Sabtu, 15 Desember 2018 12:19 WIB

Internasional

Patungan Beli Rumah Tua untuk Bangun Masjid

Redaktur: Juni Armanto

RELIGI-Mantan Presiden Iqro Foundation Syamsul Bahri (dua kiri) bersama politikus PKS Mardani Ali Sera di depan Masjid Iqro, Sydney, Australia. FOTO: DILIANTO/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Bagi yang ingin melaksanakan salat Jumat di Australia saat ini tidak sulit. Di setiap suburb atau setingkat kecamatan tersedia satu masjid. Umat Islam, terutama yang berasal dari Indonesia pun lebih nyaman dalam menjalankan ibadah di Negeri Kangguru. Seperti apa suasananya?

DILIANTO, AUSTRALIA

”ALHAMDULILLAH, kami di sini dimudahkan dalam beribadah. Masjid banyak bertebaran, khususnya yang ada di kota-kota besar. Setidaknya per suburb pasti ada masjid yang bisa dipakai untuk salat Jumat dan berjamaah lainnya,” kata Syamsul Bahri, mantan Presiden Iqro Foundation mengawali pembicaraanya kepada INDOPOS yang pekan lalu berkesempatan memenuhi undangan melihat perkembangan Komunitas Muslim Indonesia di Australia.

Tokoh muslim Indonesia yang menetap di Sydney, sejak 1987 ini menjelaskan, sudah terdapat 100 masjid pada kota yang memiliki Opera House paling ikonik se-dunia itu. ”Sedangkan yang dikelola Komunitas Muslim Indonesia ada lima masjid,” ungkapnya.

Di negara yang daratannya lebih luas empat kali dari Indonesia ini, Islam semakin berkembang pada medio 1990. Berry menjelaskan, saat itu banyak imigran dari Timur Tengah yang mencari suaka atau datang dengan visa pelajar dan pekerja yang menikah dengan warga Australia. Bahkan banyak yang akhirnya menetap, sehingga mendapat status Permanent Residence (PR) dan berganti kewarganegaraan Australia.

Dengan kondisi tersebut, komunitas muslim kian meningkat, termasuk muslim Indonesia. Di Sydney saja diperkirakan terdapat sekitar 9 ribu orang muslim dari Indonesia. ”Muslim berkembang, terutama karena datang dengan visa pekerja, pelajar. Tapi lebih banyak lagi adalah munculnya generasi baru anak-anak Indonesia yang terlahir di Australia ini,” terangnya.

Membina muslim Indonesia bagi Berry, tak mudah. Pasalnya, Indonesia baru memiliki lima masjid. Salah satunya Majisd Iqro yang berada di Jalan 39 McCourt St, Wiley Park NSW. ”Masjid Iqro inilah yang kami fungsikan secara maksimal tidak hanya sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi multifungsi. Ada Ta'lim atau pengajian mingguan, ada TPA (Taman Pendidikan Alquran) yang diisi sekitar 100 anak-anak setiap tahunnya. Alhamdulillah, sudah banyak yang hafiz (penghapal Alquran, Red),” ucapnya.

Menurut dia, tidak mudah mendidik anak-anak Indonesia yang lahir di Australia. Ini karena pergaulan di sana sangat bebas. ”Inilah peran kami para orangtua yang terlahir di Indonesia untuk terus mengingatkan kepada generasi baru agar tetap menjaga akhlak selama tinggal di Australia," jelasnya.

Iqro Foundation tidak pernah bosan membekali generasi baru percampuran Indonesia-Australia dengan menyalurkan bakat olahraga. ”Salah satunya kita punya klub bola yang dibina oleh salah satu pengurus Iqro yang kebetulan adalah mantan pemain Persebaya. Yang alhamdulillah sering mengikuti liga sekolah,” terangnya.

Sebelum menjadi yayasan, Iqro Foundation merupakan komunitas pengajian warga Indonesia yang selalu berpindah tidak tetap. Bergerilya dari rumah ke rumah. Masjid ke masjid. ”Tapi masjid yang kami pakai adalah masjid milik warga Turki, Libanon, dan lain-lain,” terang Berry.

Sampai akhirnya komunitas itu memutuskan untuk membangun masjid. ”Karena sering berpindah tempat inilah, kami putuskan untuk membeli properti yang kami jadikan tempat dakwah,” imbuhnya.

Berbekal dengan menggunakan kas Ta'lim yang berjumlah AUD 75.000 atau setara Rp 800 juta yang didapat dari celengan atau tabungan selama sepuluh tahun, maka dibeli sebuah rumah tua yang harganya berkisar AUD 320.000 atau sekitar Rp 3, 5 miliar. ”Kekurangan dana itulah yang kami tutupi dengan menggunakan pinjaman dari Bank Syariah di Australia,” terangnya.

Lalu, bagaimana utang itu dilunasi? ”Utang ini harus kami beranikan dengan berbagai cara. Kami menjalankan kenclengan (celengan, Red) anggota tiap pertemuan, serta melalui acara Tabligh Akbar dengan mengundang berbagai ustad kondang dari Indonesia seperti Ustad Abdul Somad,” ungkapnya.

Dana membayar utang juga didapat dari lelang infak pajak penghasilan. ”Kalau di Australia, setiap pajak penghasilan pekerja itu selalu dikembalikan di akhir tahun. Warga bisa mengklaim pengembalian pajak dari AUD 600-2.000. Nah inilah yang kami tawarkan untuk disumbang buat pembangunan Masjid Iqro,” tandasnya. (bersambung)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks 

Berita Terkait

Modal Ijazah Saja Tidak Cukup

Nasional

Tertipu Cuaca Guangzhou

Total Sport

IMCV Pelopor Toleransi, Berdakwah Meski Minoritas

Internasional

IKLAN