Jumat, 14 Desember 2018 11:43 WIB

Ekonomi

Utang Potensial Membengkak

Redaktur: Jakfar Shodik

Ilustrasi - APBN 2018.FOTO:www.kemenkeu.go.id

INDOPOS.CO.ID – Pemerintah memperkirakan pembayaran bunga utang sepanjang tahun ini akan mencapai Rp 258,86 triliun. Artinya, pembayaran bunga utang bakal membengkak sekitar Rp 20,26 triliun dari asumsi awal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 hanya Rp 238,6 triliun.

Sementara berdasar data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) per 30 November 2018, pembayaran bunga utang pemerintah sudah mencapai Rp 251,1 triliun. Angka realisasi itu sudah melebihi asumsi awal. Bahkan, pembayaran bunga utang itu meningkat 19,3 persen dari periode sama pada tahun lalu Rp 210,5 triliun.

Ani, begitu sapaan akrab Sri Mulyani menyebut peningkatan pembayaran bunga utang pemerintah tidak lepas dari pengaruh kondisi ekonomi global, normalisasi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve. Normalisasi The Fed, memicu kenaikan tingkat suku bunga acuan bank sentral lain, termasuk Bank Indonesia (BI), dan berimbas ke bunga Surat Berharga Negara (SBN).

Selain itu, normalisasi The Fed juga membuat sejumlah mata uang negara di dunia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), termasuk rupiah. ”Pembayaran bunga utang meningkat karena kenaikan kurs rupiah dan suku bunga utang meningkat, sehingga ada kenaikan cukup besar 19 persen,” tutur Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Nusa Dua, Bali, Kamis (6/12).

Kendati pembayaran bunga utang meningkat, namun Ani bilang pembiayaan anggaran dari utang sejatinya justru menurun. Tercatat, sampai 30 November 2018, pembiayaan utang ke APBN baru sekitar Rp 361,5 triliun atau 90,5 persen dari asumsi awal Rp 399,2 triliun. Bila dibanding periode sama tahun lalu, jumlah pembiayaan utang tersebut justru terkontraksi 18,7 persen.

Pemicunya, pembiayaan utang per 30 November 2017 telah mencapai Rp 444,8 triliun. Jumlah tersebut setidaknya sudah 96,4 persen dari target pada tahun lalu sejumlah Rp 461,3 triliun. ”Pertumbuhan pembiayaan utang jadi menurun dibanding tahun lalu. Ada kontraksi dari pembiayaan Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman,” urainya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu bilang penurunan pembiayaan anggaran dari utang dapat terjadi karena pemerintah konsisten menekan sumber penerimaan dari utang, meningkatnya aliran penerimaan negara, hingga dampak dari kenaikan tingkat suku bunga acuan bank sentral nasional.

Lebih rinci, pembiayaan utang dari SBN sebesar Rp 369,4 triliun dan pinjaman minus Rp 8 triliun per akhir bulan lalu. Pembiayaan dari SBN turun 16,5 persen dan pinjaman turun 447,3 persen dari periode sama pada tahun lalu.

Sejatinya, pemerintahan dan otoritas moneter sangat responsif terhadap perubahan kondisi perekonomian global. Itu bisa dilihat bagaimana persepsi perbankan terhadap ekonomi Indonesia. Itu terindikasi saat melakukan semacam roadshow ke luar negeri, masih banyak investor sangat tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia. ”Investor berharap masuk bursa untuk membeli beragam saham seperti property,” tutur Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro. (dai/ant)


TOPIK BERITA TERKAIT: #ekonomi #apbn-2018 

Berita Terkait

Optimistis Iklim Usaha Positif

Ekonomi

Era Digital Penipu Canggih

Ekonomi

Wisata Baru Gading Serpong

Ekonomi

IKLAN