Jumat, 14 Desember 2018 11:42 WIB

Nusantara

SD Munggu Ringkit, SD "Laskar Pelangi" di Pegunungan Meratus

Redaktur: Purwoko

MIRIS - Para murid mendengarkan guru Lihudin, yang menerangkan pelajaran berhitung. RASIDI FADLY/RADAR BANJARMASIN

INDOPOS.CO.ID - Tak semua siswa sekolah mendapat tempat yang layak untuk belajar. Masih banyak diantaranya yang harus menyisahkan pahit lantaran menempuh pendidikan diruangan Pagi itu, mesin kendaraan dihidupkan. Lihudin berangkat dari rumahnya di Desa Harakit, Kecamatan Piani. Lelaki berumur 32 tahun itu adalah guru di sebuah SD Filial di Dusun Munggu Ringkit, Kecamatan Piani, yang berbatasan dengan Kabupaten Banjar.

Jarak dusun itu sebenarnya dekat. Namun karena akses terdekat hanya bisa naik gunung dengan berjalan kaki,dia terpaksa harus mengelilingi dua desa untuk sampai ke sekolah. Dia harus melewati Desa Batung dan Desa Balaiwian dengan jarak tempuh sekitar 13 kilometer. Dia biasa menempuhnya dalam waktu 30 menit.

Sekolah yang dituju itu adalah "cabang" dari SDN Harakit. Jangan bayangkan gedung sekolah dengan fasilitas lengkap. Bangunan yang disebut sekolah itu hanyalah seperti gudang tua kecil dengan genteng seng dan dinding dipenuhi lubang. Sesampainya di halaman, Lihu --sapaan akrabnya-- rupanya sudah ditunggu para siswa.

"Bapa datang," ucap salah satu murid yang kemudian memanggil teman-temannya menuju bangunan tua itu.

Begitu pintu dibuka, ruangan dalam gudang tua itu menjadi jelas. Ruangan itu hanya berukuran panjang 3 meter dan lebar 6 meter. Selebihnya meja kursi dan papan tulis sederhana. Ada juga beberapa buku pelajaran yang tertumpuk di sudut."Meja dan kursi ini dibangun hasil dari swadaya masyarakat di sini," kata Lihu kepada wartawan.

Sebelum berbaris untuk masuk kelas, siswa-siswa yang sudah berkumpul mengambil sapu untuk membersihkan kelas. "Ini memang sudah kebiasaan mereka," bebernya.

Lihu menceritakan sekolah kecil ini bermula di 2016 lalu saat dirinya diangkat menjadi tenaga kontrak dari Dinas Pendidikan untuk mengajar di SDN Harakit. Baru beberapa hari mengajar, ada masyarakat Dusun Munggu Ringkit yang datang kepadanya."Bapa Lihu tolong, kami punya anak, tetapi sampai saat ini mereka belum bisa membaca dan menulis," katanya menirukan permintaan masyarakat saat itu. Masyarakat di dusun itu tak sanggup mengantarkan anak-anak mereka sekolah di luar dusun.

Lihu yang tersentuh memberitahukan hal ini kepada Kepala Sekolah. Kepala sekolah mengadakan rapat dengan guru-guru lainnya. Diambil keputusan, akan membangun sekolah cabang di Dusun Munggu Ringkit, dengan Lihu sebagai pengajarnya

Lihu tak langsung menerima. "Saya sempat berpikir-pikir, karena dari segi biaya dan fasilitas belum lengkap," ucapnya. Dalam hitungannya, setiap bulan dia harus mengeluarkan biaya sekitar 300 ribu untuk transportasi. Gajinya sendiri sebagai guru kontrak hanya sebesar Rp 1,150.000 perbulan.

Dasar memang jiwa pendidik, akhirnya Lihu mengiyakan untuk mengajar di sana. Murid pertamanya hanya lima orang. "Selama satu bulan mengajar, saya melakukan proses belajar mengajar disebuah gardu saja," ucap ayah dari dua orang anak ini. Saat itu, karena tidak ada papan tulis, anak-anak hanya mendengarkan saja.

"Melihat itu masyarakat sana tergerak untuk membuatkan tempat yang layak untuk belajar," ungkapnya. Ada sebuah gudang terbengkalai yang dibuat oleh pemerintah, masyarakat bergotong royong menyediakan papan, paku, dan membuat meja dan kursi. "Semua itu, agar gudang ini bisa dipakai untuk proses belajar mengajar," katanya.

Sekarang murid yang belajar di SD Filial ini berjumlah 12 orang, terdiri dari kelas 1 tiga orang, kelas 2 empat orang dan kelas 3 ada lima orang. "Dari 12 murid, ada kakak beradik yang anak berkebutuhan khusus," katanya. (Bersambung)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks 

Berita Terkait

Modal Ijazah Saja Tidak Cukup

Nasional

Tertipu Cuaca Guangzhou

Total Sport

IMCV Pelopor Toleransi, Berdakwah Meski Minoritas

Internasional

IKLAN