Megapolitan

Dendam Dicerai, Aniaya Anak Sendiri

Redaktur: Syaripudin
Dendam Dicerai, Aniaya Anak Sendiri - Megapolitan

Ilustrasi garis polisi Dok.INDOPOS

INDOPOS.CO.ID -Tragedi kekerasan anak yang dilakukan ibu kandungnya sendiri kembali terjadi. Kali ini, naas menimpa balita bernisial QLR berusia 1,5 tahun. Dia meregang nyawa setelah dianiaya ibu kandungnya sendiri dengan benda tumpul.

Balita perempuan malang itu tewas ditangan Rosita bin Kimin, 28, ibu kandungnya setelah dianiaya di sebuah rumah kontrakan di Jalan H Ikhwan, Kampung Gebang, RT 03/04, Kelurahan Sangiang Jaya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Jumat malam (18/1/2019).

Polisi membekuk pelaku beberapa jam setelah dapat laporan warga langsung menetapkan Rosita sebagai tersangka. Dari penyelidikan awal, diduga Rosita tega menganiaya sang anak karena kesal diceraikan suaminya yang juga ayah kandung QLR.

Ayah QLR merupakan suami kedua Rosita. Setelah suami pertamanya dia ceraikan beberapa tahun lalu. Saat ini, Rosita sudah menikah lagi dengan seorang pria dan belum dikarunia anak. QLR tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya.  

Rosita mengaku selalu terbayang kegeraman kepada sang suami keduanya yang menceraikan dia 1,5 tahun lalu, bila melihat buah hatinya tersebut. Karena itu, penyidik Polsek Jatiuwung berencana memeriksa kejiwaan Rosita ke psikolog.

Alasannya, depresi berat dan dendam membuat perempuan ini tega menganiaya anak kandugnya hingga tewas. Rencananya polisi akan menggandeng tiga psikiater untuk mengetahui gangguan jiwa Rosite tersebut.

Kapolsek Jatiuwung Kompol Eliantoro Jalmaf mengatakan, pemeriksaan kejiwaan Rosita guna mengetahui seberapa besar dendam yang disimpan terhadap suaminya hingga dia menganiaya anaknya sendiri hingga meregang nyawa.

Apalagi aksi menganiaya itu dilakukan secara sadar oleh pelaku terhadap anak kandungnya tersebut. ”Kami khawatir pelaku mengalami kejiwaan dan cenderung mengarah psikopat. Pemeriksaan kejiwaan pelaku penting untuk menguak kasus ini,” katanya Minggu (20/1/2019).

Dari hasil penyelidikan, lanjut Eliantoro, motif Rosita menganiaya putrinya yang lucunya itu karena dendam dengan suami keduanya tersebut. Sebab, ayah korban menceraikan pelaku saat QLR masih orok dan perekonomiannya terpuruk. Ditambah pelaku harus merawat korban sendirian tanpa bantuan suami keduanya tersebut.

"Rosita ini dendam sekali dengan ayah korban. Karena tak terima diceraikan. Pelaku lantas menganiaya korban sampai tewas. Dendam ini dipendam pelaku selama dua tahun,” paparnya. Jadi, setiap kali melihat korban bermain, Rosita kerap tersulut emosi karena terbayang wajah mantan suaminya tersebut.

Akibatnya bogem mentah Rosita sering mendarat ke tubuh bocah malang tersebut. Kekejian pelaku kerap kali diketahui warga sekitar tempat pelaku dan korban.

”Kadang pelaku jengkel sama anaknya itu. Kemarahannya meledak, lalu memukuli korban. Penganiayaan itu terjadi saat suami ketiga pelaku kerja," ungkapnya.

Seperti diketahui, aksi penganiayaan terhadap QLR oleh Rosita terjadi Jumat malam (18/1). Aksi itu terungkap setelah tetangga korban mendengar isak tangis korban yang dipukuli pelaku. Saat ditemukan korban tergeletak di lantai rumah kontrakannya. Saat itu, QLR tak bangun-bangun setelah dipukuli pakai benda tumpul.

Karena khawatir, Rosita lantas membawa sang anak Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bunda Sejati. Namun sayang nyawa korban tak tertolong. Bocah malang itu meninggal dengan tubuh penuh lebam dan luka. Visum menyebutkan penyebab kematian korban akibat hantaman benda tumpul di wajah, dan kepala belakang, punggung, serta kaki. Korban sempat mengeluarkan darah dari hidung.

Warga pun segera melaporkan peristiwa penyiksaan terhadap anak itu ke Mapolsek Jatiuwung. Rosita lantas dibekuk polisi. Akibat perbuatannya, Rosita di jerat Pasal 80 ayat (3) Undang-undang Nomot 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Subsider Pasal 44 ayat (3) Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Ibu anak dua ini diancaman hukuman penjara selama 15 tahun. 

Sementara tetangga korban Diana Olivia mengaku kerap mendengar korban menangis akibat dipukul atau dimarahi Rosita. Aksi tersebut terjadi saat suami ketiga Rosita berangkat kerja. ”Rosita tinggal sama suaminya yang ketiga. Kalau QLR ini anak dari suami keduanya dulu yang sudah cerai,” terangnya.  

Dia juga mengatakan, warga tak berani melerai saat pelaku memarahi atau memukul korban. ”Itu hak Rosita, tetapi kadang kaki anaknya dipukul. Kalau nangisnya kencang sekali dari dalam rumah. Mau ditegok juga tidak berani karena nanti jadi masalah," tuturnya.

Ditambahkan Olivia, jika warga tak menyangka jika Rosita tega menganiaya anak kandungnya itu hingga tewas. Selama ini, katanya juga, pelaku tak pernah memiliki masalah dengan tetangga. Diakuinya, selama tinggal di sana Rosita tak menunjukan sikap temperamental atau pendendam. (cok)

 

 

 

Berita Terkait

Daerah / Sita 11 Kontainer Kayu Ilegal

Nasional / Waktu Penahanan Tersangka Ditambah

Megapolitan / Mabes Turun Tangan, Penyidik Pembunuhan Diganti

Nasional / Cegah Pengaturan Skor Bola


Baca Juga !.