Rabu, 14 November 2018 05:46 WIB
pmk

Nasional

Jatuhnya Pesawat Lion Air, Polisi Ungkap Kemungkinan Adanya Pidana

Redaktur: Heryanto

Lion Air. Dok.Indopos

INDOPOS.CO.ID - Kemungkinan adanya pidana dalam musibah jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 bakal diketahui secepatnya. Polri memastikan adanya kesamaan penyebab sementara dalam jatuhnya pesawat nahas tersebut. Kerusakan alat petunjuk kecepatan pesawat menjadi hal yang menonjol dalam pemeriksaan terhadap pilot yang pernah menerbangkan pesawat itu.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, penyidikan oleh Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) menghasilkan kesimpulan sementara adanya gangguan navigasi. Baik alat petunjuk kecepatan maupun ketinggian.

“Itu temuan KNKT,” ujar Brigjen Dedi Prasetyo dilansir Jawapos.com (grup INDOPOS), Kamis (8/11).
Polri memeriksa sejumlah pihak. Terutama pilot Lion Air yang menerbangkan pesawat itu sebelum terjadinya insiden tersebut, baik dari rute Manado-Denpasar maupun Denpasar-Cengkareng.

“Hasil temuannya ternyata hampir sama. Dari pemeriksaan Polri, hampir klop dengan hipotesis KNKT,” papar Dedi.

Dia memastikan bukan hanya pilot, tapi juga teknisi Lion Air diperiksa terkait kasus tersebut. “Kita lihat kesimpulannya seperti apa nanti. Yang pasti, Polri tidak ingin kejadian yang sama terulang," tegasnya.
Pemeriksaan yang dilakukan Polri meluas bukan hanya soal kerusakan petunjuk kecepatan. Namun, Korps Bhayangkara itu juga berusaha menemukan fakta lain. Misalnya, kemungkinan pilot menggunakan obat-obatan atau malah pilot dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak prima.

“Maka, tim kesehatan perusahaan ini kita periksa juga. Bahkan, sampai ke petugas keamanan,” tuturnya.
Apakah kelalaian teknisi akan diselidiki? Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, KNKT akan mendeteksi hal tersebut. “Mereka akan kaji juga masuk kecelakaan penerbangan atau sudah ranah pidana. KNKT dulu soal kemungkinan keteledoran," ujarnya.

Hingga kemarin cockpit voice recorder (CVR) pesawat Lion Air PK-LQP bernomor penerbangan JT 610 belum ditemukan. Sinyal dari ping locator makin lemah. Namun, Basarnas dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih mencari salah satu kotak hitam tersebut yang bisa menjadi kunci informasi jatuhnya Boeing 737 MAX 8 tersebut.

Basarnas hingga besok, Jumat (10/11) menargetkan operasi yang dilakukan bertujuan mencari korban. Mereka menduga, masih ada beberapa korban di dasar laut sekitar puing pesawat hingga radius 250 meter.

"Target operasi SAR tim Basarnas adalah melakukan penyapuan, baik di dasar laut maupun di permukaan untuk mencari korban," kata Kabasarnas Muhammad Syaugi kemarin (8/11).

Staf Humas Agus Basori mengatakan, ada kemungkinan jenazah korban yang ditemukan terendam lumpur di dasar laut. Perairan utara Karawang, Jawa Barat, memiliki kedalaman 30-35 meter. Dengan demikian, tim evakuasi bisa menyelam secara manual. "Kemungkinan yang tersisa, ya hanya body part (potongan bagian tubuh, Red)," ungkapnya.

Basarnas telah memerintah tim penyelam untuk melakukan sapu bersih, baik di dasar maupun permukaan. Sebab, puing-puing pesawat berserakan. Puing dan body part yang berukuran kecil memang mudah hanyut. Tim evakuasi pun memperluas jangkauan pencarian.

“Body part yang besar sudah tidak ada. Serpihan nyebar sampai radius 250 meter," ungkapnya. Meski sudah berhari-hari terendam di kedalaman air laut, body part jenazah korban itu tetap bisa dikenali. Itu dilakukan melalui pengujian DNA.

Hingga kemarin sore tim penyelam mengevakuasi body part korban yang mencapai delapan kantong jenazah. Semua dibawa ke posko dengan menggunakan KN SAR-231 Sadewa tepat pukul 18.10. Sejak hari pertama hingga kemarin, total jumlah body part yang telah dievakuasi sebanyak 195 kantong. (lyn/idr/c10/c6/agm/jpg)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #duka-jt-610-lion-air #pesawat-lion-air-jatuh #jakarta-pangkal-pinang #pesawat 

Berita Terkait

IKLAN