Headline

Abu Sayyaf Diduga Bajak MT Namse

Redaktur: Juni Armanto
Abu Sayyaf Diduga Bajak MT Namse - Headline

BERGERAK - Pasukan elite TNI melakukan simulasi operasi pembebasan sandera oleh kelompok teroris di kapal Hijau Jelita, perairan Kalimantan beberapa waktu lalu. (Foto lain) Ilustrasi pasukan antiteror. Foto : AGOES SUWONDO/RADAR TARAKAN & IST/NET

INDOPOS.CO.ID - Keberadaan kapal Mother Tanker (MT) Namse Bangdzod yang yang bertolak dari Pelabuhan Sampit, Kalimantan Tengah (Kalteng) pada 27 Desember 2018 menuju Tanjung Priok, Jakarta hingga dua pekan ini atau 14 hari masih misterius. Pencarian kapal yang belum membuahkan hasil menjadi tanda tanya besar. Ada apa? Kalangan DPR RI yang belum mendapat kejelasan dari pihak manapun soal keberadaan kapal MT Namse Bangdzod khawatir peristiwa tersebut sengaja ditutup-tutupi. 

Anggota Komisi I DPR RI Jazuli Juwaini mengatakan, pihaknya sampai saat ini belum mendapatkan informasi soal hilangnya kapal MT Namse. "Kami telah menanyakan kepada pihak-pihak berwenang. Tapi sampai saat ini belum mendapatkan informasi apapun terkait hilangnya kapal yang diduga telah dibajak itu," ucapnya saat dihubungi, Rabu (9/1/2019).

Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI itu mengaku khawatir bila kapal tanker yang mengangkut sebanyak 1.754.382 kg minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO)  itu telah benar-benar dibajak. Karena, apabila merunut dari beberapa peristiwa lalu, mayoritas kapal asal Indonesia itu dibajak Kelompok Abu Sayyaf. "Ini pihak pemerintah melalui intelijen dan TNI harus benar-benar menyelidikinya. Jangan-jangan kapal taker itu dibajak oleh Kelompok Abu Sayyaf," kata jazuli. 

Kelompok Abu Sayyaf, sambung Jazuli, bila benar melakukan hal itu lagi, sudah tidak bisa dibiarkan dan TNI harus menindak tegas atau bila perlu menumpasnya. "Ini agar tidak terulang kembali kapal asal Indonesia dibajak," imbuhnya.

Hikmahanto Juwana, pengamat Hubungan Internasional dan militer asal Universitas Indonesia (UI) menilai, kemungkinan kapal MT Namse Bangdzod itu telah dibajak Kelompok Abu Sayyaf.

Dia membeberkan motif penyanderaan yang dilakukan kelompok militan Abu Sayyaf terhadap 14 orang warga negara Indonesia (WNI) beberapa waktu lalu adalah ekonomi.  Dia juga menegaskan, sampai saat ini tujuan kelompok itu adalah perusahaan, bukan pemerintah. "Terlebih sampai saat ini, Kelompok Abu Sayyaf belum menghubungi pemerintah (Indonesia, Red). Jadi, benar tujuan mereka ke perusahaan, bukan pemerintah, jadi jelas motifnya ekonomi,” kata Hikmanto saat dihubungi, kemarin (9/1/2019).

Hikmahanto menjelaskan, bila motif pembajakan adalah politik, pembajak sudah menghubungi pemerintah untuk menawarkan apa yang mereka inginkan. Hal itu seperti yang terjadi pada penyanderaan warga negara Kanada beberapa tahun lalu. "Pemberontak melalui warga Kanada meminta Pemerintah Kanada menghentikan serangan dari basis pemberontak itu. Kalau ini (kapal MT Namse, Red) kan tidak," tutur Hikmanto.

Ia menyampaikan, Indonesia tidak boleh gegabah dalam menurunkan kekuatan militernya dan harus melihat sikap dari negara lain. Pasalnya, korban juga bukan hanya Indonesia, akan tetapi ada negara lain.

Sementara International Chamber Of Commerce (ICC) International Maritime Bureau (IMB) pernah merilis laporan pembajakan dan perampokan bersenjata terhadap kapal antara Januari-Juni pada 2014 sampai 2018. Untuk wilayah Asia, Indonesia berada di posisi paling rawan dibandingkan perairan lainnya seperti Selat Malaka, Malaysia, Filipina, Selat Singapura, dan Thailand. Pada 2014, laporan di perairan Indonesia sebanyak 47 kejadian, lalu pada 2015 (54), 2016 (24), 2016 (19), dan 2018 (25).

Di lain pihak, Kepala Bagian Organisasi dan Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubla Kemenhub) Gus Rional menegaskan bahwa perairan dan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta aman untuk pelayaran. "Iya aman itu," tandasnya.

Gus Rional enggan berspekulasi dugaan perompakan atau pembajakan terhadap kapal MT Namse Bangdzod. Pantauan INDOPOS pada Senin  (7/1/2019) lalu, kawasan Pelabuhan Tanjung Priok tampak aman-aman saja. Aktivitas juga berlangsung seperti biasa.

Sementara Joint War Committee (JWC) sempat memasukkan Pelabuhan Tanjung Priok ke dalam daftar pelabuhan berisiko perang (war risk) yang dirilis pada September 2017. Saat dikonfirmasikan hal itu, Gus Rional menjelaskan, hal itu sudah dicabut sejak lama. "Itu sudah dicabut dan dinyatakan aman," pungkasnya. 

Terkait rilis tersebut, pemerintah melalui Ditjen Hubla Kemenhub memang melayangkan protes kepada JWC dengan menyampaikan data dan fakta bahwa Pelabuhan Tanjung Priok itu aman. Protes itu kemudian ditanggapi. JWC telah menghapus Pelabuhan Tanjung Priok dari daftar hitam pelabuhan berisiko perang. Pada 14 Juni 2018, JWC telah merilis bahwa pelabuhan Tanjung Priok dinyatakan aman untuk kegiatan pelayaran dunia.

JWC merupakan lembaga nongovernment di London, Inggris yang terdiri dari wakil-wakil Lloyds of London Market dan International Underwriting Association (IUA). Sebelumnya, dimasukannya Pelabuhan Tanjung Priok ke dalam daftar war list JWC berdampak adanya biaya tambahan premi asuransi yang dibebankan kepada pemilik kapal. Dengan demikian, menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok tidak kompetitif.

Senada dengan Indonesia Maritime, Logistic and Transportation Watch (IMLOW) yang menegaskan bahwa perairan Laut Jawa dikenal aman. Pasalnya, selain memang sering dilalui kapal, petugas  juga sering berpatroli. "Perairan Laut Jawa itu aman. Tidak pernah terjadi pembajakan atau perompakan," tegas Sekjen IMLOW Achmad Ridwan saat dihubungi INDOPOS, Rabu (9/1/2019).

Karena ia menegaskan, hilangnya  kapal MT Namse Bangdzhod jangan diasumsikan ada pembajakan. "Kita tidak berandai-andai, itu kapal tenggelam atau dibajak. Karena masih misteri, kapalnya juga belum ditemukan," jelas Ridwan.

Menurutnya, belum ketemunya kapal yang mengangkut CPO tidak bisa disebut ada pembajakan.  "Jadi kita harus menunggu hasil dari pemerintah," tegas Ridwan.

Dia menambahkan, kapal tersebut juga kecil kemungkinan karam atau tenggelam. Sebab kalau itu terjadi, tentu ada tumpahan minyak di laut. "Inikan tidak. Nah, kenapa kapal itu belum ketemu, kita tunggu hasil penyelidikan pemerintah," tandas Ridwan.

Lebih lanjut ia mengatakan, Pelabuhan Tanjung Priok memang sempat masuk daftar hitam pelabuhan berisiko perang dari JWC, beberapa waktu lalu. Namun itu kemudian dihapus, setelah pemerintah memprotes.  "Sebab memang nyatanya aman di Pelabuhan Tanjung Priok,  tidak ada apa-apa," pungkasnya.

Bergerak Tipis Sekali

Sementara itu, pantauan lalu lintas maritim melalui situs marinetraffic.com , posisi kapal yang berbobot mati sekitar 1.950 ton dengan panjang 75.15 meter dan lebar 12 meter tersebut tetap berada di Laut Jawa. Namun pergerakannya sangat tipis. Jika pada 7 Januari 2019 sekitar pukul 21.09 berada di posisi S (South atau Selatan) 05°40'29.92 dan E (East atau Timur) 108°22'08.90,  maka pada hari dan jam yang sama, posisi hanya bergeser sedikit sekali, yakni S05°45'48.85 dan E106°52'10.22.

Meski demikian, tim gabungan belum berhasil menemukan keberadaan kapal hingga kemarin. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubla Kemenhub) sampai Rabu (9/1/2019) masih mencari kapal MT Namse Bangdzhod yang dilaporkan hilang kontak. Padahal segenap upaya telah dilakukan. "Kita belum ada update lagi. Masih pencarian, kapal itu belum ketemu ," ujar Kepala Bagian Organisasi dan Humas Ditjen Hubla Gus Rional di Jakarta, kemarin (9/1/2019).

Menurutnya, Kemenhub telah mengerahkan kapal patroli Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) untuk meneruskan pencarian kapal MT Namse Bangdzhod. "Kita sudah coba cari belum diketahui. Katanya di sekitaran Priok, tapi saat kita cari masih belum ketemu," beber Gus Rional.

Sebelumnya Tim Basarnas juga terus mencari kapal MT Namse Bangdzod. "Kami sudah mengeluarkan maklumat pelayaran dan sudah disiarkan di radio-radio pantai. Dengan demikian, jika ada nelayan atau nakhoda yang melihat kapal itu, bisa segera menginformasikannya," kata Kepala Seksi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sampit Baslan Damang di Sampit, Kalteng.

Menurut Baslan, KSOP Sampit terus berkoordinasi dengan semua pihak terkait. Namun, untuk pencarian, dipimpin oleh Basarnas Pusat dibantu pihak lain. Pencarian dengan menyisir Muara Angke hingga areal barat, Karawang Bekasi hingga Marunda dan Timur areal labuh jangkar Tanjung Priok. Namun, belum juga ditemukan. Pencarian akan terus dilakukan dan rencananya diperluas. Hingga saat ini belum diketahui keberadaan kapal yang diawaki satu nakhoda dan 11 anak buah kapal tersebut.

Baslan enggan berspekulasi maupun menduga-duga terkait keberadaan serta penyebab hilangnya kapal beserta awaknya.(aen/dai/ant)

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / Diduga MT Namse Dibajak

Headline / Abu Sayyaf Ancam RI Lagi

Internasional / DPR: Perlu Solusi Jitu Tangkal Penyanderaan Abu Sayyaf

Nasional / Puluhan Anak Filipina Selatan Sekolah di YSB

Nasional / Puluhan Anak Kelompok Abu Sayyaf Sekolahkan  

Headline / Tiga Warga Sulsel Diculik Abbu Sayyaf di Perbatasan Malaysia


Baca Juga !.