Jumat, 14 Desember 2018 11:43 WIB

Internasional

Pemerintah dan Houthi Berunding

Redaktur: Indra Bonaparte

OPTIMIS – Menlu Swedia Margot Wallstrom (kiri) dan utusan khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths (kanan) menggelar konferensi pers di Kastil Johannesberg sebelum negosiasi untuk mengakhiri perang saudara yang telah merenggut 10 ribu korban jiwa. (FOTO : STINA STJERNKVIST / TT News Agency / AFP)

INDOPOS.CO.ID – Setelah berperang selama hampir empat tahun, akhirnya pemerintah Yaman dan kelompok pemberontak Houthi mau duduk bersama untuk memulai perundingan damai. Negosiasi damai yang dimulai Kamis (6/12) yang diprakarsai Perserikatan Bangsa-Bangsa ini digelar di Swedia.

Dilansir dari AFP, maupun AP, CNN, dan BBC, sebuah tim PBB akan bekerja berdampingan dengan delegasi dari pemerintah Yaman dan pemberontak Houthi di Kastil Johannesbergs di Rimbo, luar Kota Stockholm. Pemilihan Kastil Johannesbergs sendiri untuk memungkinkan pembicaraan informal di luar perundingan resmi, demi mengakhiri perang saudara di negara tersebut. Kastil itu juga dipilih lantaran perundingan itu direncanakan akan berlangsung selama sepekan dengan agenda formal dan informal dengan pembagian beberapa kelompok kerja.

”Akan dibagi menjadi beberapa permasalahan, sehingga akan masuk akal bagi kedua belah pihak untuk duduk bersama untuk berdiskusi dalam kelompok kerja yang terpisah,” ungkap sebuah sumber PBB, Kamis (6/12).

Pihak PBB sendiri kali ini tidak mau terlalu banyak berharap untuk hasil akhir perundingan yang baru mulai dilakukan ini. PBB hanya berharap setidaknya dapat mencegah pertempuran habis-habisan antara pemerintah Yaman yang didukung Koalisi Arab Saudi melawan pemberontak Houthi. Khususnya mencegah pertempuran dahsyat di Pelabuhan Hudaydah di tepi Laut Merah yang kini dikuasai Houthi. Apalagi saat ini ada ribuan warga sipil sedang terperangkap di kota pelabuhan itu. PBB juga berharap dari perundingan itu, setidaknya dapat dicari gambaran solusi politik Yaman di masa depan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Swedia Margot Wallström mengonfirmasi delegasi masing-masing pihak yang akan menggelar perundingan sudah tiba di negaranya pada Rabu (5/12) waktu setempat. Menurut Wallström perundingan ini sangat penting sebagai langkah awal mengakhiri konflik berdarah di Yaman.

”Delegasi Houthi didampingi Utusan Khusus PBB dari Swedia dan Kuwait sudah tiba di Swedia. Pembicaraannya sudah diagendakan, yaitu masalah Yaman,” tulis Wallström di akun twitter-nya seperti dilansir dari Voice of America, Rabu (5/12).

Hal senada disampaikan Deputi Duta Besar Swedia untuk PBB Carl Skau di New York.”Kami mengharapkan pembicaraan negosiasi yang dipimpin PBB ini bisa dimulai. Karena ini untuk pertama kalinya dalam dua tahun, kedua belah pihak mau bertemu,” kata Skau.

Sebelum perundingan itu, utusan Khusus PBB di Yaman, Martin Griffiths telah menggelar pertemuan intensif untuk membujuk militan Houthi yang didukung Iran, maupun membujuk pemerintahan Yaman yang didukung Arab Saudi untuk mau duduk bersama melakukan perundingan demi mengakhiri perang. Walau Houthi sempat ragu untuk melakukan perundingan ini, akhirnya sikap Houthi berubah setelah Saudi menjamin keselamatan delegasi Houthi hingga kembali pulang ke Yaman.

”Pembicaraan ini akan berlangsung pada Kamis, 6 Desember 2018," tulis kantor perwakilan PBB untuk Yaman, Martin Griffiths, seperti yang dikutip dari AFP, Kamis (6/12).

Untuk diketahui, upaya Griffiths untuk mempertemukan kedua belah pihak yang berseteru di Jenewa Swiss pada September lalu berakhir dengan kegagalan. Houthi mendadak menolak menghadiri perundingan yang sudah diagendakan itu. Sebelumnya lagi, kedua belah pihak pernah bertemu selama beberapa pekan untuk bernegosiasi di Kuwait pada 2016, tapi pertemuan tersebut tidak menghasilkan apa-apa alias menemui jalan buntu.

Sebelum pihak Houthi dan pemerintah Yaman menggelar perundingan. Martin Griffiths bersama tim kerja PBB pada Senin (3/12) lalu berhasil mengevakuasi 50 personel Houthi yang terluka dari Kota Sanaa ke Kota Muscat di negara Oman. Setiba di Muscat, 50 militan Houthi itu langsung menjalani perawatan di rumah sakit terbaik di kota itu di bawah pengawasan PBB.

Sementara itu, Juru Bicara Houthi Mohammed Abdel Salam sebelum bertolak ke Swedia mengatakan pihaknya tidak akan menyia-nyiakan perundingan itu. Namun ia meminta seluruh pasukan Houthi tetap waspada terhadap segala serangan dari pemerintah Yaman dan pasukan koalisi pimpinan Saudi. ”Yang jelas kami tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berunding demi memulihkan perdamaian dan menghentikan perang,” lontar Salam, dikutip dari AFP, Selasa (4/12).

Pejabat pemerintah Yaman sendiri, Hadi Haig mengatakan kalau kesepakatan damai disepakati antara pihaknya dengan Houthi, maka Haig menjanjikan akan membebaskan sekitar 2 ribu tahanan perang dari pihak Houthi.

Hal yang sama dijanjikan Houthi yang akan membebaskan mantan Menteri Pertahanan Mahmoud al-Subaihi, adik Presiden Abedrabbo Mansour Hadi, dan mantan pejabat intelijen senior Yaman Nasser yang ditawan pihak mereka.

Seperti diketahui, sejak perang saudara pecah di negeri itu pada 2015 lalu, tercatat hampir 10 ribu orang tewas dan 10.560 orang terluka. Di sisi lain, ribuan warga sipil tewas karena kelaparan. Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) David Beasley mengatakan sekitar 14 juta jiwa atau hampir setengah dari total penduduk Yaman terancam kelaparan akut.

Perang saudara pecah ketika Houthi menyerbu dan menguasai Istana Kepresidenan di Kota Sanaa, membuat Presiden Yaman Abd Rabbu Mansour Hadi kabur ke luar negeri.

Atas permintaan Hadi, koalisi Saudi bersama Uni Emirat Arab dan tujuh negara Arab lainnya balas menggempur Houthi di Yaman dengan serangan udara yang tak hanya menewaskan pemberontak, tapi juga warga sipil. (mel/rmol/jpc/jpg)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #pemerintah-yaman #houthi #internasional 

Berita Terkait

Pengusaha Kanada Ditangkap di Kota Dandong

Internasional

Peretasan di AS Makin Merajalela

Internasional

Siapkan Operasi Baru Di Suriah

Internasional

IKLAN