X CLOSE Laporan Kinerja DKPP
Selasa, 18 Desember 2018 11:56 WIB

Jakarta Raya

Mural Bukti Kesetaraan

Redaktur: Sicilia

KEMAMPUAN-Kegiatan melukis di kanvas sepanjang 20 meter ini untuk memberikan kesempatan para penyandang disabilitas menunjukkan karya terbaiknya. Foto: ISMAIL POHAN/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Kaum disabilitas tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka harus dipandang sama dan diberi kesempatan di masyarakat.

Hal itu diungkapkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat menemani kaum difabel melukis mural di Balaikota, Jakarta Pusat, Kamis (11/10). Hasil lukisan mereka bakal digunakan untuk Transjakarta, dipajang di lingkungan Balai Kota, dan dipakai untuk menyemarakkan perhelatan Asian Para Games 2018.

Anies menambahkan, kegiatan melukis mural ini merupakan bentuk apresiasi terhadap penyelenggaraan Asian Para Games 2018 yang sedang berlangsung di Jakarta. ”Keterbatasan fisik seharusnya tidak menjadi penghalang bagi siapapun untuk berkarya. Termasuk di bidang seni,” ungkap Anies.

Dia memberi contoh, komposer kenamaan dunia Ludwig van Beethoven. Kendati punya keterbatasan, tapi karya musik klasiknya fenomenal.

"Seni itu adalah ekspresi rasa. Seni mural ini bisa menjadi pengingat bahwa seni adalah milik siapapun dan tak lekang oleh waktu," kata Anies.

Anies juga mengajak semua elemen masyarakat untuk bisa memberi kesempatan kepada kaum difabel. Agar mereka mampu berkembang di masyarakat.

Momen Asian Para Games, lanjut dia, adalah bukti bahwa atlet difabel bias berprestasi seperti layaknya atlet lain di Asian Games lalu. "Bahwa Asian Para Games 2018 ini menjadi wake up call bagi kita. Kami di pemerintahan dan juga semua pihak di luar pemerintahan harus memberikan akses dan kesempatan bagi semua warga. Tidak terkecuali kaum difabel,” ajaknya.

Dia berharap, semua warga membuka diri. ”Ini kartu nama saya. Sejak dulu kartu nama saya menggunakan huruf braille bersamaan dengan tulisan nama. Untuk menjadi pengingat bahwa sebagian dari yang membaca ini tidak bisa membaca dengan menggunakan mata. Sebagian harus membaca dengan menggunakan rasa dijarinya," ujarnya.

Dalam prakteknya, kartu ini jarang diberikan kepada penyandang tuna netra. Tetapi begitu diberikan bagi orang lain menjadi pengingat.

"Oh iya ya, kartu saya harus diberikan huruf braille juga. Pengingat inilah yang perlu kita tumbuhkan sama-sama," ungkapnya.

"Insya Allah karya dari teman-teman semua yang dilakukan di Balai Kota Pemprov DKI. Insya Allah menjadi karya lukis mural yang bisa lintas zaman dan lintas waktu. Karena dilukis dengan perasaan, dengan hati," tutupnya. (ibl)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #penyandang-disabilitas #mural 

Berita Terkait

Dukung Asian Games, Propan Bikin Mural Cantik di Jakarta

Total Sport

IKLAN