Selasa, 20 November 2018 06:54 WIB
pmk

Internasional

Jurnalis Kritis Mati Dalam Penjara Saudi

Redaktur: Indra Bonaparte

TRAGIS – Setelah Jasser ditangkap dan ditahan, ia dinyatakan meninggal namun dengan luka-luka akibat penyiksaan. (FOTO : MIRROR / TWITTER)

INDOPOS.CO.ID - Belum tuntas pengusutan kasus pembunuhan keji terhadap jurnalis Arab Saudi di Turki, Jamal Khashoggi. Kini muncul kasus baru yang hampir sama. Seperti diberitakan Daily Mirror pada Rabu, (7/11), maupun media-media lokal di Saudi, jurnalis yang kali ini bernasib naas itu bernama Turki Bin Abdul Aziz Al Jasser.

Ia diduga telah disiksa sampai mati di penjara Saudi. Penangkapan disusul penyiksaan dan pembunuhan terhadap Jasser setelah korban dituding telah menjalankan akun twitter yang mengekspos masalah Hak Asasi Manusia (HAM) di Saudi. Pihak berwenang menduga Jasser diam-diam menjalankan akun anonim twitter dengan nama @coluche_ar (Kashkool)‏. Sebelum dibunuh, Jasser ditangkap aparat keamanan Saudi pada Maret lalu. Begitu ditangkap ia langsung ditahan. Namun beberapa bulan dalam penahanan, ia diberitakan meninggal pada Senin (5/11) dengan meninggalkan bekas-bekas penyiksaan pada tubuhnya.

Dari pantauan INDOPOS, akun @coluche_ar yang dijalankan Jasser diikuti 184 ribu pengikut, dan hanya mengikuti 27 akun lain. Bunyi status dan postingan akun tersebut sebagian besar mengekspos pelanggaran HAM dilakukan para pejabat dan bangsawan Saudi. Sejumlah sumber mengatakan, pemerintah mengidentifikasi Al-Jasser sebagai admin akun tersebut berdasarkan laporan mata-mata yang bekerja di kantor regional Twitter di Dubai.

Menurut sejumlah sumber, para mata-mata ini adalah bagian dari tentara siber Saudi yang dibentuk Saud Al-Qahtani, mantan orang kepercayaan Pangeran Mohammed bin Salman alias MBS. Lewat sebuah kicauan di akun twitter-nya, Al-Qahtani mengatakan, ”menggunakan nama palsu di Twitter tidak akan melindungi sosok di balik nama tersebut dari kejaran pemerintah Saudi.”

Hingga saat ini para pejabat Saudi belum mengomentari kematian Turki Bin Abdul Aziz Al Jasser. Ironisnya, berita ini datang tatkala warga masih berduka atas meninggalnya jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi, 59, yang diduga disiksa lebih dahulu baru dimutilasi hidup-hidup pada Selasa (2/10) lalu.

Kematian Turki Bin Abdul Aziz Al Jasser dan Jamal Khashoggi menambah daftar jurnalis dan blogger yang dibungkam kerajaan. Reporters Without Borders (RSF), dilansir dari situsnya, rsf.org, menyebutkan metode tradisional yang digunakan Kerajaan Saudi untuk membungkam jurnalis kritis merupakan alasan untuk mengkhawatirkan yang terburuk bagi para jurnalis.

Dalam banyak kasus, penangkapan mereka tidak pernah dikonfirmasi secara resmi dan tidak ada pejabat yang pernah mengatakan di mana mereka ditahan atau dakwaan mereka. Hingga saat ini setidaknya 30 jurnalis profesional dan non-profesional seperti blogger yang sedang menjalani penahanan di Saudi.

Beberapa diantaranya Saleh el Shihi yang ”hilang” pada Desember 2017, dan keluarganya baru diberitahu dua bulan kemudian kalau Saleh ditangkap dan sudah divonis lima tahun penjara. Shehi kerap mengkritik kampanye antikorupsi yang digencarkan pemerintah pada November 2017. Dikutip dari Alaraby.co.uk, korban lainnya adalah kolumnis Al-Watan yang ditahan pada 3 Januari 2018 setelah menuduh istana korupsi ketika dia tampil di acara TV Yahalla. Pada bulan yang sama pemerintah Saudi menangkapi puluhan pejabat tinggi dan pengusaha dan menahan mereka di hotel Ritz-Carlton bintang lima di Riyadh.

Selain itu, jurnalis sekaligus ekonom bernama Essam al Zamel juga ditangkap lantaran melalui akun twitter-nya ia mengkritik strategi ekonomi pemerintah khususnya program ekonomi Visi 2030 yang digagas Pangeran MBS. Saat itu Zamel dituduh bergabung dengan organisasi teroris, membocorkan rahasia kerajaan kepada diplomat asing dan menghasut. Jurnalis dan komentator Turad Al Amri ”hilang” sejak November 2016. Pemerintah saudi tidak pernah mengkonfirmasi penahanannya.

Kicauan terakhirnya, dia mengutuk tindakan keras terhadap media Saudi, khususnya pemblokiran media online. Jurnalis Fayez ben Damakh juga ”hilang” sejak September 2017. Saat itu Damakh hendak meluncurkan saluran berita TV di Kuwait. Menurut media setempat, dia diculik dan diekstradisi ke Saudi, namun pemerintah Saudi tidak mengkonfirmasi penahanannya. (ina/jpc/jpg)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #arab-saudi #turki #turki-bin-abdul-aziz-al-jasser #peristiwa 

Berita Terkait

Preman Uzur Gagahi Siswi SMP hingga Hamil

Megapolitan

5 Pembunuh Khashoggi Dituntut Mati

Internasional

Stop Bunuh Gajah!

Headline

Korban Keracunan Masal Jadi 102 Orang

Megapolitan

Saling Bantah Penahanan Bayi di RSUD

Jakarta Raya

HRS Aman, Saudi Sayangkan Pembakaran Bendera Tauhid

Headline

IKLAN