Dia yang memfasilitasi pertemuan antara Johanes ‎Kotjo dengan Dirut PLN Sofyan Basir untuk membahas proyek itu.

Dalam perkara ini, Johanes Budisutrisno Kotjo didakwa jaksa pada KPK menyuap mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih dan mantan Sekjen Partai Golkar, Idrus Marham sebesar Rp4.750.000.000.

Menurut jaksa, uang yang diberikan Johanes Kotjo kepada Eni Saragih agar perusahaannya mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP)‎ PLTU Riau-1. Proyek tersebut merupakan kerjasama antara PT PJBI, Blackgold Natural Resources Limited, dan China Huadian Engineering Company.

Atas perbuatannya, Johanes Kotjo didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagaimana telah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP‎.

Pada bagian lain, Eni jugamembeberkan peran bekas Ketua DPR RI Setya Novanto dalam kasus ini. Termasuk perkenalan Eni dengan Kotjo melalui Setnov. Lalu ketika masih menjadi anggota Komisi VII DPR, Eni diminta untuk mengawal proyek PLTU Riau-1.

Setelah itu, pertemuan-pertemuan mengawal proyek kerap dilakukan antara Eni dan Kotjo.
Setnov, menurut Eni menjajikannya commitment fee senilai 1,5 juta US Dolar dan saham. "Pak Novanto memberikan semangat atau apalah. Tapi (Setnov) sampaikan, nanti kamu dapat 1,5 juta dolar dan saham. Saya tidak berpikir apapun tapi bunyi seperti itu," kata Eni dalam persidangan.

Kemudian Jaksa KPK mencecar Eni dengan pertanyaan-pertanyaan terkait uang suap yang digunakan Eni dalam kegiatan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar, Desember 2017.

Eni yang ketika itu menjabat sebagai bendahara Munaslub meminta Kotjo membantu Munaslub. Kotjo tak keberatan turut menyumbang senilai Rp 2 M

Namun awalnya, atas sepengetahuan Idrus Marham yang kala itu menjabat sebagai Plt Ketua Umum Partai Golkar, pada tanggal 25 November 2017, Eni meminta Kotjo melalui pesan Whatsapp sejumlah uang senilai 400 ribu dolar Singapura atau senilai Rp 4,4 M.
Kemudian pada tanggal 15 Desember 2017 Eni mengajak Idrus mendatangi langsung tempat Kotjo.

"Ada beberapa yang saya sampaikan terkait gonjang ganjing Munaslub ini. Tapi yang beliau berikan ke saya Rp 2 M untuk kegiatan Munaslub Partai Golkar. Saya memang minta untuk terdakwa sebelumnya. Seingat saya 400 ribu dolar Singapura," papar Eni.

Dalam pertemuan bersama Idrus dan Kotjo, dikatakan Eni, banyak membicarakan mengenai berbagai hal. Tapi yang jelas peran Idrus disitu untuk meyakinkan Kotjo supaya memberikan bantuan kepada Eni.

"Terdakwa (Kotjo) dengan Pak Idrus sudah kenal lama dari yang saya tahu. Pokoknya (Idrus) meminta Pak Kotjo mensupport, membantu saya kalau ada kegiatan umat, organisasi. Karena Pak Kotjo kan pengusaha besar, zakatnya banyak, kalau bantu organisasi nggak masalah," paparnya.
Kotjo sendiri menceritakan punya banyak proyek bagus, salah satunya proyek PLTU Riau-1. Kotjo pun, kata Eni, menyampaikan bahwa dia mendapat bagian karena sebagai agen. (jaa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #proyek-pltu-riau-1 #kpk #setnov 

Berita Terkait

KPK Cekal 5 Orang ke Luar Negeri

Headline

Kasus Bupati Cianjur, KPK Geledah 8 Lokasi

Headline

Kecewa Tuntutan KPK

Nasional

IKLAN