Menko PMK: Kearifan Lokal Masyarakat Modal Kuat Hadapi Bencana

pmk

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) (Lima dari kanan ) pada Pertemuan Bilateral bersama UN Assistant Secretary General UNDP Asako Okai, di Kantornya, Senin (23/5/2022). Foto:Ist

INDOPOS.CO.ID – “Kami menegaskan pentingnya kolaborasi (gotong royong) multipihak terhadap upaya membangun ketangguhan masyarakat menghadapi persoalan, termasuk partisipasi Pemerintah, Masyarakat, Dunia Usaha, Akademisi, dan Media (atau disebut Pentahelix),” ujar Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) pada Pertemuan Bilateral bersama UN Assistant Secretary General UNDP Asako Okai, di Kantornya, Senin (23/5/2022).

Motivasi dan semangat yang dilakukan pemerintah menurutnya upaya membangun ketangguhan bangsa melalui pemulihan sektor sosial-ekonomi dari pandemi COVID-19 dan bencana lainnya. Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Indonesia melakukan kolaborasi dengan UNDP sebagai wujud komitmen terhadap implementasi Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (SFDRR) dan Sustainable Development Goals (SDGs).

“Saya mendukung kerja sama terhadap pembangunan berkelanjutan khususnya pada sektor pemulihan dan rekonstruksi bencana, dalam mencapai target SFDRR dalam kerjasama internasional untuk mengurangi kerugian akibat bencana,” lanjut Menko PMK.

Sebagai negara yang berada di ring of fire, Indonesia membutuhkan strategi yang tepat dalam penanggulangan dan pemulihan pasca bencana. Oleh karena itu, World Reconstruction Conference ke-5 menjadi hal penting bagi Indonesia dalam mengumpulkan, menilai, dan berbagi pengalaman dalam pemulihan dan rekonstruksi bencana tersebut.

“Bencana alam dan non alam yang terjadi merupakan masalah bersama. Dengan dilaksanakannya WRC ke-5, diharapkan ketahanan berkelanjutan dapat dikembangkan pada masyarakat pada tingkat global,” ujarnya.

Beberapa tahun terakhir, kejadian bencana di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi. Pemerintah Indonesia terus mendorong agar aksi pengurangan risiko bencana juga sejalan dengan upaya pengendalian perubahan iklim melalui aksi dan partisipasi pada tingkat komunitas seperti Taruna Siaga Bencana, Desa Tangguh Bencana, serta Program Kampung Iklim.

Masyarakat Indonesia juga memiliki kearifan lokal untuk menghadapi berbagai situasi dan ancaman bencana di sekitarnya melalui budaya, bangunan, peralatan tradisional, maupun upaya melestarikan alam. “Kejadian bencana di Indonesia mendorong kami belajar dari pengalaman dalam membangun ketahanan secara kolaboratif yang dapat kami bagikan kepada delegasi-delegasi GPDRR,” jelasnya.

Terdapat 5 sektor pemulihan pasca bencana di Indonesia yaitu Sektor Perumahan & Permukiman, Sektor Infrastruktur Publik, Sektor Ekonomi Produktif, Sektor Sosial, dan Lintas Sektor.
Sementara itu Asako Okai mengatakan, Indonesia memiliki banyak pengalaman mengenai mitigasi, penanganan dan pemulihan pasca bencana. Hal ini tentu sangat baik bagi negara lain yang belum pernah mengalami bencana seperti di Indonesia.

“Saya rasa sangat penting untuk menyiapkan diri dari bencana tidak hanya pada level nasional tapi juga multilevel, untuk meningkatkan public awareness terkait pengurangan risiko bencana,” ungkapnya. (ney)

Exit mobile version