Kesra

Pentingnya Desain Berwawasan Lingkungan

Redaktur: Ahmad Nugraha
Pentingnya Desain Berwawasan Lingkungan - Kesra

Dwinita Larasati, Dosen dan peneliti Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

INDOPOS.CO.ID – Kemajuan teknologi beberapa dekade terakhir semakin berkembang pesat. Terobosan teknologi ini tak dimungkiri banyak menggunakan sumber daya alam sebagai bahan baku produksi. Puncaknya, limbah proses produksi menyebar ke darat, laut, dan udara. Fenomena ini yang memunculkan konsep proses yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Berwawasan lingkungan yang dimaksud dalam proses pekerjaan produksi memperhatikan hak-hak ekosistem setempat baik manusia, hewan, tumbuhan agar tetap lestari dan dapat hidup berdampingan. Konsep berkelanjutan diharapkan semua pemangku kepentingan produksi menjaga keberlangsungan dan ketersediaan sumber daya alam.

Dosen dan peneliti Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Dwinita Larasati mengatakan, konsep ini mampu menjaga sumber daya alam yang ada secara terus menerus. Baik sebagai sumber daya produksi dan sebagai kelestarian lingkungan. Meski banyak kepentingan yang bersinggungan baik kepentingan pemilik sistem produksi, masyarakat, dan pemerintah.

"Perkembangan desain berkelanjutan kini makin dipahami oleh para pelaku profesi bidang desain. Dengan meluasnya pemahaman mengenai siklus suatu produk, sejak dirancang, diproduksi, ketika dipakai, hingga akhir masa pakainya. Berkenaan dengan material atau bahan baku, pemakaian energi dan air, buangan atau limbah yang dihasilkan, dan seterusnya," ujar Dwinita Larasati kepada INDOPOS saat dihubungi di Jakarta, Rabu (6/2/2019).

Untuk itu, lajut dia, masyarakat umum sebenarnya memiliki peran besar dalam menentukan pilihannya terhadap produk yang akan mereka beli atau dipergunakan. Bahkan juga untuk menjalankan sistem berbagi, atau penggunaan kolektif, terhadap produk atau jasa (product service system, seperti bike sharing, car sharing, dan sejenisnya).

"Masyarakat dapat membekali diri untuk menjadi lebih resourceful terhadap suatu brand, dengan mencari tahu tentang reputasinya atau melacak seluruh sistem pendukung yang memungkinkan keberadaan suatu produk tersebut, sebelum memutuskan untuk membelinya atau menyimpannya di dalam rumah," terangnya.

Industri juga perlu memperhatikan siklus seluruh material yang dipakai dalam memproduksi, menerapkan berbagai strategi berkelanjutan dalam proses produksinya (cleaner production, hemat energi dan air, menggunakan material alternatif, mengelola limbah dengan baik.

Meski mudah menjabarkannya, tetapi hampir pasti akan banyak kendala ketika harus dilakukan dilapangan, apalagi untuk suatu sistem produksi yang sangat besar.

Karena sistem pembuangan yang belum tertib (bahkan masih menghasilkan polusi dalam skala masif) kemasan fisik yang masih boros dalam menggunakan berbagai jenis plastik, busa, styrofoam dan lainnya.

"Pilihan material atau bahan baku produk yang diproduksi secara massal, yang sebagian besar masih bergantung pada SDA tidak terbarukan atau pada SDA terbarukan yang harus dieksploitasi untuk mencapai kuantitas yang diperlukan," jelas Dwinita Larasati.

Menurutnya, upaya pemerintah seharusnya lebih nampak pada peraturan pembatasan volume limbah yang dihasilkan oleh sebuah industri produk dan memberi sanksi bila terjadi pelanggaran, melakukan pengecekan rutin terkait SDA yang menjadi sumber utama suatu produk, meng-endorse produk-produk yang memiliki fitur hemat listrik/air pada pemakaiannya.

"Memudahkan akses terhadap material-material alternatif yang terbarukan, memudahkan atau memfasilitasi proses yang mengangkat suatu produk berwawasan lingkungan berskala prototype. Purwarupa ke skala industri produksi massal," ucapnya.

Desain tidak lepas dari gaya hidup, dan kalau diamati sekarang, orang mulai sadar akan pentingnya membatasi pemakaian kantung plastik dan sedotan plastik sekali pakai, misalkan juga pentingnya mengurangi dan mengelola sampah agar tidak menyumbat got/ sungai yang bisa berujung pada banjir.

"Semua dimulai dari hubungan antara manusia dengan objek benda pakai kesehariannya. Desain yang baik adalah yang dapat mendorong publik untuk memilih gaya hidup berwawasan lingkungan tersebut," tukasnya. (dan)

Berita Terkait

Megapolitan / Tak Jujur di UNBK, Siswa Terancam Sanksi Tegas

Nasional / Perbedaan Pandangan soal Poligami Harus Dihargai

Nasional / Pendidikan Indonesia Semakin Gawat


Baca Juga !.