Sabtu, 15 Desember 2018 12:57 WIB

Internasional

Turki Buru Dua Petinggi Saudi

Redaktur: Indra Bonaparte

BURON : Saud Al Qahtani dan Jenderal Ahmed al-Assiri dinyatakan sebagai buruan aparat hukum Turki, dan meminta pemerintah Kerajaan Arab menyerahkan kedua orang itu. (FOTO : ALARABY.CO)

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah Turki tidak akan membiarkan pembunuh Jamal Khashoggi lolos begitu saja. Buktinya Kejaksaan Istanbul, pada Rabu (5/12) menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Saud Al Qahtani dan tokoh intelijen Jenderal Ahmed al-Assiri.

Dua-duanya adalah orang dekat Pangeran Muhammad bin Salman (MBS). Bersamaan dengan itu, Senat Amerika Serikat (AS) mendesak Presiden Donald Trump menindak tegas Arab Saudi.

’’Masyarakat internasional meragukan komitmen Saudi untuk memproses hukum para pelaku pembunuhan keji tersebut. Karena itu kami menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap dua orang itu ( Qahtani dan Asiri),’’ ujar salah seorang pejabat Kejaksaan Istanbul, kepada media lokal di sana, Rabu (5/12).Menurutnya, bukti-bukti yang dimiliki pihaknya memang mengarah kepada Qahtani dan Assiri.

Melalui surat perintah penangkapan itu, Turki bisa memaksa Saudi melakukan ekstradisi terhadap Qahtani dan Asiri. Karena sesuai konvensi Jenewa, Riyadh mau tak mau menyerahkan Qahtani dan Assiri ke Turki untuk menjalani proses hukum.

Otoritas hukum Turki sadar, jika kedua petinggi Saudi itu dibiarkan, maka keduanya pasti lolos dari kasus pembunuhan itu. Sebab sejauh ini Saudi tak terlihat gejalan untuk menghukum Qahtani dan Asiri. Buktinya hingga saat ini pemerintah Saudi tidak juga memeriksa mereka, apalagi menahan mereka. Keduanya hanya dicopot dari jabatannya. Meskipun belasan pelaku sudah ditahan dan menjalani persidangan di Saudi.

Qahtani memang tak menginjakkan kaki di Turki ketika pembunuhan terjadi. Tapi, dialah yang diduga memandu 15 pelaku di hari pembunuhan Khashoggi. Rekaman audio dan keterangan saksi mata menyebutkan bahwa para eksekutor itu melaporkan aksi mereka kepada Qahtani. Sedangkan peran Asiri diyakini hanya menjadi bumper agar penyidikan tidak mengarah kepada MBS.

Sementara itu, Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS meyakini kalau MBS-lah dalang di balik pembunuhan itu. Hal ini berdasarkan keterangan Direktur CIA Gina Haspel di gedung senat AS. Di hadapan para senator, dia menegaskan bahwa peluang MBS tidak tahu tentang pembunuhan pada 2 Oktober itu nihil alias tidak mungkin.

”Anda pasti sengaja membutakan diri jika tidak berkesimpulan bahwa (pembunuhan) ini di bawah komando MBS,” tegas senator senior dari Partai Republik Lindsey Graham kepada wartawan di Gedung Capitol Hill, Selasa (5/12).

Tanpa tedeng aling-aling, Graham menyebut MBS sebagai seorang pria sinting yang berbahaya dengan bola besi penghancur ditangannya. Graham juga mengatakan kalau MBS telah menempatkan hubungan AS-Saudi yang telah terjalin puluhan tahun kini dalam situasi yang berbahaya.

”Jika pemerintah Saudi berada di tangan pria ini (MBS). Maka saya merasa sangat sulit untuk dapat melakukan banyak urusan, karena saya pikir dia ini gila dan berbahaya,” ujarnya blak-blakan.

Senat menyerukan agar pemerintahan Trump mereaksi tegas temuan Haspel yang telah disampaikan di hadapan para senator tersebut. Senat berharap AS menindak Saudi sekaligus mencabut dukungan terhadap Saudi dalam Perang Yaman. Tapi, mengegolkan permintaan itu tidaklah mudah. Sebab, Trump memilih tetap bersekutu dengan Saudi. (sha/c19/hep/jpc/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #turki #arab-saudi #internasional 

Berita Terkait

Pengusaha Kanada Ditangkap di Kota Dandong

Internasional

Peretasan di AS Makin Merajalela

Internasional

IKLAN