Jakarta Raya

Ada Buku Berseri yang Dibuat 1939, Prabowo dan Foke Pernah Beli

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Ada Buku Berseri yang Dibuat 1939, Prabowo dan Foke Pernah Beli - Jakarta Raya

DARI HOBI - Dani di depan kios buku di TMII, kemarin (9/1/2019). Foto : Nasuha/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Ada yang berbeda dari kios buku Dani Sihaloho. Sejumlah buku langka ada. Koleksinya sudah mencapai 20 ribu buku. Sejumlah pesohor negeri disebut-sebut berburu buku langka di kios miliknya.

Sekilas kios buku ini tidak ada beda dengan lainnya. Tapi jika diperhatikan lebih dekat, banyak buku langka bisa ditemukan di kios buku Dani Sihaloho di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Jauh sebelum bergelut dengan bisnis buku, Dani memang hobi membaca.

Sejak duduk di sekolah menengah pertama (SMP), pria 43 tahun itu hobi membaca buku. Menurut pria asal Medan ini membaca adalah menjelajah dan tidak membosankan. Jadi setiap membuka buku, ia akan membaca buku edisi berikutnya dan buku-buku selanjutnya.

“Tidak pernah ada habisnya dengan membaca. Seperti layaknya seseorang yang hobi mendaki gunung, dia akan terus bertualang untuk mendaki puncak gunung satu ke gunung yang lain,” ujar Dani ditemui INDOPOS di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Rabu (9/1/2019).

Pria kelahiran Medan, 15 Januari 1976 ini mengaku, sejak SMP hobi membaca buku novel berseri dan buku sejarah. Pada 1980, buku paling tren salah satunya novel cerita Wiro Sableng 212 dan buku-buku karya Fredi S, Abdulllah Harahap.

“Buku-buku sejarah banyak, awalnya saya suka membaca buku komik “merebut kota perjuangan”. Dan terus berlanjut ke buku-buku sejarah lain, karena dalam buku itu saling berkaitan. Ketika kita temukan kisah baru, kita akan berusaha mencari tahu dari buku sejarah yang lain,” terangnya.

Hobi membaca buku Dani terus berlanjut hingga masuk di SLTA. Dari kebiasaannya membaca buku dari perpustakaan sekolah berlanjut ke rental buku. “Saya akan menghabiskan waktu untuk membaca, saking asyiknya mengikuti cerita buku. Apalagi di kampung jarang sekali ditemukan hiburan,” ucapnya.

Menurut suami Lisnawati, 44, banyak kisah lucu dari kebiasaannya membaca buku di rental. Bersama sahabatnya dia bertukar buku untuk menghemat uang sewa. Dalam satu hari dia bersama sahabatnya bisa menghabiskan waktu untuk membaca dua buah buku. “Kalau buku itu disewa untuk satu hari, maka saya dan sahabat akan bertukar buku. Jadi satu hari kami bisa bacadua buku. Lumayan bisa berhemat uang sewa buku di rental,” ujarnya.

Dani menuturkan, beberapa jenis buku detektif sangat dia sukai. Berangkat dari hobinya membaca, ia membuka usaha jual beli buku langka. Kesuksesannya tidak datang tiba-tiba. Lulus dari bangku STM, putra pertama dari enam bersaudara pasangan almarhum Sulaiman dan Nursani Sinaga, 64, ini harus jatuh bangun membangun usahanya. Pada 1994, Dani sudah merantau ke Jakarta. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dia bekerja di sebuah proyek di Jakarta.“Sampai 1998 saya bekerja di proyek, tapi karena krisis saya berhenti,” katanya.

Saat itu, untuk memenuhi hobi membacanya dia kerap membeli koran. Untuk mendapatkan koran dengan harga murah, biasanya ia membeli koran pada malam hari. “Kalau pagi beli koran paling dapat satu, tapi kalau malam dengan harga sama kita bisa dapat 3 atau 4 koran, jadi bisa berhemat,” katanya.

Kembali pada hobinya sejak saat itu, Dani pun berjualan koran. Pertama membuka lapak koran saat itu di bilangan Slipi, Jakarta Barat. Langgananya cukup banyak. “Setiap pukul 04.00 WIB pagi, saya sudah baca semua koran. Jadi saya mengetahui semua isu di tiap koran, dan ini yang disukai pembeli. Pembeli akan mengetahui isu koran dan akan membelinya,” terangnya.

Saking ramainya pembeli di lapak koran miliknya, aku  Dani, penghasilannya saat itu lumayan. Namun, ia enggan menyebutkan berapa omzet hariannya. “Ya lumayanlah, setara dengan gaji pegawai saat itu,” ucapnya.

Dani mengaku, usahanya berjualan koran berlangsung hingga 2000 akhir. Kemudian memutuskan, beralih membuka usaha jual beli sembako. Modal saat itu dia peroleh dari sisa gaji saat bekerja di proyek apartemen. “Tahun pertama bagus, tapi masuk tahun kedua mulai turun, karena kalah bersaing dengan menjamurnya minimarket,” ungkapnya.

Usaha jual beli sembako ia lakoni dua kali di tempat yang berbeda. Hingga, Dani bertemu dengan mertua adiknya pada 2004 yang berbisnis buku. Dalam tahun yang sama itu pula ia mulai mengumpulkan buku-buku  langka dari pasar loak. Seperti Pasar Senen, Pasar Jatinegara dan Pasar Tanah Abang.“Pada 2005 saya fokus membuka toko buku langka. Pertama buka koleksi hanya 100 buah buku,” ujarnya.

Dani menuturkan, kali pertama membuka usaha jual beli buku fokus pada buku sejarah, budaya, sastra, komik, dan geografi. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak sejarah, dari kerajaan hingga kemerdekaan. “Saya fokus buku bidang sejarah dan budaya. Karena saya ingin memberikan informasi tentang budaya. Apalagi pengunjung TMII masih jarang menemukan buku budaya di tiap anjungan,” ucapnya.

Ia mengaku, banyak tokoh negarawan dan publik figur dari entertainment yang berburu buku langka di kios miliknya. Salah satunya calon presiden Prabowo Subianto. Dia memborong buku-buku dari era Belanda. Sedikitnya empat kardus buku langka dia borong, dengan total harga Rp 23 juta.

“Buku-bukunya misalkan saja buku sejarah kerajaan berbahasa Belanda, dan beberapa buku-buku ensiklopedia lama,” ungkap Dani sembari mengingatnya lagi.  

Kemudian, lanjut Dani, mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke). Saat itu, dia membeli buku “Dagh Register Int Casteel Batavia atau Catatan Batavia”. Buku berbahasa Belanda tersebut ditulis oleh Mr J.A Van Der Chijs dan berisi 1600 halaman dicetak pada 1893. “Buku ini saya peroleh dari pameran-pameran. Dan dibeli sama Pak Foke 2007 lalu sebanyak 17 seri dengan  harga Rp.18 juta,” katanya.

Kalangan artis juga ada. Seperti Gading Marten hingga Jarwo Kuat. Ia menjelaskan, banyak penjual buku yang tidak mengetahui isi buku. Sehingga, tidak sedikit orang menjual buku langka. “Biasanya penjual ini dapat buku dari kakeknya, tapi karena tidak suka membaca, mereka menjual murah.  Dulu harga buku-buku langka belum bisa didapatkan dari media sosial seperti saat ini, jadi saya bisa dapat harga nego,” ujarnya.

Sejak era informasi di media sosial, masih ujar Dani, ia mulai mengurangi bermain di pameran. Karena itu sudah ketinggalan zaman. “Dulu main di pameran sejak 2006, sejak 2014 kita sudah mulai di media sosial karena pameran sudah tidak efektif,” bebernya.

Ia menyebutkan, koleksi langka miliknya seperti majalah yang bercerita tentang etnis Tionghoa tinggal di Jakarta. Buku berseri “Sam Kauw Gwat Po” ini memiliki 9 seri dan dibuat pada 1939. Kemudian Majalah Star Weekly 1953. Majalah ini berisi berita menarik seperti kisah petani Tionghoa di Tangerang.

Kemudian kisah revolusi dalam keluarga Tionghoa yang bercerita tentang bagaimana peran golongan turunan Tionghoa dalam kemerdekaan Indonesia dan soal bendera. Buku ini ditulis oleh M Gouw Soei Tjiang. “Dengan membaca buku-buku langka ini kita mengetahui perubahan-perubahan nama-nama tempat ibadah dulu dan sejarahnya,” ungkapnya.

Dalam toko buku langka milik Dani juga ditemukan buku “Pasang Surut Keradjaan Merina”. Buku ini berkisah tentang peran perantau Indonesia di Madagaskar. Buku ini dikeluarkan oleh Balai Buku Media Jakarta dan ditulis oleh S Tasrif S.H pada 1966.

Agar tidak tertinggal dengan era informasi melalui jejaring sosial, menurut Dani, buku langka miliknya sudah merambah media sosial. Untuk menarik minat calon pembeli, maka setiap buku akan dibeli selalu dibeberkan deskripsinya. “Ya untuk menarik minat dan penasaran calon pembeli kita langsung ceritakan sedikit tentang buku, biasanya calon pembeli tertarik,” ucapnya.

Dani juga mengungkapkan, untuk menambah koleksi toko buku miliknya, dia akan terus memantau pasar buku online dan berkeliling di tiap toko buku langka lainnya. “Kita akan terus hunting, dan pantau terus pedagang online. Karena tidak semua orang yang paham buku langka,” pungkasnya.(*)

 

Berita Terkait

Jakarta Raya / Pesta Musik dan Kuliner Bawa Pengunjung TMII Bernostalgia

Jakarta Raya / Meriahkan Tahun Baru Islam, TMII Gelar Kirab Pusaka

Jakarta Raya / Wahana Pelestarian Budaya, TMII Beri Edukasi Masyarakat

Jakarta Raya / Nitra Mapping Show TMII Sedot Animo Pengunjung


Baca Juga !.