Megapolitan

Direksi Bank DKI Gagal di Fit and Proper Test OJK, Pemprov Didesak Melakukan Evaluasi

Redaktur:
Direksi Bank DKI Gagal di Fit and Proper Test OJK, Pemprov Didesak Melakukan Evaluasi - Megapolitan

Ilustrasi Foto

indopos.co.id - Bank DKI kembali dihantam persoalan. Kali ini, terkait dibatalkannya pengangkatan Direktur Utama Bank DKI Wahyu Widodo, serta jajaran direksi lainnya oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, karena tidak lulus uji kelayakan atau fit and proper test dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sejumlah pihak pun mempertanyakan Sumber Daya Manusia (SDM) Bank DKI secara keseluruhan, apakah sudah memenuhi kriteria atau belum. ”Jika dirutnya saja tidak lolos fit and proper test oleh OJK, maka patut dipertanyakan juga kualitas jajaran SDM lainnya di Bank DKI,” ujar Direktur Eksekutif Jakarta Public Service (JPS) Syaiful Jihad, Selasa (14/5/2019).

Syaiful menilai, jika kualitas SDM buruk, maka kinerja Bank DKI dikhawatirkan juga buruk. Hal ini sangat berbahaya, mengingat Bank DKI adalah perusahaan plat merah yang sangat diandalkan untuk menyumbang pendapatan daerah dan meningkatkan perekonomian masyarakat Jakarta. ”Bank DKI harus kita jaga sama-sama, jangan sampai dikelola oleh orang-orang yang tidak berkompeten,” terangnya.

Lebih lanjut, Syaiful mendesak Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan evaluasi menyeluruh pada Bank DKI. Khususnya kepada jajaran SDM. ”Pemprov tidak bisa main-main,” tegasnya.

Anggota DPRD DKI Jakarta Syarif, mendukung dilakukannya evaluasi pada jajaran Bank DKI. Menurutnya, banyak warga Jakarta yang mempercayakan uangnya disimpan di Bank DKI. ”Jadi jajaran SDM yang mengelola harus yang profesional dong,” tegasnya.

Padahal, Wahyu Widodo baru saja diangkat sebadai Direktur Utama pada 30 Oktober 2018. Wahyu menganttikan posisi yang sebelumnya diduduki oleh Kresno Sediarsi.

Selain mengangkat Wahyu Widodo sebagai Direktur Utama, pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank DKI juga juga mengangkat Babay Parid Wazdi sebagai Direktur Bisnis dan juga mengangkat Zainuddin Mappa Direktur Manajemen Risiko.

Namun, pengangkatan itu dibatalkan yang tertuang dalam surat keputusan pemegang saham di luar Rapat Umum Pemegang Saham (Sirkuler) Bank DKI yang diteken oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Arief Nasrudin tertanggal 8 Mei 2019.
Selain membatalkan pengangkatan Wahyu Widodo sebagai direktur utama, pemegang saham juga membatalkan pengangkatan Erick sebagai komisaris.

Pembatalan tersebut sehubungan dengan surat Kepala OJK Regional 1 Jakarta dan Banten pada 12 Februari 2019 yang mengatakan pengangakatan tersebut perlu dipertimbangkan kembali. Padahal susunan yang dibatalkan merupakan usulan dari Pemprov DKI Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, pembatalan disebabkan Wahyu Widodo ternyata tak memenuhi fit and proper test atau tes kepatutan dan kelayakan OJK. ”Mereka mengikuti proses fit and proper test dan kemudian OJK menyampaikan mereka tidak pas. Tidak lulus. Nah dari situ kita lakukan proses,” ujar Anies, Sabtu (10/5/2019).

Anies tak mengungkapkan proses pemilihan direktur. Ia hanya mengatakan, kini pihaknya harus mencari sosok direktur baru lagi. ”Sesegera mungkin. Mohon doanya, ya,” harap dia.

Sebagai pemegang saham mayoritas Bank DKI, pemprov dan PD Pasar Jaya berhak menunjuk jajaran pejabat pada bank tersebut. Untuk menjalankan bisnisnya Anies Baswedan pun menunjuk direksi sementara.

Karena alasan tersebut, DPRD pun mendesak gubernur menyeleksi calon direksi yang profesional. ”Kita malu juga, masa direksi yang kita usulkan ditolak OJK. Seharusnya sejak awal seleksinya lebih ketat sehingga yang diusulkan tidak ditolak OJK,” kata Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi, Senin (14/5/2019).

Menurut Prasetio, setelah penolakan oleh OJK sebaiknya pemprov membuat seleksi terbuka bagi kalangan perbankan profesional. ”Saya yakin, bila dibuka secara transparan maka akan banyak kalangan profesional perbankan yang berminat mengembangkan bank milik pemprov tersebut,” terangnya. (wok)

Berita Terkait


Baca Juga !.