Sabtu, 15 Desember 2018 12:30 WIB

Nusantara

Gudang Dikunci, Tapi Selalu Dimasuki Binatang

Redaktur: Indra Bonaparte

INDOPOS.CO.ID - Belajar di gudang kecil kadang membuat siswa SD Dusun Munggu Ringkit setiap hari harus membersihkan kotoran hewan. Apalagi, dengan kondisi yang tak terkunci, binatang-binatang gampang masuk ke dalam melalui dindingnya yang berlubang-lubang.

RASIDI FADLI, Rantau

Saat Lihudin datang, 12 siswa SD Dusun Munggu Ringkit sedang membersihkan kelas dan halaman sekolah. "Itu memang sudah kebiasaan mereka," ucap Lihu --panggilan akrab Lihudin-- satu-satunya guru SD yang mengajar di sana.

Belajar di gudang kecil memang harus lebih rajin membersihkan. Pasalnya, meski gudang itu ditutup saat hari libur, tapi binatang-binatang gampang masuk ke dalam melalui dindingnya yang berlubang-lubang. "Ya, otomatis kotoranya kerap ada di meja dan kursi mereka," katanya.

Kondisi ini bahkan membuat siswa-siswa mengeluh. Ayuneke Vironika, siswa SD Dusun Munggu Ringkit kepada Radar Banjarmasin dengan polosnya berharap sekolahnya bisa dibangun dengan layak dan gurunya bertambah. "Semoga keinginanku ini terwujud," kata siswa kelas 2 ini.
Jika sudah demikian, Lihu langsung memberi semangat. "Apapun keadaannya, kita tetap harus rajin belajar," ucapnya kepada siswa. Dia mengatakan bersekolah sangatlah penting untuk masa depan. "Itu yang selalu saya tanamkan kepada mereka," tuturnya.

Selain sekolah yang hanya gudang kecil beralaskan tanah, tak ada fasilitas layaknya sekolah umumnya. Tak ada toilet, tak ada tempat bermain, juga kursi dan meja yang layak, belum dimiliki SD Filial ini.

Lihu kerap meminta kepada pemerintah dan aparat desa untuk bisa memperhatikan sekolahnya, paling tidak bisa diperbaiki menjadi tempat yang layak. Bagaimanapun, dana desa pikir Lihu bisa dipakai untuk membangun infrastruktur pendidikan itu.

Apa tanggapan dari aparat desa? "Kata mereka sekolah itu ada dananya dari Dinas," ucap Lihu, yang sejak saat itu tidak ingin lagi mengungkit kondisi sekolahnya ke aparat di desa. Lihu mengatakan dia tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Lihu hanya tenaga yang diminta oleh orang tua di Dusun Munggu Ringkit pada 2016 lalu, saat dirinya diangkat menjadi tenaga kontrak dari Dinas Pendidikan untuk mengajar di SDN Harakit. Baru beberapa hari mengajar, ada masyarakat Dusun Munggu Ringkit yang datang kepadanya."Bapa Lihu tolong, kami punya anak, tetapi sampai saat ini mereka belum bisa membaca dan menulis," katanya menirukan permintaan masyarakat saat itu. Masyarakat di dusun itu tak sanggup mengantarkan anak-anak mereka sekolah di luar dusun.

Lihu yang tersentuh memberitahukan hal ini kepada Kepala Sekolah. Kepala sekolah mengadakan rapat dengan guru-guru lainnya. Diambil keputusan, akan membangun sekolah cabang di Dusun Munggu Ringkit, dengan Lihu sebagai pengajarnya.

Lihu tak langsung menerima. "Saya sempat berpikir-pikir, karena dari segi biaya dan fasilitas belum lengkap," ucap suami dari Bitsi Daubung. Dalam hitungannya, setiap bulan dia harus mengeluarkan biaya sekitar 300 ribu untuk transportasi. Gajinya sendiri sebagai guru kontrak hanya sebesar Rp 1,150.000 perbulan.

Lihu sendiri sudah lama bekerja sebagai tenaga pengajar kontrak di desanya. Sewaktu lulus SMP, dia sudah mengajar di SDN Harakit. Dua tahun bekerja sebagai guru honor pembantu dengan gaji Rp 50 ribu. Lihu akhirnya melanjutkan sekolah SMA di Banjarbaru. "Selama SMA, setiap kali liburan saya pulang kampung, untuk membantu mengajar di SDN Harakit," ucap pria yang akhirnya bisa lulus S1 di Universitas Ahmad Yani (Uvaya) angkatan 2015 ini.

Lihu kenyang dengan suka duka mengajar. Sukanya, dia senang melihat semangat anak-anak dalam belajar. Dukanya, dia miris melihat keadaan sekolahnya.

Apakah Lihu mendaftar CPNS untuk guru? Ternyata tidak. Penyebabnya sederhana. Lihu belum memahami cara mendaftar online itu. "Di sini hampir dipastikan tidak ada sinyal handphone, jadi untuk mencari informasi pendaftaran terasa sulit," bebernya. (*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks 

Berita Terkait

Modal Ijazah Saja Tidak Cukup

Nasional

Tertipu Cuaca Guangzhou

Total Sport

IMCV Pelopor Toleransi, Berdakwah Meski Minoritas

Internasional

IKLAN