Jakarta Raya

Lebih Mengenal dengan Perhimpunan Seni Pukul Betawi

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Lebih Mengenal dengan Perhimpunan Seni Pukul Betawi - Jakarta Raya

LESTARIKAN BUDAYA - Dedi Hariadi termasuk inisiator PSPB. Foto : Joesvicar Iqbal/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Banyak yang menarik dari Betawi. Di antaranya silat. Setidaknya ada 12 sanggar silat Betawi yang tergabung dalam Perhimpunan Seni Pukul Betawi (PSPB). 

Kicau burung siang itu terdengar bersautan. Tampak salah seorang inisiator berdirinya PSPB, Dedi Hariadi, menikmatinya. Sembari bercerita seputar PSPB. Dia menuturkan, awal berdiri pada PSPB bersamaan dengan Festival Tanjung Barat Ke-2. Sekretariat di Jalan Nangka, No. 51, RT 8/5, Kelurahan Tanjung Barat, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. "Anggotanya PSPB sendiri ada 12 sanggar silat yang ada di Kelurahan Tanjung Barat," urainya saat ditemui, Kamis (24/1/2019). 

Sambil menyeruput kopi hitamnya dan memakan kue cincin, Dedi menambahkan, jadi waktu itu diundang 8 sanggar silat Betawi yang ada di Kelurahan Tanjung Barat. Timbul keinginan untuk melebur jadi 1 dalam komunitas. "Karena visi dan misi kita sama untuk mengembangkan budaya Betawi melalui pencak silat," tuturnya. 

PSPB sendiri identik dengan Jambore Pesilat Betawi. Digelar setiap Agustus. Diundang para pesilat Jabodetabek. Tujuannya untuk melestarikan kembali pencak silat sebagai khasanah budaya Betawi kepada masyarakat luas. "Jambore Pesilat Betawi adalah upaya menyatukan sanggar-sanggar silat yang ada di Kelurahan Tanjung Barat juga melestarikan budaya Betawi. Agar anak cucu kita jangan sampai tidak mengetahui budaya Betawi, pencak silat ini," ulasnya seraya membayangkan anak cucu generasi penerus Betawi harus bertahan dari arus deras budaya asing. 

Seiring berjalannya waktu, kini di dalam PSPB sudah terdiri atas 12 anggota sanggar silat. PSPB sendiri memiliki guru-guru silat di masing-masing sanggar. Dari 12 sanggar silat itu memiliki perbedaan jurus. Tetapi disatukan menjadi gerakan silat yang dimiliki oleh PSPB sendiri menjadi gerakan baku. 

Selain belajar dengan latihan silat. Juga ada latihan khusus untuk palang pintu. Biasanya ada dalam hajatan orang Betawi. Selain itu, PSPB juga memiliki garda. Mereka yang melalui pendidikan khusus itu diseleksi oleh masing-masing sanggar sebagai pengembang budaya Betawi sebagai penjaga lingkungan. 

"Kalau sebuah tingkatan itu, diterima oleh masing-masing sanggar. Yaitu Sanggar Kalimah Pancer, Kelima Pancar, Mustika Bagawat, Satria Betawi, Satria Muda Betawi, Pusaka Gintung, Panca Sukma, Serumpun Bambu, PLSB, Sima Cakra. Setiap Sanggar ini memiliki gerakan yang berbeda-beda," ujar dia. 

Intinya, PSPB setiap bulan melakukan ngobrol dan latihan bareng. Tidak sebatas ngobrol dan latihan silat, serta diskusi, tetapi tetap dibekali ilmu agama. "Tujuannya tetap untuk memajukan, melestarikan budaya," katanya. 

Untuk pemula, mulai mengikuti latihan silat dari tingkatan dasar hingga mahir bisa butuh waktu 4 tahunan. Jadi tidak hanya menguasai gerakan silat, tetapi dapat menguasai alat seperti golok, toya, dan double stik. 

Hanya, PSPB tidak mengajarkan ilmu kebal senjata tajam. "Jadi setiap minggu kita berikan pelatihan di masing-masing sanggar," sambungnya sembari meraih kecamatanya. 

Pihaknya juga mengundang pesilat di luar Kelurahan Tanjung Barat. Untuk diskusi dan bertukar pengalaman. Bahasa yang digunakan juga bahasa Betawi atau Melayu dialek Jakarta atau Melayu Batavia, bahasa yang merupakan anak bahasa dari Melayu. Menurutnya, Suku Betawi merupakan warga asli Jakarta yang memiliki bahasa tersendiri. Bahasa Betawi dikenal dengan logatnya yang khas. 

Dedi kembali melanjutkan, pada saat ujian kenaikan tingkat, PSPB melakukan ujian di luar kota. Pada ujian kenaikan tingkat ini juga akan ada pengenalan, menyatu dengan alam. 

Harapannya ke depan, generasi muda lebih mencintai budayanya baik melalui silat atau main pukul, maupun melalui seni tari, kuliner, dan sebagainya. 

Pihaknya dalam suatu kesempatan juga berkumpul, nongkrong, di Sawung Ciliwung. Tempat kongkow, selain ngopi-ngopi juga disiapkan hidangan kue Betawi. Minuman bir pletok wajib ada, kue pepe, cincin, apem. "Kalau kerak telor jarang. Paling kalau ada even saja," ujarnya tertawa. 

Maret 2019 PSPB akan berpartisipasi dalam Festival Poltangan. Kemudian di Jambore Pesilat Betawi 2019 akan ada giat One Day Golok Betawi. Nanti akan ada pengrajin golok dari beberapa daerah. "Sebelumnya kan panahan," akunya. 

H Ahmad Syaifudin atau akrab disapa Bang Has, selaku ketua PSPB Kelurahan Tanjung Barat menuturkan, sebelumnya pernah ada gelaran pencak silat 11 perguruan silat Betawi dari Jakarta, Depok, dan Pondok Gede. "Ini juga sebagai menyambung silaturahmi kami dari alumni SMA 49 Jakarta. Kita mengisi kegiatan dengan penampilan dari 10 sanggar yang tergabung dari Kelurahan Tanjung Barat," terangnya.

Tak hanya diisi dengan kegiatan UMKM, di Lapangan Bola Sukatani juga digelar panahan. "Ya panahan ini sebagai kegiatan variasi untuk merangsang generasi muda agar mau mencoba latihan memanah.

Bang Has menambahkan, tampilan pencak silat di sini lebih banyak menampilkan seni pukul silat Betawi dengan kategori prestasi. Salah satu sanggarnya seringkali masuk di tingkat nasional antarpelajar.

"Biasanya untuk mengisi kegiatan rutin seminggu dua kali pertemuan. Pada malam Jumat mengaji, dan malam Sabtu latihan gerak. Kita tekankan seni budaya Betawi, olahraga, dan beladirinya," ujarnya.(*)

 

Berita Terkait


Baca Juga !.