Headline

Usia hampir Kepala Delapan, Budayawan Betawi Ini Doyan Santap Semua Makanan

Redaktur: Juni Armanto
Usia hampir Kepala Delapan, Budayawan Betawi Ini Doyan Santap Semua Makanan - Headline

Ridwan Saidi

indopos.co.id - Namanya Ridwan Saidi. Usianya hampir kepala delapan. Rambutnya pun telah memutih semua. Namun tidak dengan semangatnya. Budayawan Betawi kelahiran 2 Juli 1942 ini masih energik. Kerap melontarkan kritik sosial politik kepada penguasa.

Ridwan mengaku jarang sakit. Apalagi ke dokter. Dia pun tidak memiliki resep khusus agar tetap dapat beraktivitas. Makanan pun tidak memiliki pantangan. Makanan tanpa MSG atau makanan pedas pun tetap dia santap.

’’Agar tetap sehat kita harus selalu aktif berkarya. Kalau makanan sih tidak ada pantangan,’’ ujar Ridwan.

 Saat ini, Ridwan sibuk sebagai narasumber dan terus berkarya. Seperti menulis buku. Salah satu yang ditulisnya berjudul ’’Sejarah Jakarta dan Peradaban Melayu Betawi’’.

Menurut Ridwan, banyak yang harus diluruskan mengenai sejarah Jakarta.

Ridwan yang lahir 2 Juli 1942 di Gang Arab No.20, Sawah Besar, Batavia Centrum, ini mengatakan salah satu yang harus diluruskan mengenai sejarah Jakarta adalah tanggal perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta. Selama ini HUT Jakarta dirayakan setiap tanggal 22 Juni. Padahal, berdasarkan fakta sejarah, seharusnya ulang tahun Jakarta diperingati setiap 3 September.

Diterangkannya, Jakarta ditetapkan sebagai kota praja oleh mantan Presiden Soekarno pada tanggal 3 September 1945. Harusnya itulah tanggal yang dijadikan sebagai tanggal hari jadi Ibu Kota. Bukan seperti saat ini, yang menggunakan tanggal sebagai HUT tapi tidak tahu bagaimana sejarahnya," kata Ridwan.

Pandangan segelintir orang, yang menyebut bahwa HUT Jakarta 22 Juni, adalah pandangan ngawur. Tanggal 22 Juni 1527 yang dijadikan rujukan menetapkan HUT Jakarta, merupakan tanggal pertempuran antara Fatahillah dengan Portugis, dan pada saat itu Fatahillah dan pasukannya berhasil mengusir Portugis dari Batavia.

Padahal, tegas Ridwan, Fatahillah yang kabarnya berasal dari Demak datang ke Sunda Kelapa Batavia (DKI Jakarta), dengan cara mengusir penduduk asli yang merupakan suku Betawi, sehingga mereka lari ke bukit-bukit dan tersingkir.

’’Saya sebagai anak suku Betawi merasa dihina, dengan menetapkan tanggal 22 Juni sebagai Hari Jadi Kota DKI Jakarta,’’ tegasnya.

Diharapkan Ridwan, Pemprov DKI Jakarta mengacu kepada sejarah yang benar, bahwa Jakarta ini ditetapkan sebagai Kota Praja pada 3 September 1945 oleh Bung Karno. "Karena memang itulah hari jadi yang benar, dan pantas dijadikan sebagai tanggal ulang tahun Jakarta," katanya. (wok)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Asyiknya Bermain dan Belajar di RPTRA Gondangdia (2-Habis)

Megapolitan / Asyiknya Bermain dan Belajar di RPTRA Gondangdia (1)

Opini / Merajut Harmoni Dalam Keragaman

Megapolitan / "Yakin", Burung Cinta yang Dihargai Rp500 Juta Lebih


Baca Juga !.