Rabu, 14 November 2018 05:54 WIB
pmk

Nasional

Lion Air Tampak Pasrah

Redaktur: Juni Armanto

Lion Air Dok.INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Pihak Lion Air tampaknya pasrah terkait jatuhnya pesawat PK-LQP dengan nomor penerbangan JT610 di Pantai Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) lalu. Maskapai tersebut menyerahkan sepenuhnya, termasuk sanksi yang akan diterima kepada regulator dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro mengaku pihaknya tetap akan mengikuti arahan dan instruksi regulator. Untuk mendukung kelancaran investigasi KNKT, Kemenhub juga meminta pihak Lion Air untuk membebastugaskan sejumlah direksi maskapai penerbangan tersebut belum lama ini.

Anggota direksi dan personel pesawat udara yang dibebastugaskan sementara di antaranya Director of Maintenance and Engineering, Quality Control Manager, Fleet Maintenance Management Manager, dan Release Engineer PK-LQP. Sebelumnya, Direktur Teknik Lion Air juga telah diminta untuk dibebastugaskan.
Saat disinggung temuan KNKT bahwa Angle of Attack (AOA) sensor telah diganti di Bali pada 28 Oktober, setelah pilot melaporkan adanya kerusakan penunjuk kecepatan, Danang mengaku untuk mengetahui penyebab kecelakaan merupakan ranah KNKT. "Sudah kami serahkan ke KNKT, apapun hasilnya. Saat ini masih ranahnya proses penyidikan dan KNKT. Yang jelas Lion Air sudah menyerahkan apa-apa yang dibutuhkan untuk mendukung proses penyelidikan," ujarnya.

Untuk proses evakuasi, Danang menjelaskan, proses evakuasi serta pencarian penumpang, kru, dan pesawat tetap dilanjutkan pada Kamis (8/11). "Sebelumnya, Rabu (7/ 11) Lion Air juga menerima informasi dari Basarnas bahwa operasi pencarian dan evakuasi diperpanjang selama tiga hari. Ini setelah lakukan evaluasi dari lapangan. Lion Air mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang dipimpin Basarnas atas dedikasi, koordinasi, kerja sama yang solid, sehingga sampai sekarang (hari ke-11, Red) proses tersebut terus berjalan," jelasnya.

"Lion Air tetap melakukan pendampingan kepada keluarga (family assistant, Red) pada setiap posko Jakarta. Lion Air akan menyampaikan informasi terbaru sesuai perkembangan lebih lanjut," pungkasnya.
Sebelumya, data FDR menunjukkan bahwa kerusakan penunjuk kecepatan (Air Speed Indicator) pada empat penerbangan terakhir. Pada penerbangan Bali ke Jakarta pesawat tercatat perbedaan Angle of Attack (AOA) indicator. AOA merupakan indikator penunjuk sikap (attitude) pesawat terhadap arah aliran udara. Perbedaan AOA ini masih terkait dengan kerusakan pada penunjuk kecepatan.

"AOA sensor telah diganti di Bali pada 28 Oktober, setelah pilot melaporkan adanya kerusakan penunjuk kecepatan. Pada penerbangan dari Bali ke Jakarta muncul perbedaan penunjukkan AOA dimana AOA sebelah kiri berbeda 20° dibanding yang kanan. Pilot melakukan beberapa prosedur dan akhirnya dapat mengatasi masalah dan pesawat mendarat di Jakarta. Keberhasilan pilot menerbangkan pesawat yang mengalami kerusakan ini menjadi dasar KNKT memberikan rekomendasi kepada Boeing untuk disampaikan kepada airline di seluruh dunia jika menghadapi situasi yang sama," jelas Ketua KNKT Soerjanto Tjahyono.

Sementara itu, kemungkinan adanya pidana dalam jatuhnya Lion Air JT 610 secepatnya diketahui. Pasalnya, Polri memastikan bahwa ada kesamaan hipotesa atau penyebab sementara dalam jatuhnya Lion Air JT 610. Kerusakan alat petunjuk kecepatan pesawat menjadi hal yang menonjol dalam pemeriksaan terhadap pilot.
Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan bahwa penyelidikan yang dilakukan KNKT telah memiliki hipotesa berupa gangguan navigasi, baik alat petunjuk kecepatan dan ketinggian. ”Itu temuannya KNKT,” ujarnya di Jakarta, Kamis (8/11).

Polri memeriksa sejumlah pihak, terutama, pilot Lion Air yang menerbangkan pesawat sebelum jatuh, dari Manado ke Bali dan Bali ke Jakarta. Hasilnya, ternyata temuannya hampir sama. ”Dari pemeriksaan Polri, hampir klop dengan hipotesa KNKT,” paparnya.

Dia memastikan pemeriksaan tidak hanya ke pilot. Namun, teknisi Lion Air juga telah diperiksa terkait kasus tersebut. ”Kita lihat kesimpulannya seperti apa nantinya, yang pasti Polri tidak ingin kejadian yang sama terulang,” tegasnya.

Pemeriksaan yang dilakukan Polri meluas tidak hanya soal kerusakan petunjuk kecepatan. Namun, juga mencoba menemukan fakta lainnya, misalnya kemungkinan pilot menggunakan obat-obatan atau malah pilot dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak prima. ”Maka, dari tim kesehatan perusahaan ini kita periksa juga. Bahkan sampai ke petugas keamanan,” tuturnya.

Komunikasi antara Polri dengan KNKT terus dilakukan. Begitu hasil dari pemeriksaan KNKT diketahui, maka Polri akan mampu membuat kesimpulan. Apakah ada pidana atau tidak. Dia meyakinkan bahwa penyidik yang menangani kasus tersebut memiliki kemampuan untuk menangani kasus jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. ”Ini tim khusus lho, mengikuti pelatihan penyelidikan penanganan penerbangan sampai ke Belanda,” urainya.

Dedi menuturkan bahwa penyidik yang menangani kasus tersebut pernah menangani kasus jatuhnya pesawat Garuda di Jogjakarta. Yang hasilnya diketahui ada unsur pidana. ”Tim ini dibentuk Kabareskrim,” ungkapnya.
Apakah kemungkinan kelalaian teknisi akan diselidiki? Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan bahwa nantinya KNKT yang akan mendeteksi hal tersebut. ”Mereka akan kaji juga masuk kecelakaan penerbangan apa sudah ranah pidana. KNKT dulu soal kemungkinan keteledoran,” ujarnya.

Setyo menyebut untuk satu dugaan yakni, sabotase kelompok teroris dipastikan tidak ada. Laboratorium Forensik sudah menyatakan tidak ada bekas kebakaran, sama seperti KNKT yang memastikan tidak ada api. ”Bukan karena ledakan, bukan karena api,” tuturnya.

Klaim Tak Ada Pelanggaran

Terkait insiden sayap kiri pesawat Lion Air JT-633 yang menyenggol tiang koordinat di Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu (BKS) tujuan Jakarta, Rabu (7/ 11), pihak manajemen Lion Air menegaskan tidak ada prosedur yang dilanggarnya. Pergerakan pesawat dari landas parkir (apron) menuju landas hubung (taxiway) di Bandara Fatmawati harus dipandu oleh petugas Aircraft Movement Control (AMC).

"Penerbangan JT-633 dengan registrasi pesawat PK-LGY dalam pergerakannya telah mengikuti panduan dan petunjuk serta tanda dari personel AMC tersebut. Tapi pada saat terjadi pergerakan lekukan ujung sayap menyenggol tiang koordinat," ujar Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro, Kamis (8/11)

Pihaknya, lanjut dia, telah menerima dokumen berupa surat pernyataan dari personel AMC yang bertugas memandu pesawat tersebut. "Yang isinya berupa permohonan maaf atas terjadinya insiden dimaksud," pungkasnya.

Plt Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub M. Pramintohadi Sukarno mengatakan, pihaknya akan segera melakukan investigasi menyusul insiden pesawat Lion Air yang menyenggol tiang di Bandara Fatmawati Bengkulu. Pesawat Lion Air JT 633 sekitar pukul 18.20 WIB menyenggol tiang ketika akan menuju landasan pacu. "Untuk kejadian ini akan dilakukan investigasi Inspektur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Inspektur Bandar Udara dan Inspektur Navigasi Penerbangan guna melihat penyebab kejadian dan langkah tindak lanjut yang tepat. Saat ini pesawat dan pilot telah di-grounded untuk keperluan investigasi," tandasnya. (dai/idr)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #duka-jt-610-lion-air #pesawat-lion-air-jatuh #jakarta-pangkal-pinang #pesawat 

Berita Terkait

IKLAN