Headline

Hati Tidak Bisa Dibohongi

Redaktur: Juni Armanto
Hati Tidak Bisa Dibohongi - Headline

Ilustrasi

indopos.co.id - Hati tidak bisa dibohongi. Begitu Lisa Thalia Natalia (39) memiliki prinsip. Walau terlahir sebagai perempuan dari keluarga kurang mampu. Hanya lulusan sekolah dasar. Namun hal itu tidak membuatnya kalap mata. Lalu, menerima ajakan menikah di bawah tangan dari bosnya.

Viralnya kasus penangkapan tujuh pria kewarganegaraan Tiongkok yang menjadi calon pengantin kawin kontrak di wilayah Kalimantan Barat, mengingatkan Nata pada pengalaman hidup yang pernah dialaminya antara 1990-1998.

Saat itu dirinya masih berstatus gadis belia usia 20 tahunan. Merantau jauh dari kampung halaman. Bekerja sebagai penjaga toko di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Barat.

Pemilik toko adalah pria asal Hong Kong yang sudah tinggal dan menikah dengan perempuan keturunan Tionghoa asal Tangerang, Indonesia. Nata menjadi pegawai kepercayaan karena jujur dan ulet bekerja.

’’Bekerja dengan Chinese itu harus jujur, sekali kita bohongi mereka, mereka tidak akan mau percaya dan memperkerjakan kita lagi,’’ kata Nata saat ditemui di Bogor, Sabtu, (15/6/2019).

Etika Nata bekerja inilah yang membuat bos prianya jatuh hati padanya. Apalagi Nata juga pandai masakan Hong Kong yang dipelajarinya dari Popo (ibu dari bos pria).

Selama bekerja, Nata dan teman-temannya tinggal di rumah bos yang menyediakan kamar untuk karyawan toko. Sehingga memungkinkan bagi Nata untuk melihat aktivitas sehari-hari pemilik rumah.

Jika tidak bekerja, kadang Nata suka membantu Popo memasak di dapur. Selama itulah ia mendapatkan resep-resep masakan ala Hong Kong yang membuatnya jago dalam memasak.

Pernah suatu ketika, pembantu rumah tangga terlambat datang, Nata berinisiatif memasak untuk keluarga bosnya. Saat itulah bosnya mencicipi masakannya. Lalu memujinya, karena rasanya yang enak dan khas masakan Hong Kong.

Nata menyadari kalau bosnya suka dengan dirinya, sering memberikan perhatian, dan kepercayaan lebih dibandingkan karyawan lainnya. Usia mereka terpaut 20 tahunan.

Nata ingat persis omongan bosnya ketika mengajaknya untuk menjadi istri simpanannya. Bosnya berkata akan membukakan satu restoran untuk dia, tetapi semua itu harus dilakukan diam-diam. Tidak boleh diketahui siapapun termasuk istri sahnya.

’’Bos saya bilangnya gini, aku suka sama kamu, mau enggak aku bukain restoran kamu yang pegang, tapi diam-diam enggak boleh ketahuan orang lain, termasuk istrinya,’’ kenang Nata yang kini memiliki usaha warteg dan gorengan di Kota Bogor.

Ajakan tersebut memang menggiurkan, tetapi Nata menolak dengan sopan. Alasannya karena hatinya tidak mau, karena hati tidak bisa dibohongi. Ia menganalogikan, rasa penolakan hatinya itu sama ketika seseorang berbelanja di wartegnya.

Orang tersebut tidak menyukai ikan tongkol, tetapi pemilik warteg menawarkan ikan tongkol untuk dimakan. Sama seperti itu rasanya, kalau tidak suka dan tidak nyaman mau diapakan, pasti menolak.

’’Hidup bahagia bukan diukur dari harta, kalau sekarang kita banyak harta tapi hidup tidak bahagia, sama aja bohong, apalagi bahagia di atas penderitaan orang,’’ kata Nata.

Dia tidak ingin mengakhiri masa gadisnya sebagai istri simpanan, apalagi sampai melukai hati istri bosnya yang sudah baik dan percaya dengannya. Hingga akhirnya dia menerima ajakan temannya bernama Mili untuk pindah dan tinggal di apartemen di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Cukup lama Nata menumpang tinggal dengan teman satu kampung yang telah menikah dengan pria asal Korea secara kontrak.

Ia mengetahui langsung rahasia itu dari pengungkapan temannya yang memperlihatkan foto pernikahan di bawah tangan yang dijalaninya, serta lembaran kontrak yang mereka sepakati bersama.

Nata mengatakan pernikahan kontrak itu disepakati tiga tahun lamanya. Selama itu pulalah temannya bertugas sebagai istri pria Korea, melayaninya, membuatkannya makanan, mengurusi keperluannya, seperti halnya tugas istri pada umumnya.

Nata dan temannya mengenal pria Korea itu karena sering ketemu di kerjaan. Pria itu memiliki toko dekat tempat mereka bekerja, juga mengetahui pria itu memiliki istri dan keluarga di Korea.

’’Tugasnya, ya, seperti istri biasanya, tapi ketika suaminya pulang ke Korea, dia (temannya) tidak boleh menghubungi suaminya itu. Hanya menjadi istri ketika suaminya ini ada di Indonesia,’’ kata Nata.

Kehidupan pernikahan kontrak yang dijalani Mili sudah menjadi rahasia umum yang diketahui Nata dan teman-teman di lingkungannya bekerja. Pernikahan diam-diam itu berakhir bahagia setelah tiga tahun.

Mili kembali menikah secara resmi dengan pria Korea tersebut dan diketahui orang tuanya. Nata pun diundang hadir dalam pernikahan resmi tersebut, yang berlangsung secara Islami. Dan kini Mili dianugerahi dua anak buah dari pernikahan resminya. (ant)

 

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / Warning, Perlu Sosialisasi Bahaya Kawin Kontrak

Headline / Apa, Korban Kawin Kontrak Hamil Duluan?

Nusantara / Korban Kawin Kontrak di Tiongkok Sering Disiksa

Headline / Beda Kawin Kontrak dan Nikah Siri

Megapolitan / Pemkab Lebak Larang Kawin Kontrak


Baca Juga !.