Sabtu, 15 Desember 2018 12:43 WIB

Nasional

Suap Kalapas Pakai Tas Louis Vuitton

Redaktur: Jakfar Shodik

TERIMA SUAP-Mantan Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen saat keluar dari gedung KPK menjalani pemeriksaan Oktober lalu. Kemarin (5/12), dia menjalani persidangan perdana di Pengadilan Tipikor, Bandung.FOTO:MIFTAHUL HAYAT/JAWA POS

INDOPOS.CO.ID - Skandal suap pemberian fasilitas istimewa di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1 Sukamiskin, Bandung berlanjut. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyeret dua narapidana (napi) selain suami Inneke Koesherawati, Fahmi Darmawansyah. Diketahui dua terpidana korupsi lain diantaranya, Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan dan Fuad Amin Imron.

Merujuk dakwaan mantan Kalapas Sukamiskin Wahid Husen yang menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor Bandung, kemarin (5/12).

Wawan dan Fuad didakwa memberikan hadiah agar mendapat kemudahan keluar masuk lapas yang masing-masing nilainya sebesar Rp 63,3 juta dan Rp 71 juta. Uang itu diberikan bertahap kepada Wahid melalui stafnya Hendry Saputra.

Sementara dari Fahmi, Wahid didakwa menerima uang Rp 39,5 juta. Tidak hanya itu, Wahid juga menerima hadiah lain seperti, mobil Double Cabin 4x4 merek Mitsubishi Triton, sepasang sepatu boot, sandal Kenzo, dan tas bermerk Louis Vuitton (LV). Tas itu diduga telah diberikan Wahid untuk Dirjen Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami sebagai kado ulang tahun (ultah), Juli lalu.

Jaksa penuntut umum (JPU) KPK Trimulyono Hendardi dalam dakwaannya membeberkan, tiga napi itu mendapat sejumlah fasilitas selama mendekam di Sukamiskin. Fahmi, misalnya. Selain kamar sel mewah, terpidana kasus suap proyek Badan Keamanan Laut (Bakamla) itu juga membuka bisnis persewaan bilik asmara bagi para napi.

Kamar berukuran 2x3 meter yang berada di area lapas yang disewakan dengan tarif Rp 650 ribu. Bilik asmara tersebut dikelola oleh Andri Rahmat, tahanan pendamping (tamping) Fahmi yang juga mendekam di lapas tersebut.

”Fahmi Darmawansyah dan Andri Rahmat diberikan kepercayaan untuk berbisnis mengelola kebutuhan para warga binaan di Lapas Sukamiskin,” kata jaksa Tri.

Sementara Wawan disebut oleh jaksa berkali-kali mendapat izin berobat dan izin luar biasa (ILB) dari Wahid agar bisa dengan mudah keluar lapas. Namun, izin itu disalahgunakan. Pada 5 Juli lalu, Wawan mendapat ILB untuk mengunjungi ibunya yang sedang sakit di Serang, Banten. Namun faktanya, Wawan justru menginap di hotel Hilton, Bandung selama dua hari.

Selain itu, pada 16 Juli Wawan mendapat izin berobat di RS Rosela, Karawang. Izin itu juga disalahgunakan. Di tanggal tersebut, Wawan justru pergi ke rumah kakaknya, Ratu Atut Chosiyah di Jalan Suryalaya IV Bandung. Setelah itu, Wawan kemudian menginap di hotel Grand Mercure Bandung bersama teman wanitanya.

Kemudahan keluar lapas itu juga dipergunakan Fuad Amin untuk berlama-lama di rumahnya di Jalan Kupang Jaya Nomor 4 Kelurahan Sukamanunggal, Surabaya. Pada 30 April lalu, Fuad mendapat ILB dengan alasan menjenguk orang tua yang sedang sakit. ILB itu melebihi batas. Mantan Bupati Bangkalan itu kembali ke lapas 4 Mei. Padahal, mestinya dia kembali 2 Mei.

Bukan hanya itu, Fuad juga pernah mendapat izin berobat pada 21 Maret yang disalahgunakan untuk bermalam di rumahnya di Jalan H. Juanda Nomor 175 Dago, Bandung. Fuad awalnya diantar keluar lapas menggunakan mobil ambulance. Namun, ambulance yang ditumpangi tidak menuju ke rumah sakit rujukan. Melainkan, hanya mengantar sampai di parkiran Rumah Sakit Hermina, Bandung.

Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif menambahkan, pihaknya akan mendalami pemberian-pemberian dari Fuad dan Wawan. Sebab, keduanya belum ditetapkan sebagai tersangka baru dalam kasus tersebut. Sejauh ini, baru Fahmi saja yang telah ditetapkan tersangka oleh KPK. ”Nanti akan kami diskusikan (dengan penuntut umum dan penyidik,Red),” terangnya. (tyo/agm/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #lapas-klas-1-sukamiskin #kpk 

Berita Terkait

Komitmen Bangun Pendidikan Antikorupsi

Nasional

Novel Desak Presiden Bentuk TGPF

Headline

Menristekdikti Apresiasi Pendidikan Antikorupsi

Nasional

IKLAN