Internasional

54 Anggota Ikhwanul Muslimin Ditangkap, Ditengarai Memicu Aksi Unjuk Rasa dan Kekerasan

Redaktur: Achmad Sukarno
54 Anggota Ikhwanul Muslimin Ditangkap, Ditengarai Memicu Aksi Unjuk Rasa dan Kekerasan - Internasional

SIAGA – Pasukan keamanan Mesir saat berjaga-jaga di luar Katedral Natal Kelahiran Kristus yang baru dibangun di ibukota administrasi baru Mesir. Foto: AFP

INDOPOS.CO.ID - Pasukan keamanan Mesir menangkap 54 orang termasuk tersangka anggota Ikhwanul Muslimin. Mereka ditangkap karena berencana melancarkan unjuk rasa dan melakukan kekerasan dalam memperingati pemberontakan tahun 2011.

Kementerian Dalam Negeri, Selasa (29/1/2019) mengatakan kelompok tersebut diarahkan oleh seorang ketua Ikhwanul Muslimin yang bermarkas di Turki. Dalam penangkapan tersebut, petugas menemukan uang untuk sabotase yang.

Pernyataan tersebut diumumkan setelah pasukan keamanan menahan mantan juru bicara aliansi oposisi, Gerakan Demokrasi Sipil, dalam serangan menjelang fajar.

Gerakan tersebut merupakan penggabungan dari kelompok sayap-kiri dan Partai Liberal termasuk Partai Aliansi Sosialis Populer, Partai Demokrasi Sosial Mesir, Partai Roti dan Kebebasan.

Dalam pembicaraannya dengan Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, Presiden Prancis Emmanuel Macron membuat kesimpulan dari tiga hari lawatannya ke Mesir dan pada saat itu dia menyampaikan keprihatinannya atas masalah Hak Asasi Manusia di negara itu.

Sisi yang mendepak Presiden Mohammed Moursi dari Ikhwanul Muslimin pada 2013 dan yang kemudian terpilih sebagai presiden pada tahun berikutnya, mengambil tindakan keras terhadap kaum islamis dan kelompok oposisi liberal.

Ikhwanul Muslimin mendapat kekuasaan di Mesir dalam pemilu modern yang pertama pada 2012, setahun setelah Hosni Mubarak, pemimpin Mesir yang memerintah cukup lama disingkirkan dalam suatu pemberontakan.

Namun gerakan tersebut sekarang dilarang, dan ribuan pendukungnya serta banyak pemimpinnya kini dipenjarakan. Namun Ikhwanul Muslimin membantah keterkaitan mereka dengan kelompok militan dan gerakan mereka adalah untuk politik yang damai.

"Terdapat informasi bahwa para pemimpin yang melarikan diri (Ikhwanul Muslimin) sedang menyusun rencana untuk membuat kekacauan pada Januari dan Februari, seiring dengan peringatan Revolusi 25 Januari," demikian pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri.

Sosok yang dituding berada di balik rencana serangan adalah Yasser al-Omda dengan menyebut bahwa kelompoknya akan menggangu lalu lintas, menutup jalan dan menciptakan kekacauan pada warga.

Pernyataan itu tidak menyebutkan nama-nama mereka yang ditangkap tetapi mengatakan mengambil langkah-langkah hukum terhadap mereka sejalan dengan prosedur keamanan negara.

Mantan juru bicara Gerakan Demokrasi Sipil, Yahya Hussein Abdel Hadi disebut ditahan dalam serangan Selasa pagi, kata Khaled Dawoud angota aliansi.

Negad al-Borai, seorang pegiat dan pengacara Abdel Hadi juga membenarkan penahanan tersebut.

Abdel Hadi telah diperiksa pada November dengan tuduhan menghina presiden, mengganggu perdamaian masyarakat dan menebar berita palsu di Facebook, kemudian dibebaskan dengan jaminan 10 ribu pound Mesir (570 dolar AS).

Dawoud mengatakan belum mengetahui apakah penahahan kali ini terkait dengan penahanan sejumlah tokoh oposisi yang ditahan pada Sabtu setelah merayakan peringatan 25 Januari. Kementerian Dalam Negeri belum memberikan tanggapan atas pertanyaan mengenai hal tersebut. (ant)

Baca Juga


Berita Terkait

Internasional / Hukuman Mati Bagi LGBT Tak Berlaku

Internasional / Kaisar Akihito Lepas Takhta

Internasional / Halangi Pejabat Fatah Tinggalkan Jalur Gaza

Internasional / Pertimbangkan Usulan Pakta Nuklir AS

Internasional / Tambang Batu Bara Meledak, Lima Orang Tewas

Internasional / AS Hentikan Bantuan Militer ke Kamerun


Baca Juga !.