Megapolitan

Atraksi Barongsai Memeriahkan Imlek di Vihara Kong Miao

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Atraksi Barongsai Memeriahkan Imlek di Vihara Kong Miao - Megapolitan

MENARIK - Pertunjukan barongsai di Vihara Kong Miao. Foto : Nasuha/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Perayaan Tahun Baru Imlek menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Tionghoa setiap tahun. Suguhan barongsai tak ketinggalan. Salah satunya disajikan di Vihara Kong Miao dalam memeriahkan Tahun Baru 2570.

Lenggak lenggok gerakannya seakan menghipnotis penonton. Mata yang besar dengan bulu mata lentik berkedip-kedip. Sontak saja tepuk tangan penonton yang menyaksikan pertunjukan barongsai, pecah.

Masyarakat terus berdatangan di vihara yang diklaim terbesar di Jakarta ini. Anak-anak suka ria menyaksikan sajian lantai tarian yang sudah ada sejak dinasti Chin abad ketiga sebelum masehi tersebut. “Itu permen, itu permen,” teriak anak-anak sembari berebut permen yang dilemparkan oleh barongsai.

Masyarakat yang datang ke vihara yang terletak di Ceger, Cipayung, Jakarta Timur itu, tampak antusias menyaksikan dua barongsai yang tengah beraksi. Barongsai berwarna merah dan kuning terus mengikuti alunan musik yang terdiri atas tambur, gong, dan simbal. Secara aktraktif kedua barongsai melakukan permainan dengan lincah.

Ditemui di sela-sela atraksi, Koordinator Sanggar Barongsai Lung San Bio Bobi, 24, mengatakan, ada tiga permainan barongsai. Permainan lantai atau tradisional, permainan meja, dan permainan atas. Untuk pertunjukan kali ini, dia bersama pemain sanggar bermain atraksi lantai. “Kalau untuk pertunjukan permainan lantai relatif mudah. Yang kita pastikan, luas area mendukung. Kalau untuk pertandingan, area memiliki standar 8x8 meter hingga 10x10 meter,” terangnya.

Dalam permainan lantai, menurut Bobi, ada beberapa gerakan yang diperagakan. Seperti gerakan membagikan permen untuk menghibur anak-anak, gerakan mengambil bunga di atas pohon dan gerakan bebas. “Untuk bermain di bio atau kelenteng dan vihara, kita sebelum main akan memberikan penghormatan (pay) dengan gerakan pada dewa-dewa,” katanya.

Ia menjelaskan, gerakan permainan bebas ditentukan oleh luas area (lapangan). Tingkat kesulitan permainan ini terdapat pada gerakan susun tiga. Gerakan ini salah satunya diperagakan saat mengambil angpau. “Untuk menguasai gerakan dalam tari barongsai kami berlatih 3 tahun,” ungkapnya.

Lebih jauh Bobi mengatakan, tarian barongsai bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi memiliki nilai spiritual. Dalam masyarakat Tionghoa, lanjutnya, mempercayai kemalangan dan nasib buruk serta keberuntungan dan nasib baik. “Perlambang naga dalam masyarakat Tionghoa sebagai binatang utusan Dewa. Dan barongsai yang memberikan persembahan uang dalam angpau pengganti buah dan sayuran ke dalam mulut naga,” ujarnya.

Dia menyebutkan, dalam kearifan masyarakat Tionghoa angpau sebagai tanda ucapan syukur untuk para naga. Agar mengusir segala kejahatan atau tolak bala yang datang di tahun berikutnya. “Warga Tionghoa memberikan angpau diyakini akan dikembalikan lebih besar,” ucapnya.

Pria kelahiran 13 Februaari 1995 ini menjelaskan, ada dua jenis barongsai. Singa utara dan singa selatan yang kerap dilihat di pertunjukan barongsai di Indonesia. Ciri singa utara, menurutnya, memiliki surai ikal dan berkaki empat. Penampilannya lebih mirip menyerupai singa. “Singa utara ini lebih dikenal peking sai. Sementara singa selatan memiliki sisik dan bertanduk,” katanya.

Ia menyebutkan, singa selatan memiliki beberapa jenis. Seperti memiliki tanduk lancip, mulut seperti bebek, dahi tinggi dan ekor lebih panjang. Singa ini biasa disebut fut san atau foshan atau fat san. Sementara singa yang memiliki mulut moncong ke depan dan tanduk tidak lancip dengan ekor lebih kecil disebut hok san. “Untuk barongsai fut san harus dimainkan dengan tenaga ekstra, karena kuda-kuda harus kuat dan banyak sekali gerakannya. Sementara untuk barongsai hok san lebih santai,” ungkapnya.

Ia menuturkan, untuk bermain tari barongsai harus menguasai dasar permainan barongsai. Untuk persiapan pentas saat Tahun Baru Imlek 2570 pemain telah mempersiapkan fisik selama tiga bulan sebelumnya. Dan juga berlatih setiap minggu sekali. “Berlatih fisik itu dengan kebugaran seperti lari, push up, dan kebugaran fisik lainnya,” terangnya.

Pada perayaan Tahun Baru Imlek tahun ini, menurut pria yang sudah menjadi koordinator sanggar selama empat tahun, ia sudah pentas di lebih dari sepuluh tempat di Jabodetabek. Biasanya tari barongsai banyak dipentaskan di hotel, sekolah, pusat perbelanjaan, dan vihara.

“Permintaan pentas datang dari bulan lalu. Untuk sekali tampil kami memberikan tarif Rp 3 juta untuk durasi 30 menit, dengan pemain barongsai 4 orang, pengetuk tambur 1 orang, pengetuk simbal 2 orang, dan pengetuk gong 1 orang,” ungkapnya.

Ia mengatakan, dengan durasi waktu tersebut biasanya pemain paling banyak membawakan dua tema permainan. Untuk tema, biasanya menyesuaikan penonton dan tempat. “Di sini kami main permen dan bermain bebas. Karena penonton banyak anak-anak,” ucapnya.

Lebih jauh Bobi menjelaskan, warna pada barongsai melambangkan umur dan karakter barongsai. Untuk barongsai berwarna putih memiliki umur paling tua dan melambangkan kesucian. Barongsai berwarna kuning melambangkan keberuntungan dan ketulusan hati, umurnya juga belum terlalu tua.

“Untuk barongsai berwarna hitam melambangkan keingintahuan tinggi dan memiliki gerakan gesit dan lincah. Sementara warna hijau melambangkan pertemanan, warna emas melambangkan kegembiraan dan warna merah melambangkan keberanian,” bebernya.

Bobi mengatakan, untuk menghasilkan permainan yang baik, harus ada kerja sama antarpemain. Selain itu, harus ada keserasian antara gerakan barongsai dan musik. Dan yang paling penting, menurutnya, pemain harus bisa membuat barongsai seolah-olah hidup. “Ya caranya harus bisa membuat mimik wajah barongsai seolah-olah nyata. Barongsai terlihat marah, takut, bahagia, ragu-ragu, bergerak, dan diam,” ucapnya.

Bobi menyebutkan, untuk ahli bermain barongsai ada beberapa tahap yang harus dikuasai pemain. Berlatih dasar, imbuhnya, sangat menentukan keberhasilan pemain. Ini biasanya harus ditempuh selama satu tahun. “Tahap dasar ini meliputi ketangkasan. Biasanya 6 bulan seorang pemain akan terlihat bakatnya di mana. Tinggal kita perdalam ke tahap penyempurnaan,” pungkasnya. (*)

 

 

Berita Terkait


Baca Juga !.