Nasional

Pengadaan Obat Gagal, Penderita HIV/AIDS Bisa Fatal

Redaktur: Dani Tri Wahyudi
Pengadaan Obat Gagal, Penderita HIV/AIDS Bisa Fatal - Nasional

JELASKAN- Direktur Eksekutif LSM Indonesia AIDS Coalition (IAC), Aditya Wardhana, dalam Konferensi Pers Pengadaan Obat ARV gagal, Puluhan Ribu ODHA Terancam Putus Obat, di Jakarta, Kamis (10/1/2019). Foto: Zulhaidah Bahar/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID – Dana yang diberikan kepada Kementerian Kesehatan untuk pembelian obat Antiretroviral (ARV) Fixed Dose Combination ( FDC) jenis Tenovir, Lamivudin, Efavirenz (TLE) bagi orang dengan HIV/ AIDS (ODHA) sebesar Rp 340 miliar harus dikembalikan ke Kementerian Keuangan karena gagal lelang.

Direktur Eksekutif LSM Indonesia AIDS Coalition (IAC), Aditya Wardhana mengatakan jika 43 ribu ODHA terancam mengalami krisis obat. ”Kemenskes melakukan emergency procurement dengan menggunakan dana bantuan donor Global Fund dan membeli langsung di India, sudah sampai Jakarta awal Desember sebayak 220 ribu botol dan hanya cukup sampai dengan bulan Maret 2019,” terangnya dalam Konferensi Pers Pengadaan Obat ARV gagal, Puluhan Ribu ODHA Terancam Putus Obat, di Jakarta, Kamis (10/1/2019)

Persoalan HIV dan AIDS masih menjadi sebuah ancaman bagi kesehatan publik di Indonesia. Berdasarkan data permodelan, diestimasikan ada 631orang dengan HIV dan AIDS pada 2018. Dua kelompok terbesar pengidap HIV dan AIDS didapati ada pada kelompok low risk men dan low risk women.

“Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia masih terkonsentrasi di kelompok resiko tinggi dengan pengecualian di dua wilayah Propinsi di Papua yang sudah mulai memasuki level low level generalized epidemic. Prevalensi HIV di Indonesia pada populasi di atas umur 15 tahun diestimasikan sebesar 0,32 persen dan sebesar 2,3 persen untuk prevalensi HIV di tanah Papua,” paparnya.

Aditya mengatakan, hadirnya pengobatan ARV menjadi sebuah strategi utama dalam mengendalikan infeksi HIV dan AIDS di banyak negara. Di berbagai negara lain, epidemi HIV dan AIDS sudah mulai bisa dikendalikan. Hal ini seiring dengan makin gencarnya upaya promosi pencegahan HIV, meningkatnya cakupan tes HIV serta pemberian obat ARV sebagai sebuah terapi yang ampuh untuk menekan jumlah HIV di dalam tubuh pengidapnya.

”Terapi pengobatan ARVmenjadi salah satu kunci dalam program penanggulangan HIV dan AIDS di seluruh dunia. Pengobatan ARV bisa menekan jumlah HIV dalam tubuh pengidapnya sampai tingkat tidak bisa dideteksi oleh alat tes deteksi jumlah virus HIV (HIV Viral Load),” jelas Aditya.

Orang dengan HIV yang sudah meminum obat ARV secara teratur, menurut Adit, tingkat kesehatannya tidak berbeda dengan orang lain yang tidak terinfeksi HIV. Selain itu, dalam kondisi HIV bisa ditekan sampai tingkat tidak terdeteksi di dalam tubuh, pengidap HIV tidak akan menularkan HIV ini kepada orang lain.

“Sehingga, pengobatan terapi Antiretroviral ini sangat penting bagi orang dengan HIV karena obat ARV kemudian memberikan dua efek kedalam tubuh pengidapnya yaitu sebagai Live-saving Effect dan Prevention Effect,” ujarnya.

Ia menambahkan, hadirnya terapi ARV yang membuat ODHA tetap sehat, juga membantu dalam upaya menurunkan tingkat stigma dan diskriminasi pada ODHA. Karena pada umumnya stigma dan diskriminasi pada ODHA itu lebih tinggi didapati pada ODHA yang sedang dalam kondisi kekebalan tubuhnya menurun dan terlihat sakit.

“Berlawanan dengan angka kasus infeksi baru HIV yang akan mulai menurun di tahun 2020, angka kematian akibat AIDS menunjukkan trend yang sebaliknya. Angkat kematian akibat AIDS diproyeksikan akan terus meningkat sampai dengan tahun 2020,” pungkas Aditya. (zbs)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Daerah / Jawa Barat Bebas HIV/AIDS 2030

Lifestyle / TNI di Perbatasan Ajari Warga Cara Perangi HIV/AIDS

Megapolitan / Sebulan, 750 Odha Berobat ke RSUD Bekasi

Nusantara / Dinkes Kota Kediri Temukan 200 Penderita HIV/AIDS

Nusantara / 2.299 Warga Papua Melayang

Banten Raya / Dinas Kesehatan Temukan 24 Kasus HIV/AIDS Baru


Baca Juga !.