Headline

Pertamina Condong Main Paksa

Redaktur: Juni Armanto
Pertamina Condong Main Paksa - Headline

Ilustrasi gedung Pertamina

INDOPOS.CO.ID - JALAN Pintu Air, Marga Mulya, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (10/3/2019). Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Sejumlah pria dewasa terlihat  masih asyik bekerja. Suara mesin di balik dinding yang menutupi bangunan itu bak musik cadas yang melengking. Ngikkk. Bangunan tinggi itu berhadapan langsung dengan permukiman padat warga di seberang anak sungai. Tak jauh dari situ, ada Stasiun KA Bekasi. Jaraknya hanya sekitar 150 hingga 200 meter dari lokasi bangunan. Itulah Patraland Urbano Apartment. Megaproyek 28 lantai ini dibangun di atas tanah sekitar 1 hektare (ha). Konon, separo kamar apartamen itu sudah ada pemiliknya. 

Rabu (13/3/2019), nun jauh di pinggiran kota pendidikan, DI Jogjakarta. Kali ini objek penelusuran adalah bangunan Amarta Apartment di Jalan Palagan Tentara Pelajar, Sleman . Apartemen ini dibangun PT Wijaya Karya Realty dan telah diakuisisi PT Patra Jasa melalui PT Patraland. Sejauh ini, konstruksi bangunan tersebut sedang dikerjakan PT Wijaya Karya Realty dengan tingkat penyelesaiannya sudah 82 persen.

Tamansari Urbano. Itulah awal nama pembangunan proyek yang dikembangkan PT Wijaya Karya Building. Pada Mei 2017, PT Patra Jasa melalui anak perusahaannya yakni, Patraland mengakuisisi pembangunan apartemen itu. Setelah diakuisisi, bangunan tersebut diganti namanya menjadi Patraland Urbano Apartment.

Proyek ini merupakan satu dari dari dua proyek properti yang menggunakan anggaran dari PT Pertamina dengan nilai sekitar Rp 1,4 triliun. Sejak akhir tahun lalu, sejumlah 558 unit sudah terjual untuk tower pertama dari tiga tower yang totalnya 1.757 unit oleh Patraland. Proyek tersebut masih dalam proses finishing atau penyelesaian berbagai fasilitas sehingga dapat dihuni pertengahan tahun ini. Bahkan proses serah terima juga telah dilakukan sebanyak 20 persen. Saat ini, Patraland sedang memasarkan tower ketiga sebanyak 511 unit. Penjualannya sudah mencapai mencapai 40 persen. Sedangkan tower kedua, akan dilakukan penjualan setelah tower ketiga habis terjual yang ditargetkan akhir tahun ini.

GE Patraland Jogjakarta Daniel Joko Triyoso mengungkapkan, apartemen ini memiliki dua tower, yakni Yudistira Tower dengan jumlah 506 unit. Sedangkan, Drupadi Tower dengan jumlah 232 unit.

”Itu jumlah unit pembangunannya. Posisi Patraland hanya developer (pengembang). Pelaksana pembangunannya adalah Wijaya Karya. Sedangkan, nama bangunannya Amaparta Apartment. Hanya itu yang bisa saya jelaskan.  Selebihnya silakan konfirmasi ke pusat,” tutur Daniel saat ditemui di lobi utama kantor Patraland di Jogjakarta, sekitar pukul 09.00 WIB, Rabu (13/3).

Daniel enggan memberikan tanggapan lebih jauh soal proses akuisisi dan beberapa hal lainnya. Dia mempersilakan INDOPOS menanyakan langsung kepada jajaran direksi PT Patra Jasa dan Patraland pusat.

”Saya tidak paham dengan itu mas. Mungkin langsung ditanyakan ke pimpinan di Jakarta,” ujarnya.

Sejumlah informasi terkait menyebutkan, Patra Jasa maupun Patraland melakukan teknis pembangunan melibatkan PT Wijaya Karya sebagai pelaksana teknis mulai  1 September 2017 hingga 30 Agustus 2019. Yang jelas, pada 2017, PT Pertamina menyuntikkan dana sebesar Rp 1,4 triliun ke PT Patra Jasa. Anggaran itu kemudian dikucurkan lagi ke PT Patraland untuk mengakuisisi pembangunan dua apartemen tersebut dari PT Wijaya Karya (Wika) Building dan Wika Realty.

Terhadap penggunaan anggaran itu, Direktur Eksekutif Center of Energy Resource Indonesia (CERI) Yusri Usman menilai, investasi properti tersebut tidak layak jadi komoditi bisnis PT Pertamina.

“Diduga ada penyimpangan dari prinsip Good Corporate Governance," beber Yusri. 

Aliran dana itu, kata Yursi, terjadi saat PT Patra Jasa dipimpin oleh Haryo Yunianto sebagai Direktur Utama, sedangkan Direktur Utama PT Pertamina kala itu dijabat Elia Massa Manik. 

"Sekarang Haryo Yunianto sudah menjadi Direktur Aset PT Pertamina," ujarnya.

Yusri Usman memastikan, anggaran triliunan rupiah tersebut digunakan PT Patra Jasa untuk membeli aset yang dibangun PT Wijaya Karya (WIKA). Menurutnya, hanya sebagai modus untuk pembelian aset (apartemen) yang dibangun Wika di Bekasi dan di Jogjakarta.

“Padahal, Patra Jasa tidak punya keahlian bidang properti. Perusahaan ini lebih khusus mengelola hotel-hotel milik Pertamina. Selama ini, itu saja tidak beres," ungkapnya.

Soal proses aliran uang yang digunakan untuk pembangunan dua apartemen itu, Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara mengatakan, sebagai developer, tidak tepat Patra Jasa dan Patraland menggandeng Wika sebagai pelaksana konstruksi. Mengapa? “Ya tidaklah. Ada uang masuk ke Patra Jasa saja sudah bermasalah. Apalagi terus masuk ke anak perusahaannya. Yang paling penting, ini bukan lini bisnis utama Pertamina. Itu juga tidak ada dalam visi misi perusahaan.  Artinya, itu bukanlah prioritas tetapi bisnis yang dipaksakan,” terangnya.

Padahal, menurutnya, Pertamina saat ini membutuhkan dana yang cukup besar untuk pengembangan bisnis utama energi dari hulu ke hilir. Ia lantas mempertanyakan sikap para komisaris seperti Tanri Abeng dan Wakil Menteri ESDM Archandra yang terkesan membiarkan pengucuran uang untuk bisnis di luar visi, misi, dan prospektus Pertamina.

“Ngapain ini perusahaan dibiarkan melakukan sesuatu yang bukan bidangnya,” jelasnya. (bar)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Nasional / Pertamina Bantah Harga Tiket Mahal Sebab dari Avtur yang Naik

Daerah / Kedapatan Gunakan Alat Tambahan, SPBU di Indramayu Disegel

Ekonomi / Hiswana DKI Jakarta Berbagi Bersama Ratusan Anak Yatim

Headline / Pertamina di Ambang Kerugian

Headline / Komisaris Pertamina Saling Lempar

Nasional / Ini Tips Aman Gunakan LPG dari Pertamina


Baca Juga !.